KUNINGAN, TINTAHIJAU.com — Di lereng Gunung Ciremai yang sejuk dan dikelilingi hamparan persawahan, sebuah warung kopi sederhana kini menjadi saksi perubahan hidup seorang pemuda asal Kuningan.
Warung bernama Saung Kahiyang itu dikelola oleh Ogan seorang pria berusia 19 tahun yang setiap sore tampak sigap melayani pengunjung sambil menyuguhkan kopi dan kudapan yang ia jajakan.
Dengan senyum yang selalu terjaga, Ogan menyambut satu per satu pembeli yang datang. Bagi pemuda lulusan SMK tersebut, Saung Kahiyang bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan hasil dari perjuangan panjang setelah sempat terpuruk dalam masa pengangguran.
Sebelum merintis usaha, Ogan mengaku pernah menganggur selama dua tahun. Berbagai upaya dilakukan untuk mendapatkan pekerjaan, mulai dari mengirimkan lamaran ke banyak perusahaan hingga mengikuti bursa kerja yang memungut biaya. Namun, semua usaha itu belum membuahkan hasil.
“Sudah ke mana-mana melamar, ikut job fair yang berbayar juga, tapi tetap saja belum dapat kerja,” tutur Ogan seperti yang dikutip dari laman detikJabar, Senin (09/2/2026).
Selama belum memperoleh pekerjaan tetap, Ogan memilih tetap produktif dengan bekerja serabutan. Ia melakukan berbagai pekerjaan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti mengantar tabung gas melon hingga menjadi pengemudi ojek konvensional. Dari pekerjaan tersebut, penghasilannya terbilang minim dan tidak menentu.
“Sempat menganggur dua tahun. Kerja serabutan seperti mengojek atau mengantar gas melon. Sehari paling dapat Rp50 ribu, itu juga tidak menentu,” ujarnya.
Kondisi ekonomi yang pas-pasan serta kekhawatiran terjebak dalam rasa malas mendorong Ogan untuk mencari jalan lain. Ia takut terlalu lama menganggur akan mengikis semangat hidup dan menyeretnya ke lingkungan yang tidak produktif. Dengan modal terbatas, ia pun memutuskan membuka usaha warung kopi di lahan sawah milik orang tuanya.
“Mencari kerja ke mana-mana tidak dapat, akhirnya buka usaha sendiri. Takut kelamaan jadi malas. Kebetulan warkop seperti ini lagi tren. Ini dulunya lahan sawah orang tua, tapi saya tidak bisa bertani, jadi dibuat warung,” kata Ogan.
Pada awal beroperasi, Saung Kahiyang belum langsung menarik banyak pengunjung. Dalam satu hari, jumlah pelanggan yang datang hanya sekitar sepuluh orang dan sebagian besar merupakan petani setempat. Meski demikian, Ogan memilih bertahan dan tetap menjalankan usahanya.
Perlahan, kondisi mulai berubah ketika Saung Kahiyang dikenal luas melalui media sosial, khususnya TikTok. Sejak saat itu, jumlah pengunjung meningkat signifikan. Dari warung kecilnya, Ogan kini mampu memperoleh keuntungan bersih hingga ratusan ribu rupiah per hari.
“Kalau sekarang ramai, bersihnya bisa sampai Rp120 ribu sehari. Lumayan daripada menganggur atau kerja ke orang lain,” tuturnya.
Ke depan, Ogan berharap usahanya dapat terus berkembang. Ia berencana memperluas Saung Kahiyang sekaligus menjadikannya sebagai sarana untuk membantu perekonomian orang tuanya.
“Harapannya semoga bisa lebih ramai lagi, biar bisa bantu orang tua. Warung suasana alam seperti ini masih potensial untuk dikembangkan,” pungkasnya.
Saung Kahiyang yang berlokasi di Desa Setianegara, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan. Warung tersebut buka setiap hari mulai pukul 10.00 WIB hingga 22.00 WIB.





