Profil

K.H. Mahrus Amin, Perintis Pesantren Modern dan Arsitek Gerakan Seribu Pesantren Nusantara

×

K.H. Mahrus Amin, Perintis Pesantren Modern dan Arsitek Gerakan Seribu Pesantren Nusantara

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, TINTAHIJAU.COM – Di antara deretan ulama yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan Islam di Indonesia, nama Drs. K.H. Mahrus Amin menempati posisi tersendiri.

Ia bukan hanya pendiri dan pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, tetapi juga penggagas Gerakan Seribu Pesantren Nusantara, sebuah gagasan besar yang mendorong pemerataan akses pendidikan dan dakwah Islam hingga pelosok negeri.

Selama lebih dari enam dekade, K.H. Mahrus Amin mendedikasikan hidupnya untuk dunia pesantren, membina generasi muda, membangun kelembagaan pendidikan, serta menanamkan nilai kemandirian, kebangsaan, dan akhlak. Jejak pengabdiannya menjelma menjadi jaringan pesantren, ribuan alumni, dan warisan pemikiran yang terus hidup hingga hari ini.

Tumbuh dari Desa, Meniti Jalan Ilmu
K.H. Mahrus Amin lahir pada 14 Februari 1940 di Desa Kalibuntu, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Ia merupakan putra dari pasangan Casim Jasim Ahmad Amin dan Hj. Jamilah binti H. Muharom. Sejak kecil, ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang menanamkan nilai agama, kedisiplinan, dan kerja keras.

Pendidikan dasarnya ditempuh di Sekolah Rakyat Islam Losari, Brebes, hingga lulus pada 1954. Bakat dan minatnya dalam bidang keilmuan agama kemudian mengantarkannya ke Pondok Modern Darussalam Gontor, salah satu pesantren modern paling berpengaruh di Indonesia.

Selama enam tahun (1954–1961), ia menempuh pendidikan di Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI), tempat ia tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga kepemimpinan, manajemen pendidikan, dan disiplin organisasi.

Setelah menamatkan pendidikan pesantren, ia melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi di Fakultas Ushuluddin Jurusan Ilmu Dakwah IAIN Jakarta (kini UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). Pendidikan akademiknya diselesaikan pada 1972, membekalinya dengan landasan teoritis dakwah dan pengembangan masyarakat yang kelak menjadi fondasi gerakan pendidikannya.

Merintis Darunnajah dari Nol

Sepulang dari dunia akademik, K.H. Mahrus Amin memilih jalan pengabdian sebagai pendidik. Ia mulai mengajar di lingkungan Darunnajah Petukangan pada awal 1960-an, sebuah kawasan yang saat itu belum berkembang seperti sekarang.

Dari keterbatasan sarana dan sumber daya, ia merintis Pondok Pesantren Darunnajah dengan semangat kemandirian dan visi besar: mencetak santri yang alim dalam ilmu agama, luas wawasan, berjiwa pemimpin, serta mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Pesantren Darunnajah kemudian berkembang pesat, membuka berbagai jenjang pendidikan formal dan nonformal, serta melahirkan ribuan alumni yang tersebar di berbagai bidang: pendidik, dai, birokrat, wirausahawan, hingga tokoh masyarakat.

Tidak berhenti di satu lembaga, ia juga mendirikan Pondok Pesantren Madinatunnajah sebagai bagian dari perluasan misi pendidikan Islam terpadu.
Menggagas Gerakan Seribu Pesantren Nusantara


Salah satu kontribusi terbesarnya adalah lahirnya Gerakan Seribu Pesantren Nusantara. Gagasan ini berangkat dari keprihatinannya melihat masih banyak daerah di Indonesia yang minim akses pendidikan Islam yang layak dan berkelanjutan.

Melalui gerakan tersebut, K.H. Mahrus Amin mendorong para alumni, tokoh masyarakat, dan umat Islam untuk mendirikan pesantren sebagai pusat dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi umat. Baginya, pesantren bukan hanya tempat belajar kitab, tetapi pusat peradaban kecil yang menumbuhkan akhlak, ilmu, keterampilan, dan semangat kebangsaan.

