Ragam

Melihat SPPG Pasirkareumbi 03, Antara Gizi Anak dan Ketahanan Sosial Warga Subang

×

Melihat SPPG Pasirkareumbi 03, Antara Gizi Anak dan Ketahanan Sosial Warga Subang

Sebarkan artikel ini

SUBANG, TINTAHIJAU.COM- Pukul tiga pagi, aroma bawang putih dan nasi hangat mulai memenuhi sebuah bangunan sederhana di kawasan Pasirkareumbi, Subang. Beberapa perempuan paruh baya tampak sibuk menyiapkan bahan makanan, sementara di sudut lain tim muda menata boks distribusi.

Di sinilah SPPG Pasirkareumbi 03 Subang bekerja, salah satu dapur pelaksana program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini menjadi sorotan nasional.

Program prioritas Presiden Prabowo Subianto itu tak hanya dipuji karena dampaknya bagi jutaan siswa dan kelompok rentan, tetapi juga dikritisi. Mulai dari isu kualitas menu, higienitas dapur, transparansi anggaran, hingga ketepatan sasaran penerima.

Di tengah riuh perdebatan itulah, dapur kecil di Pasirkareumbi ini memilih jalan berbeda: membuka diri ke publik.

Sejak beroperasi pada 1 September 2025, SPPG Pasirkareumbi 03 telah melayani 4.008 penerima manfaat, terdiri dari siswa sekolah serta kelompok B3: ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Namun yang membuatnya menonjol bukan hanya jumlah penerima. Hampir setiap hari, aktivitas dapur mereka muncul di media sosial: menu yang dimasak, proses pengolahan, hingga distribusi ke sekolah-sekolah. Kolom komentar dibiarkan terbuka, kritik dan saran diterima, bukan disaring.

“Kalau publik percaya, program ini bisa panjang umur,” kata Teti Asriyanti, mitra BGN sekaligus owner SPPG Pasirkareumbi 03.

“SPPG tidak boleh tertutup. Ini uang negara, program negara, jadi masyarakat berhak tahu apa yang kami masak dan bagaimana kami bekerja.” imbuhnya

Bagi Teti, dapur MBG bukan hanya tempat mengolah makanan, tapi ruang membangun manusia. Ia rutin menggelar dialog internal antara mitra, kepala SPPG, akunting, dan ahli gizi. Bahkan, family gathering relawan menjadi agenda berkala.

“Kalau relawannya sejahtera dan merasa dihargai, kualitas makanan juga akan terjaga,” ujarnya.

Pendekatan itu terasa di antara para pekerja dapur.
Mamah Rohamah (57), relawan divisi masak, mengaku tak menyangka masih bisa bekerja di usia yang tak lagi muda.

“Kami dilatih soal kebersihan, cara masak yang benar, tanggung jawab. Di sini bukan asal kerja. Rasanya seperti keluarga,” katanya sambil mengaduk sayur di kuali besar.

Di halaman depan dapur, Farid Muhammad Rizqi (19) menata motor box untuk pengiriman ke sekolah-sekolah. Bagi Farid, MBG bukan hanya soal makan gratis.

“Saya bisa kerja, bantu orang tua, dan ikut kegiatan sosial. Kami sering ikut Jumat Berkah, berbagi ke yatim dan warga sekitar,” tuturnya.

Gerakan “Jumat Berkah” memang menjadi ciri khas dapur ini. Setiap pekan, sebagian relawan menyisihkan waktu dan tenaga membagikan makanan kepada masyarakat kurang mampu di sekitar dapur.

SPPG Pasirkareumbi 03 kini dipimpin oleh Candra Haikhal Kusaeri sebagai Kepala SPPG, didukung Lia Soleha di bagian akunting dan Neli Sri Indahwati sebagai ahli gizi.

Lokasi dapur sementara berada di RM Purnama Lama (Pasar Pujasera), sambil menunggu rampungnya dapur baru di Jl. A. Nanta Sukarya, Kelurahan Pasirkareumbi, Kecamatan Subang.

Di tengah derasnya kritik terhadap pelaksanaan MBG di berbagai daerah, dapur ini sadar satu hal: kepercayaan publik adalah bahan baku yang tak kalah penting dari beras dan sayur.

Di Pasirkareumbi, MBG bukan hanya soal piring makan anak-anak. Ia menjelma menjadi cerita tentang keterbukaan, kerja kolektif, dan harapan, bahwa dari sebuah dapur sederhana, masa depan bisa dirawat, satu porsi gizi dalam satu waktu.