CIANJUR, TINTAHIJAU.com – Puluhan pelajar di Kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur, setiap hari harus menempuh perjalanan ke sekolah dengan berjalan kaki. Namun, bukan karena mengikuti imbauan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melainkan karena jalan utama penghubung antar kecamatan rusak parah selama puluhan tahun.
Kondisi semakin memprihatinkan saat musim hujan tiba. Jalan yang masih berupa tanah merah berubah menjadi lumpur licin, membuat para siswa terpaksa berjalan tanpa alas kaki—alias nyeker—karena sepatu mereka cepat kotor dan rusak.
Dalam sebuah video berdurasi 2 menit 1 detik yang viral di media sosial, tampak sejumlah siswa berjalan kaki melewati jalan rusak, berlumpur, dan licin. Salah satu siswi, Esti Pratiwi, menyapa “Bapak Aing”—sapaan khas untuk Gubernur Dedi Mulyadi—sambil mengangkat sepatunya yang dijinjing karena tidak bisa dipakai.
“Aduh kumaha ieu bapak aing, boro-boro make motor, sepatu ge dijingjing,” ungkap Esti dalam video tersebut. Ia mengaku sengaja membuat video itu agar pemerintah provinsi segera memperhatikan kondisi jalan yang sudah sangat lama tidak tersentuh perbaikan.
Menurut Esti, para pelajar di wilayah tersebut sudah terbiasa berjalan kaki ke sekolah setiap hari, bahkan sebelum adanya imbauan dari Gubernur untuk mengurangi penggunaan kendaraan. Namun, kondisi jalan yang rusak membuat perjalanan mereka penuh perjuangan, terutama di musim hujan.
“Kalaupun jalan sudah bagus, kami tetap jalan kaki. Tapi kalau seperti ini, sepatu cepat rusak dan kami sering jatuh. Sampai di sekolah baju dan celana sudah kotor,” keluh Esti.
Kepala Sekolah SMP IT Pancuh Tilu, Ahmad Jamaludin, membenarkan kondisi tersebut. Ia mengatakan, kerusakan jalan sepanjang sekitar 20 kilometer itu sudah terjadi sejak ia masih kecil dan belum pernah diperbaiki hingga kini. Jalan tersebut juga merupakan penghubung penting antara Kecamatan Sindangbarang dan Kecamatan Cikadu, serta berstatus sebagai jalan provinsi.
“Ini bukan hanya soal akses pendidikan. Jalan ini juga penting untuk aktivitas ekonomi warga. Kami sangat berharap pemerintah segera memperbaikinya,” tegas Ahmad.
Fenomena siswa berjalan nyeker ke sekolah ini kembali menyuarakan urgensi perbaikan infrastruktur dasar di wilayah pelosok. Semoga video yang viral dan keluhan para siswa bisa mengetuk hati para pemangku kebijakan, khususnya Pemerintah Provinsi Jawa Barat, untuk segera bertindak demi masa depan pendidikan dan kesejahteraan warga setempat.