SUBANG, TINTAHIJAU.com – Baru-baru ini, sebuah video di media sosial menciptakan kehebohan dengan mengklaim bahwa suntik putih dapat memicu penyakit autoimun.
Unggahan dari akun TikTok @anmelyani bahkan menyatakan bahwa pedangdut terkenal Cita Citata menderita penyakit autoimun akibat suntik putih.
Suntik putih adalah salah satu perawatan kulit yang menjadi pilihan banyak perempuan untuk mendapatkan kulit yang lebih cerah secara instan. Di sisi lain, autoimun adalah kondisi di mana sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang tubuhnya sendiri.
Namun, perlu ditegaskan bahwa klaim ini harus dihadapi dengan hati-hati dan didasarkan pada fakta medis yang benar. Dalam sebuah pemberitaan dari Kompas.com pada 21 Mei 2021, Cita Citata pernah mengungkapkan bahwa dirinya menderita penyakit autoimun yang disebabkan oleh konsumsi berlebihan vitamin dan suntik putih.
Dokter spesialis kulit dan kelamin dari RSUD Prof Dr Margono Soekarjo, Ismiralda Oke Putranti, menjelaskan bahwa penderita penyakit autoimun sebenarnya telah memiliki faktor genetik yang mendasari penyakit tersebut. Namun, faktor-faktor ini mungkin belum terungkap dan belum menunjukkan gejala klinis.
Dalam menjelaskan hubungan antara suntik putih dan penyakit autoimun, Ismiralda menekankan bahwa vitamin dan antioksidan, bahan yang sering digunakan dalam suntik putih, sebenarnya bermanfaat untuk melindungi tubuh dari kerusakan yang diakibatkan oleh radikal bebas, yang muncul akibat proses metabolisme dan reaksi lain dalam tubuh. Antioksidan juga bisa membantu mengurangi reaksi inflamasi yang terjadi ketika gejala autoimun muncul.
Namun, perlu dicatat bahwa jika suntik putih yang digunakan mengandung dosis yang terlalu tinggi atau digunakan terlalu sering, dapat mengakibatkan dampak yang merugikan. Apalagi jika suntik putih mengandung bahan berbahaya seperti merkuri, yang bisa menyebabkan kerusakan organ hingga kanker.
Ismiralda menegaskan bahwa masyarakat sebaiknya cerdas dalam memilih jenis perawatan. Kesehatan adalah hal yang sangat penting, dan tidak hanya masalah estetika semata. Oleh karena itu, konsultasi dengan dokter ahli sebelum melakukan perawatan adalah langkah yang bijak.
Lebih lanjut, Ismiralda menjelaskan bahwa penyakit autoimun biasanya dipicu oleh faktor genetik, tetapi ada beberapa faktor lain yang dapat memicu sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel tubuh sehat.
Autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh salah mengidentifikasi sel sehat sebagai ancaman atau zat asing, yang pada akhirnya menyebabkan serangkaian gejala yang tidak nyaman bagi penderita.
Gejala autoimun dapat berbeda-beda, tergantung pada organ mana yang terkena. Contohnya, penyakit autoimun kulit seperti psoriasis, pemfigus, lupus, dan scleroderma memiliki tanda dan gejala yang berbeda-beda tergantung pada jenis penyakitnya.
Oleh karena itu, penting untuk mendekati isu suntik putih dan autoimun dengan informasi yang akurat dan berbasis medis untuk menghindari penyebaran mitos yang dapat membingungkan dan membahayakan kesehatan.





