Entertainmen

Muhamad Ilham, Remaja asal Pangandaran yang Setia Jadi Dalang dan Pengrajin Wayang

×

Muhamad Ilham, Remaja asal Pangandaran yang Setia Jadi Dalang dan Pengrajin Wayang

Sebarkan artikel ini
Ilham saat memegag wayang (Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar)

PANGANDARAN, TINTAHIJAU.com – Di era ketika riuh rendah dunia digital merajai jemari muda-mudi, sebuah sudut sunyi di Pangandaran, Jawa Barat, justru melantunkan balada yang berbeda. Di sana, di atas sebuah ranggon—saung sederhana beralaskan papan kayu yang dibalut anyaman bambu pelukan sang ayah—seorang remaja sedang merajut kisah cinta yang tak biasa.

Ia adalah Muhamad Ilham Alfarizi. Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, siswa kelas XI IPS SMAN 1 Parigi ini memilih untuk memadukan denyut nadinya dengan nafas tradisi yang mulai lamat-lamat terdengar: dunia perwayangan.

Ketika malam meluruh, kedua tangannya bergerak begitu luwes, seolah-olah menari bersama takdir. Gerakannya terlatih, matanya menatap tajam, dan ekspresinya menyatu tanpa sekat dengan karakter kayu yang ia mainkan. Di atas panggung kecil buatan ayahnya itu, Ilham tidak sedang memainkan boneka; ia sedang meniupkan ruh kehidupan pada mahakarya budaya Sunda yang telah diakui UNESCO sebagai warisan dunia.

Benih Asmara dari Batara Rama

Kisah asmara antara Ilham dan wayang bukanlah cinta pandang pertama yang datang saat dewasa. Benih itu telah tertanam jauh di masa silam, saat usianya baru memijak tiga tahun. Kala itu, sang ayah, Yadi, memberikan sebuah hadiah sederhana yang kelak mengubah seluruh jalan hidup putranya: sebuah wayang tokoh Batara Rama, sang ksatria bijaksana titisan Dewa Wisnu dalam wiracarita Ramayana.

“Padahal dulu saya hanya memberikan hadiah berupa wayang tokoh Batara Rama dan wiracarita Ramayana,” kenang Yadi dengan nada haru, tak mengira hadiah kecil itu akan tumbuh menjadi cinta yang menghunjam sedalam ini.

Seiring sang waktu mengetuk usia, cinta itu kian merimbun. Saat sekolah dasar, kemana pun kakinya melangkah, wayang tak pernah lepas dari pelukannya. Menyadari getar jiwa sang anak yang menggebu, Yadi membawa Ilham menemui Abah Enju, seorang maestro dan dalang sepuh di Pangandaran. Pertemuan itu bagaikan gayung bersambut di tengah gersangnya regenerasi.

Di bawah bimbingan Abah Enju, Ilham tidak hanya belajar bagaimana menjadi seorang sutradara alam semesta wayang (dalang), tetapi juga belajar mencintai proses melahirkannya. Dari sebongkah balok kayu albasia yang kaku, jemari Ilham dengan penuh kesabaran mengukir detail demi detail menggunakan pisau khusus—melahirkan ciri khas ukiran Pangandaran yang dalam dan sarat makna. Proses melukis wajah sebilah kepala wayang membutuhkan waktu tiga hingga tujuh hari, sebuah ritme lambat yang ia nikmati di tengah dunia yang menuntut segalanya serba cepat.

Menjaga Mimpi di Antara Dua Dunia

Mencintai tradisi tidak lantas membuat Ilham kehilangan masa mudanya sebagai pelajar. Ada harmoni yang ia jaga dengan sangat anggun. Menonton pertunjukan wayang hingga jam tiga dini hari sudah menjadi bagian dari desah napasnya, namun ketika fajar menyingsing, ia tetap melangkah ke sekolah tepat waktu tanpa mengeluh.

Cinta yang tekun ini pun berbuah manis. Di tahun 2025 lalu, ia memukau sekolahnya saat tampil sebagai dalang dalam acara Gelar Karya P5 di SMAN 1 Parigi. Kini, langkah kakinya semakin lebar, membawa nama sekolah menuju ajang Festival Lomba Seni Siswa dan Sastra Nasional (FLS3N) di bidang kriya. Bahkan, lewat akun TikTok pribadinya, @baskom.tijungkir, Ilham memamerkan dan memasarkan kepala wayang hasil pahatannya sendiri dengan harga Rp100 ribu hingga Rp300 ribu. Sebuah bukti bahwa hobi yang dirawat dengan cinta juga bisa menghidupi.

Lentera mimpi Ilham pun kini mengarah ke satu titik: ia ingin meminang ilmu lebih dalam di Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Ia ingin mementaskan wayang lebih sering lagi, agar sunyi tidak menjemput budaya ini.

“Banyak yang bilang hobi ini kolot atau primitif, tapi menurut saya ini seni yang perlu lestari. Karena penuh makna dan karya, kepuasannya itu bisa mempertahankan kelestarian budaya yang bagus,” ucap Ilham lembut namun penuh keyakinan.

Di tengah gempuran zaman yang bergerak begitu sinis terhadap masa lalu, Ilham adalah anomali yang indah. Ia adalah bukti hidup, bahwa di tanah Pasundan, masih ada seorang pemuda yang rela terjaga hingga larut malam, mendekap erat akar budayanya, dan memastikan bahwa cerita para leluhur tidak akan pernah mati di masa depan.

Sumber: detikJabar