Literasi

HIKMAH | Empat Golongan yang Dirindukan Surga

×

HIKMAH | Empat Golongan yang Dirindukan Surga

Sebarkan artikel ini

Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah bulan pembuktian: sejauh mana iman kita benar-benar hidup dalam tindakan. Kita semua merindukan surga. Namun, pernahkah kita merenung—apakah surga juga merindukan kita?

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda:
“Al-jannatu musytaqatun ila arba’ati nafar: taali al-Qur’an, wa hafizh al-lisan, wa muth’im al-ji’an, wa sha’im fi syahri Ramadhan.”

“Surga merindukan empat golongan: orang yang membaca Al-Qur’an, menjaga lisan, memberi makan orang lapar, dan orang yang berpuasa di bulan Ramadan.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Hadits ini bukan sekadar kabar gembira. Ia adalah cermin. Ramadan menghadirkan empat jalan itu sekaligus di hadapan kita.

  1. Pembaca Al-Qur’an: Bukan Sekadar Musiman

Ramadan identik dengan Al-Qur’an. Masjid ramai dengan tadarus, media sosial penuh kutipan ayat.

Namun pertanyaannya, apakah Al-Qur’an hanya kita dekati saat Ramadan?
Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Ra’d: 28:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Al-Qur’an bukan hanya untuk dilantunkan, tetapi dihidupkan. Opini ini sederhana: jika kita ingin dirindukan surga, maka jadikan Al-Qur’an sebagai kebutuhan, bukan kewajiban sesaat. Jangan tunggu waktu luang untuk membaca, tetapi luangkan waktu untuk membacanya.

  1. Menjaga Lisan: Ujian Terberat di Era Digital

Puasa melatih kita menahan lapar. Tetapi lebih berat dari itu adalah menahan kata-kata.
Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh pada puasanya yang sekadar meninggalkan makan dan minum.” (HR. Bukhari)

Di era media sosial, menjaga lisan berarti juga menjaga jempol. Ramadan seharusnya menjadi momentum detox dari ghibah, fitnah, ujaran kebencian, dan komentar yang menyakiti. Jika lisan adalah cermin iman, maka Ramadan adalah saat membersihkannya.

  1. Memberi Makan Orang Lapar: Spirit Solidaritas

Ramadan mengajarkan empati. Kita merasakan lapar agar memahami mereka yang kelaparan setiap hari.

Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)

Memberi makan bukan sekadar berbagi takjil. Ia adalah sikap hidup. Ia adalah keberpihakan pada yang lemah. Di tengah kesenjangan sosial, Ramadan mengajarkan bahwa surga merindukan orang-orang yang peduli, bukan yang sibuk sendiri.

  1. Orang yang Berpuasa: Lebih dari Sekadar Menahan Lapar

Puasa Ramadan adalah ibadah istimewa. Dalam hadits qudsi, Allah berfirman:
“Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun puasa yang dirindukan surga bukan puasa formalitas. Ia adalah puasa yang melahirkan takwa, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 183: “Agar kamu bertakwa.”

Takwa itulah tujuan akhirnya. Jika setelah Ramadan kita tetap mudah marah, ringan menghina, enggan berbagi, dan jauh dari Al-Qur’an, maka mungkin kita hanya mendapatkan lapar—bukan cinta surga.

Ramadan bukan hanya tentang masuk surga, tetapi tentang menjadi pribadi yang layak dirindukan surga.

Empat golongan itu bukan mustahil. Membaca Al-Qur’an bisa kita mulai malam ini. Menjaga lisan bisa kita latih dari status berikutnya. Memberi makan bisa dimulai dari satu paket sederhana. Berpuasa bisa kita jaga kualitasnya, bukan hanya kuantitasnya.

Surga adalah janji Allah. Tetapi menjadi hamba yang dirindukan surga adalah pilihan kita.


Ramadan tinggal hitungan hari. Pertanyaannya: kita hanya ingin merindukan surga, atau ingin menjadi yang dirindukan surga?