SUBANG, TINTAHIJAU.COM – Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sutaatmadja (STIESA) Subang menghadirkan terobosan akademik yang membedakannya dari kampus lain.
Mahasiswa tak hanya lulus dengan ijazah sarjana, tetapi juga berpeluang mengantongi sertifikat kompetensi resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Skema ini terintegrasi dalam program unggulan Campus, Company and Country Connection (C4) yang dirancang untuk memastikan lulusan siap kerja, memiliki pengalaman industri, sekaligus diakui secara kompetensi nasional.
Penegasan itu disampaikan Wakil Ketua I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan STIESA Subang, Dr. Gugyh Susandy, dalam sosialisasi akademik di aula kampus.
“Program Campus, Company & Country Connection (C4) adalah desain akademik unggulan STIESA. Kami mengintegrasikan kampus, dunia industri, dan jejaring antarnegara dalam satu ekosistem pembelajaran berkelanjutan,” ujar Dr. Gugyh.
Penguatan terbaru C4 hadir melalui National Certified Competency Program (NCCP) berupa sertifikasi BNSP yang mulai dijalankan pada 2025. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya menyelesaikan studi akademik, tetapi juga mengikuti uji kompetensi nasional sesuai standar industri.
Sertifikasi difokuskan pada tiga bidang utama: marketing, akuntansi, dan keuangan. Dengan sertifikat BNSP, lulusan memiliki pengakuan kompetensi resmi yang dapat langsung digunakan untuk melamar kerja, membangun karier profesional, menjadi freelancer, maupun wirausahawan.
“Mahasiswa kami tidak cukup hanya punya ijazah. Mereka harus punya bukti kompetensi yang diakui negara. Itu sebabnya sertifikasi BNSP kami integrasikan dalam sistem akademik,” tegasnya.
Program ini juga telah disosialisasikan kepada forum HRD di Kabupaten Subang untuk memastikan link and match dengan kebutuhan industri. Melalui mekanisme talent pool, kampus memfasilitasi penyaluran lulusan bersertifikasi ke perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja kompeten.
STIESA bahkan menargetkan lulusan berada pada kualifikasi level 7 dengan kombinasi pengalaman dan sertifikasi, sehingga berpeluang memiliki penghasilan minimal dua kali UMR.
Dr. Gugyh menegaskan, penguatan magang internasional, student mobility, dan sertifikasi BNSP merupakan respons atas kebutuhan industri sekaligus regulasi pemerintah yang mendorong perguruan tinggi lebih adaptif terhadap kebutuhan pengguna lulusan.
Seluruh program C4 disebut telah terintegrasi dalam biaya pendidikan dan tidak membebani biaya tambahan. STIESA juga membuka akses luas bagi mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP).
“Mahasiswa STIESA harus siap kerja, siap bersaing, dan siap berjejaring di tingkat ASEAN. Di sini, mereka tidak hanya lulus dengan ijazah, tetapi juga dengan sertifikat kompetensi yang diakui negara,” tegasnya.
Dengan skema tersebut, STIESA Subang menegaskan posisinya sebagai kampus progresif yang memastikan lulusannya tak sekadar sarjana, melainkan tenaga profesional bersertifikasi.





