Ragam

Tren “Fibermaxxing” Ramai di Media Sosial, Pakar Ingatkan Risiko Kesehatan Akibat Kelebihan Serat

×

Tren “Fibermaxxing” Ramai di Media Sosial, Pakar Ingatkan Risiko Kesehatan Akibat Kelebihan Serat

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, TINTAHIJAU.com Media sosial belakangan diramaikan oleh tren gaya hidup baru bernama fibermaxxing, yakni dorongan untuk mengonsumsi serat dalam jumlah sebanyak-banyaknya. Para penganut tren ini bahkan menyarankan asupan serat harian mencapai 50 hingga 100 gram, jauh di atas rekomendasi kesehatan resmi.

Padahal, menurut Academy of Nutrition and Dietetics, kebutuhan serat harian ideal hanya sekitar 37 gram untuk laki-laki dan 29 gram untuk perempuan. Konsumsi serat di atas 70 gram per hari dinilai bisa menimbulkan dampak negatif bagi tubuh.

Tren fibermaxxing mendorong banyak orang mengganti sumber nutrisi lain seperti karbohidrat, lemak, dan protein dengan makanan tinggi serat, suplemen, hingga bubuk serat instan. Namun, para ahli gizi memperingatkan bahwa perubahan pola makan ekstrem ini dapat memicu berbagai gangguan pencernaan dan metabolisme tubuh.

Dampak Kesehatan Akibat Konsumsi Serat Berlebihan

Dikutip dari laman Health dan sejumlah sumber medis, berikut ini beberapa risiko kesehatan akibat asupan serat yang terlalu tinggi:

  1. Kram Perut dan Kembung
    Asupan serat dalam jumlah besar, terutama serat tidak larut, dapat menyebabkan perut kembung dan kram. Menurut Cleveland Clinic, lonjakan serat secara tiba-tiba membuat otot-otot perut berkontraksi lebih keras, apalagi jika tidak diiringi dengan konsumsi air yang cukup.
  2. Diare
    Meski serat dapat membantu mengatasi sembelit, konsumsi serat larut secara berlebihan justru bisa memicu diare karena meningkatkan kandungan air di dalam usus.
  3. Malabsorpsi Mineral
    Serat dalam kadar tinggi, terutama dari dedak atau biji-bijian utuh, berpotensi mengganggu penyerapan mineral penting seperti zat besi, magnesium, dan seng. Penelitian dari The American Journal of Clinical Nutrition menyebutkan serat dapat mengikat mineral tersebut di saluran cerna dan membuangnya sebelum diserap tubuh.
  4. Sembelit Akibat Dehidrasi
    Ironisnya, kelebihan serat juga bisa menyebabkan sembelit jika tidak dibarengi dengan cukup cairan. Harvard T.H. Chan School of Public Health menyatakan bahwa serat tinggi tanpa hidrasi cukup menjadi penyebab umum konstipasi.
  5. Penyumbatan Usus
    Dalam kasus ekstrem, konsumsi suplemen serat berlebih tanpa cukup air bisa menyebabkan penyumbatan usus atau intestinal obstruction. Studi yang diterbitkan di BMJ Case Reports (2019) mengungkapkan kasus nyata obstruksi usus akibat konsumsi serat tinggi dari suplemen.
  6. Gas Berlebihan dan Sering Kentut
    Serat yang difermentasi di usus besar menghasilkan gas. Menurut International Foundation for Gastrointestinal Disorders, peningkatan konsumsi serat secara mendadak sering kali menyebabkan gas usus berlebih, perut kembung, hingga rasa tidak nyaman.

Ahli Gizi Imbau Tetap Seimbang dan Sesuai Anjuran

Para ahli gizi mengingatkan bahwa serat memang penting untuk kesehatan, namun konsumsinya harus seimbang dan tidak berlebihan. Kunci utamanya adalah mencukupi kebutuhan harian sesuai rekomendasi, meningkatkan asupan serat secara bertahap, serta memastikan tubuh cukup terhidrasi.

Masyarakat diimbau untuk tidak mudah tergiur oleh tren kesehatan viral tanpa memahami dasar ilmiahnya. Konsultasi dengan tenaga medis atau ahli gizi sangat disarankan sebelum mengubah pola makan secara drastis.