Megapolitan

‎Dua Tahun Kepemimpinan Eman–Dena, Pengamat Soroti Gaya Komunikasi Politik Bupati Majalengka‎‎

×

‎Dua Tahun Kepemimpinan Eman–Dena, Pengamat Soroti Gaya Komunikasi Politik Bupati Majalengka‎‎

Sebarkan artikel ini

Majalengka, TINTAHIJAU.COM – Memasuki dua tahun masa kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Majalengka, Eman Suherman dan Dena Muhammad Ramdan, sejumlah catatan mulai disorot publik, salah satunya terkait gaya komunikasi politik kepala daerah.‎‎

Pemerhati komunikasi politik, Syamsul Arif Billah, menilai gaya komunikasi Bupati Majalengka cenderung sopan namun terlalu berhati-hati, sehingga berdampak pada kekuatan pesan yang diterima publik.‎‎

“Secara umum, gaya komunikasi politik Bupati Majalengka memang santun. Namun, kesantunan itu cenderung berlebihan dan membuat pesan yang disampaikan kurang kuat secara politik,” ujarnya saat ditemui di Kampus UNMA, Senin (19/1/2026).‎‎

‎‎Narasi Cenderung Berulang‎‎

‎Syamsul yang juga Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Majalengka (UNMA) mengamati, dalam berbagai forum—baik di hadapan ASN, masyarakat umum, maupun ruang-ruang politik—Bupati Majalengka kerap menggunakan pola narasi atau frasa yang sama.

‎“Pesan yang disampaikan cenderung repetitif. Akibatnya, komunikasi publik terasa monoton, kurang dinamis, dan tidak menampilkan karakter kepemimpinan yang kuat,” jelasnya.

‎Dari sisi akademik, Syamsul menilai variasi kosakata dan cara penyederhanaan isu publik masih terbatas. Menurutnya, berbagai persoalan yang diajukan sering kali dijawab dengan pola narasi yang seragam.

‎“Ini menunjukkan penguasaan literasi komunikasi publik yang belum luas. Padahal, kepala daerah dituntut mampu mengemas pesan berbeda untuk isu dan audiens yang berbeda pula,” katanya.

‎Gestur Tubuh Terlalu Merendah

‎Tak hanya soal verbal, Syamsul juga menyoroti komunikasi nonverbal Bupati Majalengka. Gestur tubuh yang terlalu menunduk atau merendah, baik kepada pejabat senior maupun junior, dinilai kurang mencerminkan posisi sebagai pemimpin daerah.

‎“Gestur seperti itu bisa menimbulkan persepsi ragu, kurang percaya diri, bahkan seolah menempatkan diri sebagai bawahan, bukan sebagai pemegang otoritas,” ujarnya.

‎Syamsul menambahkan, sikap terlalu berhati-hati dan sopan berlebihan berpotensi membuat kepala daerah merasa takut salah dalam berbicara. Dampaknya, narasi yang digunakan cenderung aman dan tidak berkembang.

‎“Pilihan kembali ke narasi lama menjadi jalan paling aman, tapi itu justru melemahkan daya kepemimpinan dalam komunikasi politik,” katanya.

‎Kontras dengan Ibu Bupati

‎Menariknya, dalam pengamatan media dan publik, gaya komunikasi istri Bupati Majalengka justru dinilai lebih kuat dan komunikatif.

‎Beberapa indikator yang terlihat antara lain gestur tubuh yang lebih tegap dan tegas, kemampuan menyesuaikan bahasa dengan audiens, serta ekspresi wajah yang lebih hidup. “Secara komunikasi publik, Ibu Bupati terlihat lebih ekspresif dan adaptif terhadap audiens,” ungkap Syamsul.

Dampak Terhadap Persepsi Publik

‎Menurut Syamsul, gaya komunikasi yang repetitif dan gestur yang ragu mungkin tidak terlalu bermasalah saat masa kampanye. Namun, dalam konteks pengambilan keputusan dan penyampaian kebijakan publik, hal itu bisa memengaruhi persepsi masyarakat terhadap wibawa kepemimpinan.

‎“Komunikasi politik yang kuat sangat menentukan tingkat kepercayaan publik terhadap kebijakan pemerintah daerah,” tegasnya.

‎Sebagai penutup, Syamsul memberikan sejumlah rekomendasi untuk penguatan komunikasi politik Bupati Majalengka, di antaranya memperbanyak diskusi lintas kalangan, mengikuti pelatihan public speaking, memperluas kosakata dan variasi narasi, serta menjaga gestur tubuh tetap tegap tanpa menghilangkan sikap hormat.‎‎