Teknologi

Ledakan Penjualan iPhone 17 Dongkrak Kinerja Apple Awal 2026

×

Ledakan Penjualan iPhone 17 Dongkrak Kinerja Apple Awal 2026

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi iPhone 17 Pro dan iPhone 17 Pro Max (Sumber: Apple)

JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Apple Inc. kembali menunjukkan dominasinya di industri teknologi global. Memasuki kuartal pertama tahun fiskal 2026, perusahaan asal Cupertino itu membukukan kinerja keuangan impresif, ditopang melonjaknya minat konsumen terhadap iPhone 17. Produk terbaru tersebut sukses menghidupkan kembali permintaan di sejumlah pasar strategis, terutama China dan India, yang sebelumnya sempat menjadi sorotan investor.

Dalam laporan keuangan periode yang berakhir 27 Desember 2025, Apple mencatat pendapatan sebesar USD143,8 miliar atau sekitar Rp2.300,8 triliun. Capaian ini tumbuh 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan melampaui proyeksi rata-rata analis yang berada di kisaran USD138,48 miliar. Manajemen bahkan memproyeksikan pertumbuhan pendapatan hingga 16 persen untuk kuartal berikutnya, jauh di atas ekspektasi pasar yang hanya sekitar 10 persen.

Chief Executive Officer Apple, Tim Cook, menyebut permintaan terhadap iPhone generasi terbaru sebagai sesuatu yang luar biasa. Pernyataan tersebut tercermin dalam kinerja segmen iPhone yang mencatatkan lonjakan pendapatan 23 persen secara tahunan menjadi USD85,27 miliar, jauh melampaui perkiraan analis. Peningkatan ini sebagian besar dipicu oleh lonjakan pembelian di China, yang mencatat pertumbuhan penjualan hingga 38 persen menjadi USD25,53 miliar.

Kinerja kuat di Negeri Tirai Bambu ini sekaligus menepis kekhawatiran pasar terkait ketatnya persaingan dengan produsen lokal serta tekanan regulasi. Cook menegaskan, iPhone 17 turut mendorong pertumbuhan dua digit jumlah pengguna yang beralih dari perangkat berbasis Android, memperkuat posisi Apple di pasar global.

Namun, di balik catatan keuangan yang solid, Apple tak luput dari tantangan. Perusahaan mengakui adanya gangguan pada rantai pasok, khususnya terkait pasokan prosesor dan chip memori DRAM. Kelangkaan ini dipicu oleh pergeseran prioritas produsen chip besar seperti Samsung Electronics dan SK Hynix yang lebih fokus memenuhi kebutuhan kecerdasan buatan untuk pusat data. Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga memori dalam waktu dekat.

Meski demikian, Apple dinilai memiliki posisi tawar yang kuat sebagai pembeli utama komponen global. Hal ini tercermin dari keberhasilan perusahaan merebut pangsa pasar dari pesaing berbasis Android selama musim liburan. Untuk kuartal kedua fiskal, Apple memperkirakan marjin kotor berada di rentang 48 hingga 49 persen, setelah sebelumnya mencatatkan marjin 48,2 persen—lebih tinggi dari ekspektasi analis.

Analis eMarketer, Jacob Bourne, menilai potensi tekanan marjin akibat kelangkaan chip memori masih membayangi kinerja perangkat keras. Karena itu, pertumbuhan bisnis layanan yang memiliki marjin lebih tinggi dinilai akan menjadi penopang penting bagi keberlanjutan kinerja Apple.

Di sisi lain, Apple terus memperkuat investasi masa depan, terutama di bidang kecerdasan buatan. Perusahaan mengumumkan kerja sama strategis dengan Google untuk memanfaatkan teknologi Gemini dalam meningkatkan kemampuan asisten virtual Siri. Selain itu, Apple juga mengakuisisi startup AI Q.ai dengan nilai sekitar USD1,6 miliar, yang berfokus pada teknologi deteksi suara dan emosi.

Laba per saham Apple tercatat sebesar USD2,84, melampaui konsensus pasar. Basis perangkat aktif Apple di seluruh dunia pun mencapai rekor baru, yakni 2,5 miliar unit. Satu-satunya catatan kurang menggembirakan datang dari segmen perangkat sandang, dengan pendapatan USD11,49 miliar, sedikit di bawah ekspektasi. Keterbatasan pasokan AirPods Pro 3 disebut menjadi salah satu penyebabnya.

Pasar merespons positif laporan kinerja tersebut. Saham Apple sempat menguat signifikan dalam perdagangan lanjutan sebelum akhirnya stabil di zona hijau, mencerminkan optimisme investor terhadap prospek perusahaan ke depan.