Teknologi

TikTok AS di Bawah Kendali Oracle, Ini Dampaknya bagi Feed dan Privasi

×

TikTok AS di Bawah Kendali Oracle, Ini Dampaknya bagi Feed dan Privasi

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Versi TikTok di Amerika Serikat kini resmi berada di bawah kendali perusahaan teknologi Oracle milik Larry Ellison, bersama sejumlah perusahaan investasi besar. Perubahan kepemilikan ini berpotensi membawa dampak signifikan terhadap cara kerja aplikasi, termasuk algoritma, kebijakan privasi, hingga moderasi konten.

TikTok memasuki babak baru di Amerika Serikat. Pada 22 Januari 2026, ByteDance—perusahaan induk TikTok asal Tiongkok—menyelesaikan kesepakatan senilai 14 miliar dolar AS dengan sekelompok investor untuk memisahkan operasional TikTok di AS. Kesepakatan ini melahirkan perusahaan patungan bernama TikTok US Data Security (USDS) yang akan mengelola TikTok khusus untuk pasar Amerika.

Dalam struktur kepemilikan baru tersebut, perusahaan investasi Silver Lake, MGX dari Abu Dhabi, serta Oracle masing-masing memegang 15 persen saham. Sementara itu, ByteDance tetap memiliki 19,9 persen saham, sesuai dengan undang-undang Amerika Serikat yang mewajibkan divestasi atau pelarangan TikTok.

Perubahan kepemilikan ini memicu berbagai pertanyaan publik, mulai dari keamanan data, perubahan algoritma, hingga potensi arah kebijakan konten ke depan.


Siapa yang Mengelola TikTok Sekarang?

Perusahaan patungan TikTok USDS dipimpin oleh Adam Presser, mantan kepala global operasional serta kepercayaan dan keselamatan TikTok, yang kini menjabat sebagai CEO. Posisi kepala keamanan dipegang oleh Will Farrell, sebelumnya penanggung jawab keamanan dan privasi TikTok di Amerika Serikat.

Sementara itu, Shou Zi Chew tetap menjabat sebagai CEO TikTok global di bawah ByteDance dan turut duduk dalam dewan direksi TikTok USDS. Ia bergabung dengan enam anggota dewan lainnya yang seluruhnya berasal dari Amerika Serikat, mewakili perusahaan investasi dan teknologi besar.


Hubungan TikTok AS dan TikTok Global

Pengguna tidak perlu mengunduh aplikasi baru untuk menggunakan TikTok versi Amerika. Pembaruan akan dilakukan secara otomatis, dan pengguna tetap dapat melihat konten dari kreator luar negeri.

TikTok USDS menyatakan bahwa aplikasi akan tetap terhubung dengan TikTok global melalui sistem interoperabilitas, sehingga pengalaman pengguna tetap bersifat global. Kreator asal Amerika juga disebut tetap dapat menjangkau audiens internasional.

Namun, TikTok di AS akan menggunakan algoritma versi baru yang dilatih ulang menggunakan data pengguna Amerika. Langkah ini bertujuan meredakan kekhawatiran terkait potensi campur tangan pemerintah Tiongkok dalam distribusi konten. Meski demikian, hingga kini belum ada kejelasan kapan algoritma baru tersebut sepenuhnya diterapkan dan sejauh mana perbedaannya dibandingkan algoritma global.


Perubahan Ketentuan Layanan dan Privasi

Salah satu perubahan paling menonjol adalah kebijakan pengumpulan lokasi geografis presisi pengguna. Data ini hanya akan dikumpulkan jika pengguna memberikan izin secara eksplisit.

Selain itu, TikTok kini juga mencantumkan kebijakan pengumpulan data dari interaksi pengguna dengan fitur berbasis kecerdasan buatan (AI), termasuk pertanyaan, perintah, file, serta respons yang dihasilkan sistem AI.

Meski menuai sorotan, sebagian besar isi kebijakan ini sebenarnya sudah tercantum dalam ketentuan sebelumnya. TikTok sejak lama menyatakan dapat mengumpulkan data sensitif tertentu, seperti informasi kesehatan, orientasi seksual, atau kewarganegaraan, serta dapat membagikan data kepada aparat penegak hukum jika diminta secara sah.


Bagaimana Nasib Moderasi Konten?

Dengan Oracle memegang kendali atas keamanan data dan algoritma, TikTok USDS juga memiliki kewenangan penuh dalam kebijakan moderasi konten di Amerika Serikat.

Kondisi ini memicu kekhawatiran sejumlah pengguna terkait potensi penyensoran, khususnya pada isu-isu sensitif seperti konflik Palestina. Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh kedekatan Larry Ellison dengan Presiden Donald Trump, serta keterlibatannya dalam berbagai agenda politik dan geopolitik.

Meski TikTok belum merinci perubahan kebijakan moderasi, para pengamat menilai arah kepemimpinan baru berpotensi memengaruhi cara platform menangani ujaran kebencian, misinformasi, dan konten politik—terutama menjelang momentum politik besar di AS.


Reaksi Pengguna dan Kreator

Sebagian pengguna menyatakan memilih menghapus aplikasi TikTok setelah munculnya ketentuan layanan baru. Kekhawatiran utama berkisar pada privasi data, perubahan algoritma, dan potensi intervensi politik.

Sejumlah kreator bahkan mengajak pengguna lain memblokir akun resmi Oracle di TikTok serta membagikan panduan untuk menonaktifkan pelacakan lokasi. Namun, hingga kini belum ada data pasti yang menunjukkan penurunan signifikan jumlah pengguna.

Yang paling menjadi sorotan adalah masa depan ekosistem TikTok itu sendiri. Faktor-faktor yang menentukan sebuah video menjadi viral kini berada di bawah kendali pihak baru, dan masih belum jelas bagaimana kekuasaan tersebut akan digunakan.


Sorotan dari Pengamat dan Legislator

Direktur Center for Democracy and Technology, Kate Ruane, menilai kesepakatan ini patut diawasi secara ketat. Menurutnya, perubahan kepemilikan dapat memengaruhi kebebasan berekspresi di platform digital.

Sementara itu, Senator Ed Markey dari Massachusetts menyatakan bahwa kesepakatan tersebut menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Ia mendorong Kongres untuk menyelidiki lebih lanjut guna memastikan keamanan nasional tetap terjaga tanpa mengorbankan akses publik terhadap TikTok.

Sumber: TheVerge