SUBANG, TINTAHIJAU.com — Tangis Maryam (42), warga Dusun Kedung Gede, Desa Mulyasari, Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang, pecah saat banjir menerjang rumahnya pada Jumat (30/1/2026). Luapan Sungai Cipunagara yang disertai jebolnya tanggul membuat air datang mendadak dan meluluhlantakkan permukiman warga.
Tak hanya rumah yang terendam, seluruh harta benda milik Maryam turut raib terseret arus. Uang tunai hingga hewan ternak yang menjadi sumber penghidupannya ikut hanyut.
“Semua tertinggal di dalam rumah. Uang anak saya Rp10 juta juga hanyut, padahal sudah dipegangi. Tadi pagi masih saya simpan, sekarang sudah tidak ada,” ucap Maryam terisak saat ditemui di sekitar rumahnya, Jumat siang seperti yang dilansir detikJabar.
Maryam menuturkan, sejak pagi hari air mulai merembes dari tanggul sungai ke kawasan permukiman. Namun, derasnya debit air membuat tanggul tak mampu menahan tekanan hingga akhirnya jebol dan air langsung menerjang rumah-rumah warga.
Ia mengaku tak sempat menyelamatkan apa pun selain pakaian dan perlengkapan salat. Puluhan domba miliknya terjebak di dalam kandang. Sebagian ternak dilaporkan mati akibat terendam banjir.
“Dombanya ada 19, kemarin sudah dua yang mati. Kalau semuanya mati, saya tidak punya apa-apa lagi,” katanya.
Data dari alat ukur di jembatan Sungai Cipunagara mencatat ketinggian air mencapai batas maksimal daya tampung sungai, yakni 7,40 meter. Tingginya debit air kiriman dari wilayah hulu membuat arus sungai semakin deras dan sulit dikendalikan.
Ketua RW 09 Dusun Kedung Gede, Uci Sanusi, menyebut jebolnya tanggul terjadi sekitar pukul 09.00 hingga 10.00 WIB. Menurutnya, struktur tanggul yang berada di atas gorong-gorong tidak mampu menahan tekanan air yang besar.
“Fondasinya tidak kuat karena air terlalu deras. Begitu jebol, air langsung masuk ke permukiman,” ujar Uci.
Ia menambahkan, wilayah tersebut memang kerap dilanda banjir. Namun, ketinggian air kali ini disebut jauh melampaui kejadian serupa pada tahun-tahun sebelumnya. Di sejumlah rumah, genangan air bahkan mencapai kedalaman hingga dua meter.
“Saya imbau warga jangan lewat sini karena arus sangat deras. Ini luapan Sungai Cipunagara, memang sudah biasa, tapi sekarang airnya jauh lebih besar dari tahun-tahun kemarin,” pungkasnya.
Hingga siang hari, warga terdampak banjir mulai mengungsi ke sejumlah lokasi yang dinilai aman, seperti masjid, aula, kolong jembatan, serta posko pengungsian yang disiapkan oleh pihak kecamatan. Pemerintah setempat masih memantau kondisi dan mengimbau warga tetap waspada terhadap potensi banjir susulan.
Sumber: detikJabar




