JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Bagi Anda yang berencana merakit PC atau membeli gadget baru dalam waktu dekat, bersiaplah untuk merogoh kocek lebih dalam. Tren kenaikan harga perangkat teknologi konsumen terus meroket, dan biang kerok utamanya adalah kelangkaan cip memori global. Ironisnya, mencari solusi jangka pendek untuk masalah ini tampaknya menjadi hal yang mustahil.
Krisis kelangkaan cip memori ini bahkan menjadi alasan mendasar di balik keputusan Apple menaikkan harga jual produk-produk terbaru mereka baru-baru ini. Pembuat kebijakan di Amerika Serikat (AS) pun memiliki alat yang sangat terbatas untuk menyelesaikan masalah ini secara cepat.
Industri AI “Sita” Kapasitas Produksi RAM
Saat ini, pasar memori dunia hanya dikuasai oleh tiga raksasa besar, yaitu Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology yang mendominasi pasar cip memori DRAM. Masalahnya, ketiga raksasa ini sedang jor-joran mengalihkan sebagian besar kapasitas produksi mereka untuk melayani industri kecerdasan buatan (AI).
Langkah tersebut otomatis mencekik pasokan memori untuk perusahaan teknologi ramah konsumen. Permintaan terhadap lini cip memori khusus untuk sistem server pelatihan dan pemrosesan model AI melonjak luar biasa. Di saat yang sama, pusat data (data center) AI juga melahap cip memori tradisional dalam jumlah yang sangat masif.
“Perusahaan AI adalah pemain dengan ‘kantong paling tebal’ di perekonomian saat ini, dan mereka berani membayar harga tertinggi untuk memborong cip memori. Kita semua, sebagai konsumen biasa, mau tidak mau harus menerima kenyataan untuk menanggung beban biaya tersebut,” kata Jim Secreto, konsultan yang pernah bekerja di Departemen Perdagangan AS pada era pemerintahan Biden.
Trauma Masa Lalu dan Lambatnya Bangun Pabrik
Para produsen cip memori besar juga bersikap sangat hati-hati dalam menambah kapasitas karena takut menciptakan gelombang kelebihan pasokan (oversupply). Faktanya, pasar cip memori selalu melewati siklus “booming lalu hancur” (boom and bust).
Pada tahun 2023 lalu misalnya, SK Hynix mengalami kerugian miliaran dolar dan terpaksa memangkas produksi akibat kelesuan industri global. Pada tahun yang sama, Micron juga harus memecat 15% karyawannya. Kondisi ini berbalik total saat demam AI meledak.
Meskipun parlemen AS telah mengesahkan dana bantuan puluhan miliar dolar untuk memperluas pabrik dalam negeri—seperti megaproyek Micron di Boise (Idaho) dan Clay (New York)—fasilitas tersebut butuh waktu lama untuk beroperasi. Fasilitas di Idaho baru bisa beroperasi pada pertengahan 2027, sedangkan pabrik di New York baru memulai produksi pada tahun 2030.
Dilema “Kartu As” China dan Tembok Keamanan AS
Di atas kertas, China sebenarnya menjadi solusi tercepat untuk mengatasi kelangkaan cip ini. Dua produsen asal Negeri Tirai Bambu, CXMT (produsen DRAM) dan YMTC (spesialis NAND), sedang sangat agresif memperluas pasar global dan membangun pabrik baru. Bahkan, pendapatan kuartal pertama CXMT melonjak lebih dari 700% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Namun, batu sandungan terbesarnya adalah regulasi keamanan nasional AS. Aturan ketat Washington membuat korporasi teknologi AS mustahil untuk bekerja sama dengan produsen cip asal China demi melindungi rahasia teknologi inti.
Beberapa raksasa teknologi konsumen dilaporkan sempat meminta pemerintah AS untuk melonggarkan aturan pembatasan kerja sama dengan Beijing agar mempermudah Samsung dan SK Hynix meningkatkan produksi di pabrik mereka yang berada di China. Kasus serupa pernah terjadi pada 2022, saat Apple terpaksa membatalkan kesepakatan pasokan memori dengan YMTC akibat tekanan keras parlemen AS.
Selama perang dingin teknologi dan demam AI ini terus berlanjut, konsumen tampaknya harus menerima kenyataan bahwa harga komponen memori seperti RAM akan tetap bertahan di posisi tinggi.
Sumber: Mashable Indonesia





