SUBANG, TINTAHIJAU.COM – Kang Dedi Mulyadi (KDM) menyampaikan terima kasih atas kritik bahkan bullyan dari netizen atau warganet yang dialamatkan padanya karena mendukung Prabowo Subianto di Pilpres 2024.
Menurut KDM fenomena tersebut adalah sebuah hal wajar mengingat saat ini masuk tahun politik yang sangat sensitif di media sosial. Padahal realitanya di kehidupan warga tetap hidup tentram dan adem.
Sebagai politisi KDM sejak dulu konsisten dalam bersikap. Ia tak mengenal politik dua kaki untuk mencari aman. Hal yang mendasari politiknya saat ini adalah rasa menghormati dan sikap berterima kasih.
“Hal paling mendasar selalu ditanamkan sikap menghormati dan sikap berterima kasih pada siapapun yang membesarkan kita. Saya sebagai orang Sunda memiliki ajaran yang kuat yaitu rasa jeung rumasa,” ucap KDM.
Begitupun soal ‘Sunda’ yang kini menjadi narasi politik dalam meraih kekuasaan hal tersebut tidaklah masalah baginya. Sebab dalam kehidupan politik praktis sebuah hal wajar jika terjadi perbedaan pemahaman mengenai strategi yang akan dilakukan.
Kang Dedi memahami apa yang saat ini dilontarkan netizen adalah sebuah bentuk sayang dan juga kekecewaan terhadapnya. Ia berterima kasih karena hal tersebut adalah sebuah otokritik untuknya.
“Juga izinkan saya memberikan pandangan dan sikap. Saya ini tidak ada maksud menyudutkan salah satu pihak, atau membela salah satu pihak, tidak. Saya hanya bersifat objektif bahwa orang yang berbuat baik dan Ikhlas harus ada yang menyampaikan kebaikan dan keikhlasannya,” ucapnya
“Saya sampaikan mohon maaf karena telah menyinggung perasaan dan saya akan tetap konsisten bekerja secara politik menyampaikan pesan meskipun harus menuai kritik atau bullyan dan itu adalah bagian dari kehidupan berpolitik di era digital,” lanjut KDM.
Dalam kesempatan itu KDM pun menjawab kegelisahan netizen ketiadaan tokoh Sunda di Pilpres 2024. Menurutnya sejak lama orang Sunda memiliki mimpi namun tak pernah terwujud karena sering kali tidak kompak hingga pilihan yang tidak tepat.
“Dan orang Sunda itu tidak pernah saling mendukung karena style orang Sunda itu sorangan (sendiri) akhirnya sifatnya individual tidak kolektif. Ke depan, yang sabar, tokoh Sunda dari sekarang saling mengatur posisi tidak berebut pada satu tempat, dan tidak boleh ‘membunuh’ satu sama lain,” ujarnya.
Sebab, kata KDM, sering kali tantangan dan tembok yang menghadang politisi Sunda seperti dirinya adalah berasal dari internal orang Sunda sendiri. Untuk itu patut ke depan untuk bersama menata diri.
“Kita tidak mungkin lagi bicara 2024, kita terima realitas, kita pilih yang bisa memberikan implikasi bagi tokoh Sunda ke depan menjadi orang penting di tingkat nasional. Sehingga untuk di 2029 atau setelahnya semuanya bisa saling mempersiapkan diri sehingga nanti muncul tokoh populer yang memiliki elektabilitas yang berasal dari Sunda,” ucapnya.
Kang Dedi Mulyadi menegaskan, akan terus melakukan kerja-kerja politik ala dirinya yang mengedepankan kemanusiaan dan kerakyatan demi kepentingan dan kebaikan bersama.
“Sekali lagi saya ucapkan terima kasih kritiknya, maaf belum ada Capres-cawapres yang asli, pituin Sunda. Politik saya adalah politik kemanusiaan, politik kerakyatan, kalau ada yang saya sampaikan ke publik ngegas itu adalah bagian dari sikap politik yang harus saya ambil. Terpenting ke depan harus banyak tokoh Sunda yang diperhitungkan di kancah nasional,” pungkas KDM.