Gerakan ini kemudian menginspirasi berdirinya puluhan bahkan ratusan pesantren baru di berbagai daerah, sekaligus memperkuat posisi pesantren sebagai tulang punggung pendidikan Islam Indonesia.

Ulama, Pendidik, dan Penulis


Di tengah kesibukannya memimpin pesantren, K.H. Mahrus Amin tetap produktif menulis. Karya-karyanya banyak membahas pendidikan pesantren, dakwah, kepanduan santri, hingga kewirausahaan berbasis nilai agama.

Beberapa karya pentingnya antara lain:

  • Khuthbatul ‘Arsy Pekan Perkenalan Pesantren Darunnajah
  • Dakwah melalui Pondok Pesantren: Pengalaman Merintis dan Membangun Darunnajah Jakarta (2008)
  • Pedoman Sabelana Santri Bela Negara
  • Pembinaan Kader Bangsa dan Umat Melalui Pendidikan Gerakan Pramuka Santri (2010)
    K.H. Mahrus Amin Bapak Koperasi Pondok Pesantren Darunnajah Group
  • Kyai Entrepreneur: Social Entrepreneurship Berbasis Nilai-nilai Agama

Melalui tulisan-tulisannya, ia menegaskan bahwa pesantren harus menjadi institusi yang mandiri secara ekonomi, terbuka terhadap perkembangan zaman, namun tetap kokoh memegang nilai-nilai Islam.

Puluhan Tahun Mengabdi


Dalam struktur kelembagaan, K.H. Mahrus Amin mengemban berbagai amanah penting. Ia pernah menjadi Sekretaris II dan Bendahara I YKMI, anggota dan badan pendiri Yayasan Darunnajah, anggota Dewan Nazir, penasihat yayasan, serta pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah sejak 1974 hingga wafat pada 2021.

Lebih dari separuh hidupnya dihabiskan untuk membina santri, membangun sistem pendidikan, dan menata kelembagaan pesantren agar profesional dan berkelanjutan.

Deretan Penghargaan Nasional dan Internasional


Atas pengabdiannya, berbagai lembaga negara dan internasional memberikan penghargaan kepadanya. Di antaranya:

  • Lencana Tunas Kencana dari Menteri Agama RI Maftuh Basuni (2007), penghargaan tertinggi
  • Gerakan Pramuka bagi orang dewasa.
  • Lencana Melati dan Dharma Bakti dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (2008) sebagai tokoh kepanduan Asia-Pasifik.
  • Penghargaan Ikhlas Bhakti dari Menteri Agama RI Suryadharma Ali (2011) atas jasa penguatan kelembagaan dan kualitas SDM pesantren.
  • Bintang Semangat Rimba Perak dari Kerajaan Malaysia (2011), diberikan oleh Yang di-Pertuan Agong Tuanku Mizan Zainal Abidin kepada tokoh penggerak kepanduan.

Penghargaan-penghargaan tersebut mencerminkan luasnya pengaruh K.H. Mahrus Amin, tidak hanya di lingkungan pesantren, tetapi juga dalam gerakan kepanduan dan pendidikan karakter generasi muda.

Wafat dan Warisan Panjang

K.H. Mahrus Amin wafat pada 7 Agustus 2021 di Jakarta, dalam usia 81 tahun. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi dunia pesantren dan pendidikan Islam nasional.

Namun, warisan yang ditinggalkannya jauh melampaui usia biologis. Pondok Pesantren Darunnajah terus berkembang, jaringan pesantren hasil Gerakan Seribu Pesantren Nusantara tetap tumbuh, dan ribuan muridnya melanjutkan estafet dakwah dan pendidikan di berbagai penjuru negeri.

Bagi banyak kalangan, K.H. Mahrus Amin bukan sekadar pendiri pesantren, melainkan arsitek pendidikan Islam modern yang memadukan tradisi, disiplin, manajemen, dan semangat kewirausahaan dalam satu bangunan besar bernama pesantren.

Dalam sunyi pusaranya, jejak langkahnya tetap hidup—di ruang-ruang kelas pesantren, di masjid-masjid kecil di pelosok desa, dan di hati para santri yang pernah ia didik dengan keteladanan.