Profil

Melacak Jejak Sambas Mangundikarta, Gema Suara di Udara Mendengung Abadi dalam Ingatan Keluarga

×

Melacak Jejak Sambas Mangundikarta, Gema Suara di Udara Mendengung Abadi dalam Ingatan Keluarga

Sebarkan artikel ini

SUBANG, TINTAHIJAU.com — Kala mentari merangkak naik menuju ufuk siang, keheningan memeluk erat peristirahatan Dungus Wiru. Di bawah naungan dahan-dahan renta yang rimbun, sebentuk rindu mengumpulkan sebuah keluarga besar pada sebidang pusara. Kelopak demi kelopak bunga ditaburkan perlahan, jatuh bagai rintik gerimis kenangan, mengiringi bait-bait doa yang mengalun khusyuk membelah sunyi.

Mereka menempuh jarak dari riuhnya Jakarta, semata-mata demi memeluk kembali bayang sang penutur cerita—pria yang tak hanya menghangatkan ruang keluarga mereka, namun pernah merajai ruang dengar seantero Nusantara melalui getar suaranya di radio dan layar kaca: Sambas Mangundikarta.

Bagi trah Mangundikarta, ziarah ini bukanlah sekadar ritus yang berulang. Ia adalah titian rindu, sebuah upaya menenun kembali serpihan ingatan tentang seorang ayah, kakek, sekaligus sang legenda penyiaran yang telah memahat namanya dalam prasasti sejarah media ibu pertiwi.

Dari Gelombang Revolusi Menuju Corong RRI

Kisah Sambas merenda untaian kata di udara tak bermula di tanah yang damai, melainkan di tengah gemuruh panik revolusi kemerdekaan. Antara tahun 1946 hingga 1949, ia menyabung nyawa di balik corong Radio Perjuangan Jawa Barat, menggema bersama sang pejuang, Mustopo. Gema radio itu layaknya detak jantung perlawanan, berpindah-pindah dari Subang, menyusuri Madiun, hingga ke Blitar, mengikuti derap langkah perjuangan yang tak kenal lelah.

Di sanalah, di tengah desing peluru dan debu revolusi, asmaranya dengan mikrofon mulai bersemi.

Kala badai di tubuh negeri mulai reda, cintanya pada dunia suara kian tak terbendung. Tepat pada Agustus 1952, Sambas menambatkan hatinya di Radio Republik Indonesia (RRI) Bandung. Di studio itu, ia menjelma menjadi mata dan telinga masyarakat—sebagai reporter, penyiar, hingga pembawa warta. Suara baritonnya yang berat, dalam, dan berwibawa seketika menyihir ribuan pasang telinga di berbagai pelosok. Langkahnya pun sempat membawanya merantau ke RRI Samarinda dan RRI Cirebon, sebelum takdir kembali memanggilnya ke panggung penyiaran nasional.

Sang Pencerita Olahraga yang Menghidupkan Dahaga

Namun, di gelanggang olahragalah roh Sambas seolah menemukan tarian terbaiknya.

Dengan lengking bariton yang bertenaga dan diksi yang menari-nari, ia memiliki magis untuk “memindahkan” gemuruh stadion langsung ke ruang tamu para pendengarnya. Setiap kali ia berkisah tentang sengitnya perebutan bola di rumput hijau atau laju peluru kok bulu tangkis, masyarakat seolah duduk di bangku penonton, menahan napas bersamanya.

Satu keping memori yang bertahta paling megah dalam hidupnya adalah kala ia menjadi saksi mata dan penutur dalam perebutan Thomas Cup pertama yang dihelat di tanah air pada 1961. Semenjak hari itu, namanya terukir abadi sebagai pelukis pertandingan; seorang reporter yang piawai mengubah laga biasa menjadi sebuah epos yang mendebarkan.

Meniti Cahaya di Layar Kaca Nasional

Zaman berganti, dan ketika layar kaca mulai memancarkan pendar cahayanya di Indonesia, Sambas turut melangkah sebagai pionir yang merintis jalan. Usai menamatkan asa di Akademi Penerangan pada 1962, ia melabuhkan diri di Televisi Republik Indonesia (TVRI).

Di sana, kariernya mekar sempurna. Ia memangku amanah sebagai Kepala Seksi Hiburan dan Olahraga pada 1963–1967, lalu dipercaya sebagai koordinator penyiar. Wajah dan suaranya lantas menjadi sahabat karib keluarga Indonesia dari senja era 70-an hingga 90-an. Sebagai seorang yang telah lama malang melintanf didunia media saat itu,

Sebagai mata-mata bangsa di kancah dunia, ia mengabarkan deretan peristiwa bersejarah:

  • Gempita Thomas Cup 1970
  • Tensi All England Championships (1976, 1977, 1981)
  • Semangat Uber Cup di Tokyo (1981)
  • Hingga asa di Pra-Piala Dunia Singapura (1977)

Tak hanya itu, sosoknya kian lekat dengan denyut nadi rakyat kecil lewat rentetan program yang mengakar, seperti “Dari Desa ke Desa” dan gelung dialog “Klompencapir”. Melalaui acara Dari Desa ke Desa Sambas juga pernah menerima ucapan terima kasih dan rasa bangga dari Presiden Soeharto kala itu.

