SUBANG, TINTAHIJAU.com – Tempe adalah salah satu sumber protein yang murah dan mudah ditemukan di Indonesia. Umumnya, tempe perlu dimasak sebelum dikonsumsi. Namun, ada sebagian orang yang percaya bahwa tempe mentah memiliki manfaat kesehatan karena mengandung bakteri baik atau probiotik.
Artikel ini akan membahas perbedaan manfaat antara tempe mentah dan tempe matang serta risiko kesehatan yang terkait dengan konsumsi tempe mentah.
Manfaat Tempe Mentah
Tempe adalah produk olahan kedelai yang melalui proses fermentasi dengan bakteri baik, tepatnya Rhizopus oligosporus. Karena tidak melalui proses pemanasan, tempe mentah diyakini memiliki kandungan probiotik yang lebih melimpah dibandingkan tempe yang dimasak.
Penelitian dari Biotechnology Research International menemukan bahwa probiotik pada tempe bisa mati pada suhu masak di atas 80°C. Namun, penting untuk dicatat bahwa meskipun tempe mentah mengandung lebih banyak probiotik, manfaat ini belum tentu sebanding dengan risikonya.
Bahaya Tempe Mentah
- Risiko Kebersihan dan Kontaminasi
- Sebagian besar produksi tempe di Indonesia berasal dari industri rumahan dengan standar kebersihan yang bervariasi. Konsumsi tempe mentah dari sumber yang tidak higienis bisa mengakibatkan kontaminasi mikroorganisme penyebab keracunan makanan.
- Aflatoksikosis
- Tempe yang diproduksi secara tidak higienis bisa terkontaminasi jamur, seperti Fusarium spp. dan Aspergillus flavus, yang menghasilkan aflatoksin. Aflatoksin dapat menyebabkan aflatoksikosis dengan gejala mual, muntah, kulit gatal, sakit perut, kulit dan mata berwarna kuning, serta pendarahan. Dalam jangka panjang, aflatoksin dapat memicu kanker hati.
- Salmonellosis
- Tempe mentah bisa meningkatkan risiko infeksi bakteri Salmonella, yang menyebabkan salmonellosis. Gejala salmonellosis termasuk diare, demam, dan kram perut.
- Risiko Kanker Hati
- Aflatoksin B1 yang ditemukan pada tempe mentah dapat mengubah gen pada sel hati, memicu mutasi, dan menyebabkan kanker hati. Data dari tahun 1991 menunjukkan bahwa 20% penderita kanker hati di Indonesia, tanpa riwayat hepatitis B atau C, disebabkan oleh aflatoksin dari tempe mentah.
Cara Sehat Mengolah Tempe
Memasak tempe adalah langkah yang tepat untuk mengurangi risiko kesehatan. Cara memasak yang disarankan meliputi:
- Mengukus dan Merebus
- Proses ini memerlukan waktu sekitar 15 menit dan dapat mempertahankan sebagian besar nutrisi dalam tempe.
- Memanggang
- Memanggang tempe selama 5-10 menit juga merupakan metode yang baik untuk mempertahankan kandungan nutrisinya.
- Menumis
- Menumis tempe bersama sayuran adalah cara yang baik untuk menambah asupan nutrisi harian.
Menghindari metode menggoreng tempe secara berlebihan penting untuk menjaga kualitas gizi dan menghindari penambahan lemak trans yang dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat.
Alternatif Konsumsi Tempe
Untuk mendapatkan manfaat tempe tanpa harus mengonsumsi mentah, Anda bisa memilih tempe yang telah melalui proses pasteurisasi. Namun, perlu diingat bahwa tekstur tempe pasteurisasi berbeda dari tempe segar.
Mengonsumsi tempe mentah memang menawarkan kandungan probiotik yang lebih tinggi, tetapi risikonya lebih besar daripada manfaatnya. Oleh karena itu, memasak tempe hingga matang sempurna adalah pilihan terbaik untuk menghindari risiko kesehatan seperti keracunan makanan dan infeksi. Untuk mendapatkan probiotik dari sumber lain, Anda bisa mengonsumsi yoghurt atau kombucha.
Dengan memilih metode pengolahan yang tepat, Anda dapat menikmati tempe dengan aman dan mendapatkan manfaat nutrisinya secara optimal.





