Pemerintahan

Stok BBM RI Hanya Cukup 23 Hari, Pemerintah Soroti Keterbatasan Kapasitas Tangki

×

Stok BBM RI Hanya Cukup 23 Hari, Pemerintah Soroti Keterbatasan Kapasitas Tangki

Sebarkan artikel ini
Foto: Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat konferensi pers terkait Pengaturan Kuota BBM Non-Subsidi di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (19/9/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

JAKARTA, TINTAHIJAU.com – Pemerintah mengungkapkan bahwa cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional saat ini berada pada posisi yang hanya mampu mencukupi kebutuhan konsumsi selama kurang lebih 23 hari. Kondisi ini ditegaskan bukan karena adanya gangguan pada pasokan minyak, melainkan akibat terbatasnya infrastruktur penyimpanan energi yang dimiliki Indonesia.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa ketersediaan stok saat ini masih dalam kategori aman sesuai dengan regulasi. Ia memaparkan bahwa selama ini standar cadangan nasional memang menyesuaikan dengan kemampuan fasilitas penampungan yang ada di dalam negeri.

“Terkadang orang mengatakan kita harus menyimpan bahan bakar untuk 60 hari. Tetapi di mana kita akan menyimpannya? Kita sama sekali tidak memiliki kapasitas penyimpanan yang cukup,” kata Bahlil saat memberikan keterangan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Kendala Infrastruktur Menjadi Tantangan

Menurut Bahlil, fasilitas penyimpanan yang ada saat ini maksimal hanya sanggup menampung stok untuk kebutuhan 25 hari. Oleh karena itu, pemerintah menetapkan standar cadangan nasional di kisaran 20 hingga 23 hari.

“Kapasitas penyimpanan kami selama bertahun-tahun terbatas maksimal sekitar 25 hari, sehingga standar cadangan nasional ditetapkan sekitar 20 hingga 23 hari. Saat ini kami berada di angka 23 hari, yang sudah melebihi batas minimum,” ujarnya.

Isu ketahanan energi ini menjadi sorotan tajam seiring memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memunculkan kekhawatiran akan penutupan Selat Hormuz. Jalur pelayaran vital tersebut merupakan urat nadi bagi sekitar 20% pengiriman minyak mentah dunia.

Bahlil pun tak menampik bahwa keterbatasan ruang simpan ini merupakan titik lemah strategis bagi Indonesia jika krisis global benar-benar terjadi. “Ini adalah masalah geopolitik. Jika terjadi krisis atau konflik, cadangan minyak dan kapasitas penyimpanan kita hanya akan bertahan sekitar 21 hari,” ungkapnya.

Strategi Penambahan Kapasitas dan Diversifikasi Impor

Guna memperkuat kedaulatan energi, pemerintah tengah merancang pembangunan fasilitas penyimpanan strategis, salah satunya di pulau yang berdekatan dengan Singapura. Proyek ini diproyeksikan mampu mendongkrak kapasitas cadangan nasional hingga 30 sampai 40 hari ke depan.

Langkah ini diharapkan memberikan keuntungan ganda bagi Pertamina:

  • Efisiensi Biaya: Memberikan ruang untuk membeli minyak dalam jumlah besar saat harga stabil.
  • Kemandirian: Mengurangi ketergantungan pada pasar spot serta ketergantungan pada Singapura yang saat ini memasok sekitar 60% impor BBM Indonesia.

Selain membangun fisik tangki, pemerintah juga mulai melakukan diversifikasi sumber energi. Pembelian minyak mentah dan bensin yang sebelumnya didominasi dari Timur Tengah kini mulai dialihkan sebagian ke pemasok di Amerika Serikat dan wilayah Asia Tenggara guna memperluas jangkauan pasokan.