SUBANG, TINTAHIJAU.com – Meskipun sudah memasuki musim hujan, sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Jabodetabek, masih merasakan suhu udara yang cukup gerah atau sumuk.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa suhu maksimum harian di beberapa lokasi mencapai 35,4 derajat Celsius pada 16-17 Januari lalu, seperti yang terjadi di daerah Tangerang Selatan.
Guswanto, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, menjelaskan bahwa suhu yang terasa sumuk berbeda dengan suhu panas dan berkaitan dengan tutupan awan konvektif atau awan hujan.
Pada kondisi ini, panas yang dilepaskan oleh permukaan Bumi terpantulkan kembali ke bawah karena tidak dapat keluar dari permukaan Bumi. Maka, meski sudah masuk musim hujan, suhu masih terasa sumuk.
Guswanto menegaskan bahwa suhu di atas 37 derajat Celsius dapat dikategorikan sebagai panas yang di luar dari normal. Namun, suhu maksimum harian yang berkisar antara 33 hingga 37 derajat Celsius masih dianggap normal, walaupun musim hujan telah dimulai.
Menurut Guswanto, istilah “feel-like temperature” digunakan untuk menggambarkan suhu yang dirasakan oleh manusia, yang melibatkan faktor seperti suhu udara, kelembapan, kecepatan angin, dan sinar Matahari.
Saat suhu udara panas disertai dengan kelembapan udara tinggi, udara sekitar mengandung banyak uap air, membuat keringat sulit menguap dan suhu terasa lebih panas.
Indonesia, sebagai negara kepulauan yang dikelilingi oleh lautan hangat, memiliki tingkat kelembapan tinggi. Wilayah tropis, pemanasan sinar Matahari yang tinggi, dan curah hujan yang cukup tinggi juga menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi suhu udara di Indonesia.
Selain itu, pengaruh angin juga turut memengaruhi suhu yang dirasakan. Angin yang bertiup dapat membawa panas tubuh saat keringat menguap, membuat suhu terasa lebih dingin. Angin juga dapat menghapus lapisan udara yang menghangatkan tubuh, meningkatkan sensasi dingin.
Dengan demikian, meskipun sudah memasuki musim hujan, faktor-faktor seperti kelembapan udara tinggi, sinar Matahari yang intens, dan pengaruh angin masih turut memengaruhi sensasi suhu di sejumlah wilayah Indonesia, menjelaskan mengapa suhu udara tetap terasa sumuk.





