Teknologi

Waspada Brain Rot, Dampak Negatif dari Konsumsi Konten yang Berlebihan dari Medsos

×

Waspada Brain Rot, Dampak Negatif dari Konsumsi Konten yang Berlebihan dari Medsos

Sebarkan artikel ini
Internet di Ponsel

JAKARTA, TINTAHIJAU.com – Istilah brain rot atau kemerosotan otak kini semakin populer di kalangan masyarakat, terutama di media sosial. Menurut Oxford University Press, brain rot didefinisikan sebagai penurunan kondisi mental atau intelektual akibat konsumsi berlebihan terhadap konten yang dianggap remeh atau tidak menantang.

Istilah ini pertama kali muncul di platform TikTok dan sejak itu mengalami lonjakan kepopuleran hingga 230% dari tahun 2023 ke 2024. Meskipun awalnya dikenal di kalangan pengguna media sosial, kini istilah ini telah meluas dan sering ditemukan dalam pembahasan di media arus utama.

Penyebab Brain Rot

Brain rot disebabkan oleh konsumsi konten daring berkualitas rendah dalam jumlah yang berlebihan, terutama melalui media sosial. Salah satu perilaku yang paling terkait dengan brain rot adalah doomscrolling, yaitu kebiasaan untuk terus mencari informasi negatif tanpa henti.

Pengguna yang terjebak dalam perilaku doomscrolling sering kali merasa terdorong untuk terus mengikuti berita atau informasi terkini, meskipun informasi tersebut bersifat mengganggu dan meresahkan. Hal ini menyebabkan kelelahan mental akibat banyaknya rangsangan yang harus diproses oleh otak, yang pada gilirannya menurunkan motivasi, fokus, produktivitas, serta energi.

Kelelahan mental akibat konsumsi konten berlebihan ini juga berkaitan dengan kerusakan otak, yang disebabkan oleh overstimulasi. Pengguna yang sering terpapar konten negatif atau tidak menantang dapat merasa tertekan, cemas, dan bahkan kehilangan minat terhadap hal-hal lain yang semula mereka nikmati.

Scrolling, Adiksi, dan Brain Rot

Menurut situs Newport Institute, kebiasaan scrolling di media sosial dapat menyebabkan otak melepaskan dopamin, sebuah neurokimia yang memicu rasa senang dan puas. Efek dari dopamin ini lama kelamaan dapat menyebabkan adiksi atau kecanduan.

Otak akan mengaitkan kebiasaan scrolling dengan kepuasan, sehingga pengguna merasa terus-menerus ingin melakukan aktivitas tersebut. Sayangnya, kecanduan terhadap scrolling ini dapat menyebabkan brain rot, yang pada akhirnya merusak kondisi mental dan intelektual seseorang.

Pengaruh Brain Rot terhadap Kesehatan

Dampak jangka panjang dari brain rot bisa sangat merugikan, tidak hanya bagi kesehatan mental, tetapi juga bagi kesehatan fisik dan emosional seseorang. Aktivitas seperti doomscrolling dapat membuat seseorang menjadi kurang sensitif terhadap rangsangan negatif, yang justru akan menyebabkan mereka kesulitan merasakan perasaan positif dari pengalaman lainnya. Bahkan, sejumlah studi menyebutkan bahwa doomscrolling dapat meningkatkan stres psikologis dan memperburuk kesehatan mental seseorang.

Penelitian lain juga mengungkapkan bahwa konsumsi informasi negatif dalam jumlah yang besar dapat merusak kesehatan mental dan fisik. Pengguna yang sering terpapar berita buruk cenderung mengalami penurunan kondisi mental dan fisik, yang dapat berujung pada gangguan psikologis yang lebih serius.

Brain rot adalah fenomena yang muncul akibat kebiasaan konsumsi konten berlebihan di media sosial, terutama konten yang tidak menantang atau bersifat negatif. Kebiasaan seperti doomscrolling dapat mempengaruhi kesehatan otak dan mental, serta memicu adiksi yang berbahaya.

Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial, dengan membatasi konsumsi konten yang dapat merugikan kesehatan mental dan fisik.