SUBANG, TINTAHIJAU.com – Perkenalan dan persahabatan kami dimulai dari kesamaan hobi, yakni mendengarkan siaran radio gelombang pendek, khususnya Radio Nederland Siaran Bahasa Indonesia (Ranesi) yang disiarkan dari Hilversum, Negeri Belanda.
Ranesi adalah stasiun radio internasional Belanda yang menghadirkan berita dan beragam acara menarik dengan berbagai topik. Menyajikan informasi aktual hingga perkembangan politik internasional, terutama hubungan antara Belanda dan Indonesia. Sayangnya, siaran Radio Nederland diakhiri pada tahun 2012.
Hubungan dekat antara pendengar dan penyiar radio membawa kami bertemu, antara Aboeprijadi Santoso atau akrab disapa Pak Tossi sebagai penyiar radio dan saya, Kin, pendengar setia Radio Nederland.
Kedatangan Bapak Aboeprijadi Santoso, seorang jurnalis senior Radio Nederland (Ranesi), ke Indonesia kami manfaatkan untuk bertemu dan bersilaturahmi April 2022 di Kota Bandung.
Meskipun telah tinggal lebih dari 50 tahun di Negeri Kincir Angin, Pak Tossi dan istri tetap mencintai seni tradisional dan kebudayaan Indonesia, seperti angklung khas Sunda. Kami sepakat untuk berkumpul di Saung Angklung Udjo yang terletak di daerah Padasuka, Bandung.
Pertemuan antara Pak Tossi dan istrinya, Ibu Mutia, yang juga dihadiri oleh Mas Agus Wahyudi, seorang fotografer dan pendengar radio gelombang pendek, menghasilkan pembagian kisah dan kenangan penuh keakraban.
Bagi para pendengar siaran radio gelombang pendek, mungkin yang paling diingat adalah era Orde Baru lebih dari 30 tahun lalu, saat berbagai peristiwa signifikan terjadi di tanah air.
Radio Nederland Siaran Indonesia (Ranesi) hadir di tengah suasana panas konflik di Timtim, Aceh, Poso, Maluku, Papua, dan daerah lainnya. Aboeprijadi Santoso, jurnalis Ranesi, merekam suasana, menemui mahasiswa, bertemu tokoh-tokoh, dan mewawancarai figur berpengaruh seperti Carlos Ximenes Belo, Uskup Agung Dili, dan tokoh Fretilin Xanana Gusmao, Jose Ramos-Horta dll.
Lebih dari 30 tahun kemudian, kami bersyukur dapat bersilaturahmi dan berbagi kisah serta cerita penuh sejarah. Aboeprijadi Santoso, dalam liputan dan tulisannya, khususnya yang membahas situasi hak asasi manusia di Indonesia.
Sejak tahun 1978, ia telah banyak bertemu dengan aktivis kemerdekaan Timor Timur, Abílio Araújo, di Paris, Jose Ramos-Horta di Den Haag, juga dengan Menteri Luar Negeri RI Ali Alatas, dan mempelajari latar belakang konflik di negara yang diduduki Indonesia sejak tahun 1975.





