Profil

Mengenal Muhammad Wishal, Peneliti Keamanan Siber Asal Subang yang Raih Pengakuan NASA

×

Mengenal Muhammad Wishal, Peneliti Keamanan Siber Asal Subang yang Raih Pengakuan NASA

Sebarkan artikel ini

SUBANG, TINTAHIJAU.COM – Di balik layar sistem digital yang digunakan jutaan orang, terdapat para peneliti keamanan siber yang bekerja menemukan celah sebelum dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber.

Salah satunya adalah Muhammad Wishal, putra asal Kabupaten Subang, Jawa Barat, yang berhasil memperoleh pengakuan resmi dari National Aeronautics and Space Administration (NASA).

Wishal menerima Letter of Recognition dari NASA setelah berhasil menemukan dan melaporkan kerentanan keamanan (security vulnerability) pada sistem milik lembaga antariksa Amerika Serikat tersebut melalui Vulnerability Disclosure Program (VDP).

Program ini merupakan mekanisme resmi yang memungkinkan peneliti keamanan siber di seluruh dunia melaporkan temuan celah keamanan secara legal dan bertanggung jawab.

Bagi Wishal, penghargaan tersebut bukan sekadar sertifikat, melainkan bentuk pengakuan atas proses riset dan dedikasi dalam membantu meningkatkan keamanan sistem digital.

“Itu semacam apresiasi resmi dari NASA terkait celah keamanan atau bug yang sudah kami temukan, dengan pelaporan ke NASA secara legal,” ujar Wishal.

Muhammad Wishal merupakan warga Kelurahan Pasirkareumbi, Kecamatan Subang, Kabupaten Subang. Ia merupakan lulusan Sarjana Komputer (S.Kom.) dan kini berprofesi sebagai Independent Security Researcher.

Sebagai peneliti independen, Wishal menghabiskan banyak waktunya untuk mempelajari keamanan aplikasi, situs web, dan berbagai sistem digital. Berbeda dengan peretas yang berniat merusak atau mengambil keuntungan, seorang security researcher bertugas menemukan kerentanan agar dapat segera diperbaiki oleh pemilik sistem.

Aktivitas tersebut dilakukan melalui metode responsible disclosure, yaitu melaporkan temuan secara resmi kepada institusi terkait tanpa mengeksploitasi celah keamanan yang ditemukan.
Di tengah kesibukannya sebagai peneliti, Wishal juga menjalani kehidupan sebagai kepala keluarga.

Ia telah menikah dan dikaruniai seorang anak.
Temukan 11 Celah Keamanan NASA
Prestasi terbesar Wishal sejauh ini datang dari NASA. Melalui program VDP, ia berhasil menemukan 11 celah keamanan pada sistem NASA.

Atas temuan tersebut, Wishal berhak memperoleh 11 Hall of Fame dan 11 Letter of Recognition dari NASA. Namun hingga saat ini, ia baru menerima satu surat penghargaan resmi, sementara sisanya masih dalam proses administrasi.

“Alhamdulillah saya mendapatkan total 11 bug. Seharusnya nanti akan mendapatkan 11 sertifikat apresiasi NASA. Sekarang baru menerima satu sertifikat,” katanya.

Dalam surat yang ditandatangani Kelvin Taylor, Senior Agency Information Security Officer (SAISO) NASA Office of the Chief Information Officer (OCIO), NASA menyatakan bahwa laporan Wishal telah membantu mengidentifikasi kerentanan yang sebelumnya belum diketahui serta mendukung perlindungan terhadap integritas dan ketersediaan sistem informasi NASA.

Selain mendapat pengakuan dari NASA, Wishal juga menerima apresiasi dari sejumlah institusi nasional maupun internasional, di antaranya U.S. Department of Defense, Pusat Siber TNI Angkatan Darat, Kementerian Pekerjaan Umum, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Diskominfotik DKI Jakarta, Diskominfo DIY, Diskominfotik Provinsi Bali, serta sejumlah institusi lainnya.

Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa hasil riset keamanan yang dilakukan Wishal tidak hanya diakui di tingkat nasional, tetapi juga dipercaya oleh berbagai organisasi internasional.

Bagi Wishal, menjadi Independent Security Researcher bukan sekadar profesi. Ia memandang pekerjaannya sebagai bentuk kontribusi nyata dalam menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi semua orang.

Menurutnya, setiap sistem digital selalu memiliki ruang untuk diperbaiki. Karena itu, menemukan kerentanan bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab untuk membantu pemilik sistem meningkatkan keamanannya.

“Menjadi independent security researcher mengubah cara saya memandang teknologi. Di balik setiap sistem yang kita gunakan, selalu ada ruang untuk belajar, memperbaiki, dan melindungi. Bagi saya, menemukan kerentanan bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab untuk membantu menciptakan ekosistem digital yang lebih aman,” ungkapnya.

Pencapaian Muhammad Wishal menjadi bukti bahwa talenta di bidang teknologi informasi tidak harus berasal dari kota-kota besar atau perusahaan multinasional.

Berbekal kemampuan, ketekunan, dan komitmen terhadap etika profesi, peneliti asal Subang ini mampu menembus pengakuan lembaga antariksa terbesar di dunia.

Kiprah Wishal sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia, khususnya di Kabupaten Subang, bahwa keahlian di bidang keamanan siber dapat membuka peluang untuk berkontribusi di tingkat global tanpa harus meninggalkan daerah asal.