Ragam

Mengenal Asal-Usul Ketupat Hingga Jadi Makanan Khas Lebaran di Indonesia

×

Mengenal Asal-Usul Ketupat Hingga Jadi Makanan Khas Lebaran di Indonesia

Sebarkan artikel ini

SUBANG, TINTAHIJAU.com – Ketupat, makanan yang menjadi ikon perayaan Idul Fitri di Indonesia, memiliki sejarah dan makna yang dalam.

Tradisi penyajian ketupat tidak hanya sekadar mengisi hidangan lebaran, namun juga melambangkan kesempurnaan dan dakwah Islam yang telah mengakar dalam budaya Indonesia.

Makna Ketupat Lebaran

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ketupat merupakan makanan yang dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman pucuk daun kelapa, berbentuk kantong segi empat, dan direbus. Namun, lebih dari sekadar definisi itu, ketupat memiliki makna simbolis dalam perayaan Lebaran. “Ketupat” atau “kupat” berasal dari bahasa Jawa “ngaku lepat,” yang artinya “mengakui kesalahan.” Oleh karena itu, ketupat Lebaran menjadi simbol pengakuan kesalahan, saling memaafkan, dan melupakan dosa saat momen Idul Fitri.

Selain itu, kata “kupat” juga memiliki makna “laku papat” atau empat laku, yang tercermin dari empat sisi ketupat, yaitu:

  1. Lebaran: Menandakan pintu ampunan terbuka untuk orang lain.
  2. Luberan: Melambangkan kemurahan hati dan pemberian sedekah kepada yang membutuhkan.
  3. Leburan: Mencerminkan pemurnian diri dari dosa yang dilalui selama satu tahun.
  4. Laburan: Menunjukkan upaya untuk menyucikan diri dan kembali suci seperti bayi.

Asal-usul Ketupat Lebaran di Indonesia

Asal-usul ketupat Lebaran di Indonesia memiliki akar yang dalam dalam tradisi Islam dan budaya lokal. Tradisi Lebaran ketupat diyakini berasal dari hadits yang menyatakan bahwa barang siapa yang berpuasa Ramadhan dan dilanjutkan dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka seperti telah berpuasa selama setahun penuh. Masyarakat Indonesia menyebutnya “kaffah” atau kafatan, yang berarti sempurna. Sehingga, setelah puasa Syawal, terdapat perayaan ketupat yang menandakan kesempurnaan.

Menurut H.J. de Graaf dalam Malay Annal, ketupat menjadi simbol perayaan hari raya Islam pada masa pemerintahan Kerajaan Demak di abad ke-15. Pada masa itu, bungkus ketupat terbuat dari janur digunakan untuk menunjukkan identitas masyarakat pesisir yang banyak ditumbuhi pohon kelapa atau nyiur. Sunan Kalijaga pun menggunakan ketupat sebagai media dakwah untuk menyebarkan Islam, menjadikannya semakin populer di kalangan umat Islam.

Tradisi penyajian ketupat juga berkembang pada masa kerajaan Islam, terutama pada masa Kerajaan Demak dan Mataram Islam. Hal ini terlihat dari upacara-upacara selametan seperti sekaten atau grebeg mulud yang diselenggarakan di Keraton Yogyakarta, Surakarta, dan Cirebon. Ketupat menjadi bagian penting dalam sajian upacara tersebut, menandakan kekayaan tradisi dan nilai-nilai Islam yang kental dalam budaya Indonesia.

Dari makna simbolis hingga jejak sejarahnya yang kaya, ketupat Lebaran tidak hanya sekadar makanan lezat untuk disantap bersama keluarga, namun juga mengandung nilai-nilai kebersamaan, kesempurnaan, dan dakwah Islam yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.