JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Kelangkaan chip global akibat melonjaknya permintaan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai berdampak luas, termasuk ke pasar elektronik Indonesia. Produsen chip dunia kini memprioritaskan produksi chip untuk kebutuhan AI dan pusat data, sementara pasokan chip konvensional untuk perangkat konsumen seperti ponsel, laptop, dan peralatan rumah tangga kian terabaikan.
Ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan tersebut mendorong harga chip melonjak tajam. Kondisi ini diperparah oleh tingginya permintaan chip AI dan chip konvensional yang tidak diiringi peningkatan kapasitas produksi.
Associate Market Analyst Devices Research IDC Indonesia, Vanessa Aurelia, mengatakan dampak krisis chip global mulai terasa di dalam negeri. Ia menilai kenaikan harga chip berpotensi mendorong penyesuaian harga gadget, terutama pada segmen perangkat dengan harga terjangkau.
“Sudah terlihat adanya kenaikan harga dari sejumlah vendor dan model terbaru sejak awal tahun ini,” ujar Vanessa seperti dikutip dari laman CNBC Indonesia, Senin (19/1/2026).
IDC mencatat segmen smartphone murah akan menjadi yang paling terdampak. Margin keuntungan vendor di kelas ini relatif tipis sehingga perusahaan sulit menyerap lonjakan biaya komponen.
“Karena itu, kenaikan harga akan lebih terlihat di segmen ini,” kata Vanessa.
Sementara di segmen menengah hingga atas, penyesuaian harga masih bisa dikelola dengan berbagai strategi, seperti pengaturan ulang spesifikasi produk. Meski demikian, sebagian kenaikan biaya tetap akan diteruskan kepada konsumen.
IDC memperkirakan konsumen akan segera merasakan dampak tersebut begitu harga resmi di pasar dinaikkan. Artinya, masyarakat perlu menyiapkan anggaran lebih besar untuk membeli perangkat elektronik baru.
Sejumlah produsen telah mengonfirmasi rencana penyesuaian harga. Pabrikan ponsel asal China, vivo, menyatakan akan menaikkan harga beberapa produknya di Indonesia. PR Manager vivo Indonesia, Alexa Tiara, menyebut kebijakan ini diambil setelah mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk pengelolaan biaya komponen.
“Betul, beberapa produk vivo akan ada penyesuaian harga yang merupakan hasil dari pertimbangan menyeluruh terhadap berbagai faktor,” ujarnya.
Namun, penyesuaian tersebut tidak berlaku seragam. Setiap seri memiliki struktur biaya dan segmentasi pasar yang berbeda, sehingga besaran kenaikan bervariasi.
Hal serupa disampaikan ASUS Indonesia. Head of PR and Digital Marketing ASUS Indonesia, Brama Setyadi, mengatakan dinamika rantai pasok global mendorong perusahaan melakukan penyesuaian harga laptop di Indonesia.
“Penyesuaian harga akan berlaku di seluruh kategori segmen laptop ASUS sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pasokan dan kualitas produk,” ujarnya.
ASUS memastikan kebijakan tersebut akan mulai diterapkan pada kuartal pertama 2026.
IDC memprediksi kondisi kelangkaan memori masih akan berlanjut. Pada semester I 2026, kesenjangan antara permintaan dan pasokan diperkirakan semakin parah, sehingga memicu harga yang lebih tinggi. Situasi ini diperkirakan mulai mereda pada semester II 2026, namun harga chip diproyeksikan tetap tinggi hingga awal 2027.
Salah satu penyebab utama adalah pembangunan pusat data skala besar serta pengalihan investasi produsen memori ke segmen hyperscale dan AI. Pasokan memori kelas bawah seperti DDR4, yang banyak digunakan pada smartphone entry-level, terus dikurangi. Sementara itu, transisi ke DDR5 belum berlangsung secara masif dan masih diprioritaskan untuk kebutuhan AI.
Di saat bersamaan, permintaan dari sektor smartphone, PC, hingga otomotif—khususnya kendaraan listrik—terus tumbuh dan menambah tekanan pada rantai pasok.
Kenaikan harga perangkat baru juga diperkirakan merembet ke pasar perangkat bekas. Di segmen smartphone, mahalnya harga resmi berpotensi meningkatkan permintaan ponsel second yang pada akhirnya ikut mengerek harga. Dampak serupa diprediksi lebih terasa di pasar PC dan komponen komputer bekas yang dinilai sudah lebih matang.
Sumber: CNBC Indonesia