Senandung Nada Sang Pencipta “Manuk Dadali”

Siapa sangka, di balik lugasnya seorang pembaca warta, bersemayam jiwa seniman yang lembut?

Sambas menorehkan tinta emas dalam tembang Parahyangan. Ia adalah karsa di balik mahakarya “Manuk Dadali”, lagu kebanggaan tatar Sunda yang tak lekang ditelan zaman, yang dahulu sempat merajai puncak rindu RRI Bandung di awal 1960-an. Tangannya pula yang menenun nada untuk “Peuyeum Bandung”, “Sapunyere Pegat Simpay”—lagu-lagu yang hingga kini masih setia mengalun di embusan angin Pasundan.

Tawa di Ruang Tengah dan Hangatnya Secangkir Kasih

Jika di luar ia adalah milik bangsa, maka di dalam rumah ia adalah lautan kasih yang sederhana.

Di balik pamornya yang mentereng, pria kelahiran Bandung, 21 September 1926 ini adalah pelita yang selalu menyala dengan humor dan canda. Derai tawa adalah bahasa cintanya pada keluarga. Menurutnya, merawat kejenakaan adalah rahasia penawar usia, yang membuatnya selalu tampak bugar melampaui angka tahunnya.

Hatinya terlampau luas, bahkan untuk makhluk-makhluk tak bersuara. Kucing yang bermanja, burung yang berkicau, hingga ayam di pelataran adalah saksi bisu keseharian sang legenda.

Cintanya pada filosofi kehidupan terwujud dalam untaian nama anak-anaknya yang diawali kata “Kris”. Sebilah keris warisan leluhur yang disimpannya erat menjadi perlambang utamanya: ketajaman budi, kegunaan bagi sesama, dan sebuah tameng pelindung keluarga. Putera-puterinya—Aries Kriswandi, Atiek Kriswanti, Anan Kriswana, Is Kriswara, Eded Krisyadi, Inge Krisyani, dan Yan Yan Krisyana —kini mewarisi darah seninya, merengkuh panggung musik hingga layar peran.

Sementara dirinya sendiri? Ia pernah berseloroh sambil tersenyum merendah. “Aku ini hanya bisa main gitar,” ujarnya suatu senja, “Itu pun gitar tua,” selorohnya mengundang senyum yang takkan pernah pudar.

Simpul Tali Kasih yang Tak Pernah Putus

Setelah peziarahan yang menggetarkan batin itu usai, keluarga besar Sambas merajut kembali silaturahmi di meja makan salah satu rumah makan di bilangan Jalan Otto Iskandardinata, Subang. Ada tiga keluarga besar Mangundikarta yang hadir yakni Sambas Mangundikarta, Sulaeman Mangundikarta dan Sutisna Mangundikarta.

Diiringi aroma hidangan, kenangan-kenangan usang kembali menari-nari di udara. Ada mata yang berkaca-kaca mengenang bariton saktinya di radio. Ada pula tawa yang renyah tumpah ruah mengingat rentetan banyolannya di sudut ruang keluarga. Inge Krisyani, adalah salah satu putri Almarhum Sambas yang dengan sigap membuat suasana di tempat itu menjadi begitu hangat dan penuh keakraban, tindakan spontanitasnya telah membuat suasana menjadi begitu riang tatkala ia menyanyikan lagu Manuk Dadali ciptaan ayahandanya.

Pada kesempatan itu pula Inge menyampaikan harapannya pada penulis akan adanya perhatian dari pemerintah Kabupaten Subang, ia tidak menuntut, namun sebelumnya ia telah dijanjikan bahwa nama Sambas Mangundikarta akan dijadikan nama salah satu jalan di Subang.

Bagi keluarga Mangundikarta, Sambas lebih dari sekadar nama besar yang dielu-elukan zaman. Ia adalah warisan peluh kerja keras, ketulusan mencintai profesi, dan tungku perapian yang selalu menghangatkan. Barangkali, warisan itu tak melulu ditulis dengan tinta emas dalam buku sejarah dunia. Namun bagi mereka yang ruhnya pernah bersentuhan dengannya, rekam jejak Sambas Mangundikarta akan terus berdetak dalam setiap hembusan cerita, abadi dalam ingatan, dan mengakar dalam silaturahmi yang menolak untuk mati.

Penulis: Kin Sanubary | Editor: Oki Rosgani