Ragam

Tradisi Pacu Jalur Viral, Netizen Soroti Aksi Bocah Penari dan Klaim Negara Tetangga

×

Tradisi Pacu Jalur Viral, Netizen Soroti Aksi Bocah Penari dan Klaim Negara Tetangga

Sebarkan artikel ini
Kemeriahan Festival Pacu Jalur Taluk Kuantan 2022. (Sumber: kemenparekraf.go.id)

RIAU, TINTAHIJAU.com — Tradisi pacu jalur, balap perahu tradisional khas Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, tengah menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial. Warganet ramai membagikan momen bocah penari yang menari lincah di ujung kapal jalur, menarik perhatian dan pujian dari berbagai kalangan.

Fenomena ini semakin mencuat ketika para pemain klub sepak bola Paris Saint Germain (PSG) melakukan selebrasi gol dengan gerakan yang menyerupai tari khas pacu jalur. Tak ketinggalan, maskot klub sepak bola ternama AC Milan juga tampil dengan gerakan serupa, menghidupkan kembali keunikan budaya Indonesia di panggung internasional.

Tren ini menjadi bagian dari fenomena “aura farming”, yaitu tren budaya yang mengangkat nilai-nilai lokal ke panggung global melalui media sosial. Pacu jalur pun menjadi simbol kebanggaan nasional, karena budaya yang berasal dari Kuansing tersebut kini dikenal dunia.

Namun, di tengah antusiasme publik, muncul rumor bahwa negara tetangga mencoba mengklaim pacu jalur sebagai budaya asli mereka. Isu ini memicu kekhawatiran masyarakat dan pemerhati budaya, mengingat pentingnya pelestarian dan pengakuan warisan budaya asli Indonesia.

Asal-Usul dan Sejarah Pacu Jalur

Melansir laman resmi Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi, pacu jalur merupakan lomba balap perahu tradisional yang memiliki akar sejarah sejak abad ke-17. Dalam bahasa setempat, “pacu” berarti balapan, sedangkan “jalur” adalah nama perahu kayu panjang yang digunakan. Perahu ini memiliki panjang antara 25 hingga 40 meter, dan digerakkan oleh 40 hingga 60 orang pendayung.

Tak hanya pendayung, di atas perahu juga terdapat penabuh gendang dan komandan yang memberikan aba-aba. Jalur dulunya digunakan sebagai alat transportasi utama warga Rantau Kuantan untuk mengangkut hasil bumi seperti pisang dan tebu, serta mengangkut puluhan orang melintasi Sungai Kuantan.

Seiring waktu, jalur menjadi kendaraan bangsawan dan dihias dengan ukiran kepala ular, buaya, atau harimau, menambah nilai estetika dan simbolik pada perahu tersebut. Di masa penjajahan Belanda, pacu jalur rutin digelar setiap 31 Agustus untuk memperingati hari kemerdekaan Belanda. Setelah Indonesia merdeka, pacu jalur dialihkan menjadi perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap bulan Agustus.

Tradisi yang Terus Hidup

Kini, pacu jalur tidak lagi digunakan sebagai alat transportasi, melainkan menjadi ajang budaya yang digelar hampir setiap tahun di Kuantan Singingi. Acara ini tak hanya menjadi daya tarik wisatawan, tetapi juga sarana pelestarian budaya dan jati diri masyarakat Riau.

Dengan viralnya tradisi ini dan atensi global yang didapat, masyarakat Indonesia diharapkan semakin sadar akan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya lokal. Pemerintah dan lembaga budaya pun didorong untuk segera mengambil langkah diplomatis guna mendaftarkan pacu jalur sebagai warisan budaya takbenda UNESCO, sekaligus menangkis klaim sepihak dari negara lain.