Di sebuah sudut Dusun Kertamukti, Desa Blanakan, angin laut berembus pelan menyapu halaman rumah yang kini tampak baru. Dindingnya kokoh, atapnya rapi, dan lantainya tak lagi berdebu.
Jumat pagi (27/2/2026) itu menjadi hari yang tak akan dilupakan oleh Bapak Udin dan Ibu Een.
Rumah yang sebelumnya jauh dari kata layak, kini berdiri sebagai simbol harapan baru.
Program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) yang digagas oleh Polres Subang menghadirkan perubahan nyata bagi keluarga sederhana di Kecamatan Blanakan tersebut. Tepat pukul 10.00 WIB, Kapolres Subang, AKBP Dony Eko Wicaksono, menyerahkan langsung kunci rumah hasil renovasi kepada pasangan penerima manfaat.
Suasana haru tak terbendung ketika prosesi gunting pita dilakukan. Warga sekitar turut menyaksikan, sebagian mengabadikan momen, sebagian lagi hanya tersenyum lega melihat perubahan yang terjadi. Bagi Udin dan Een, rumah ini bukan sekadar bangunan, melainkan tempat memulai hidup yang lebih tenang dan bermartabat.
Sebelumnya, kondisi rumah mereka memprihatinkan. Atap kerap bocor saat hujan turun, dinding rapuh dimakan usia, dan lantai yang tak layak membuat aktivitas sehari-hari terasa berat. Kini, semuanya berubah. Rumah yang lebih sehat dan aman memberi rasa nyaman yang selama ini mereka rindukan.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakapolres Subang, para Pejabat Utama dan perwira, Camat Blanakan, Kapolsek Blanakan, Kepala Desa Blanakan beserta perangkat desa, serta masyarakat setempat. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, tetapi menjadi bukti kolaborasi dalam menghadirkan solusi nyata bagi warga.
Dalam sambutannya, Kapolres Subang menegaskan bahwa kehadiran Polri di tengah masyarakat tidak hanya sebatas menjaga keamanan dan ketertiban. Melalui program sosial seperti Rutilahu, Polri ingin memastikan bahwa tugas kemanusiaan juga berjalan beriringan dengan tugas penegakan hukum.
“Polri harus menjadi bagian dari solusi. Tidak hanya hadir ketika ada persoalan keamanan, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan uluran tangan,” ungkapnya.
Program Rutilahu ini menjadi jembatan yang mempererat hubungan antara kepolisian dan masyarakat. Ketika aparat dan warga berjalan berdampingan, tercipta rasa saling percaya yang menjadi fondasi lingkungan yang aman dan harmonis.
Bagi Udin dan Een, rumah baru ini adalah awal. Awal untuk hidup lebih sehat, awal untuk membesarkan keluarga dengan lebih nyaman, dan awal untuk menatap masa depan dengan keyakinan bahwa mereka tidak sendiri.
Di Dusun Kertamukti pagi itu, sebuah rumah berdiri bukan hanya dari semen dan bata, tetapi dari kepedulian dan gotong royong.





