Megapolitan

Pembongkaran Mendadak 14 Warung di Ciater, Pedagang Panik dan Pertanyakan Langkah Pemkab Subang

×

Pembongkaran Mendadak 14 Warung di Ciater, Pedagang Panik dan Pertanyakan Langkah Pemkab Subang

Sebarkan artikel ini

SUBANG, TINTAHIJAU.com – Suasana mencekam meliputi perbatasan Jalan Raya Tangkuban Parahu, tepatnya di wilayah Wates I, Desa Ciater, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jumat (8/8/2025). Sebanyak 14 bangunan warung yang berdiri di atas tanah milik pemerintah dibongkar menggunakan alat berat oleh Satpol PP Kabupaten Subang bersama Polres Subang.

Pembongkaran dilakukan tanpa pemberitahuan sebelumnya, membuat para pedagang terperanjat. Deru mesin alat berat bercampur suara teriakan menjadi awal hari yang tak pernah mereka bayangkan. Sejumlah pedagang berhamburan mengemasi barang dagangan, sementara sebagian lainnya mencoba menghadang dan beradu mulut dengan petugas.

Setelah negosiasi singkat, petugas memberikan waktu 2×24 jam bagi pemilik untuk membongkar sendiri bangunan mereka. Meski begitu, kepanikan sudah terlanjur menyelimuti lokasi.

Rani, salah satu pemilik warung, mengaku hatinya remuk melihat alat berat sudah siaga sejak pukul 10.00 WIB di depan warungnya. “Saya langsung cari mobil sewaan untuk angkut barang, takutnya kalau telat semua hancur,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Ia menambahkan, pemerintah daerah menjanjikan uang kerohiman sebesar Rp10 juta yang bisa diambil pekan depan di Pemkab Subang, namun rencana relokasi belum jelas.

Kepanikan semakin memuncak ketika seorang pedagang bernama Dian pingsan usai mendengar keputusan pembongkaran. Dian yang memiliki riwayat asma segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Tangisan keluarga dan pedagang lain pecah menyaksikan kejadian tersebut.

Di tengah ketegangan, sejumlah warga menyebut nama Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) yang dikenal sering membantu warga terdampak kebijakan pemerintah. “Kalau KDM yang datang, mungkin nasib kami bisa lebih jelas,” ucap Eli, salah satu pedagang.

Pembongkaran ini diduga merupakan bagian dari penertiban bangunan liar di jalur strategis penghubung Subang–Lembang. Namun, langkah yang diambil pemerintah menuai pertanyaan besar karena dilakukan tanpa sosialisasi resmi.

Eman, pedagang lainnya, mengaku membangun warung dengan uang pinjaman bank yang baru lunas setahun lalu. “Ada pedagang lain yang masih punya cicilan, tapi warung keburu dibongkar,” keluhnya.

Hingga malam, pedagang masih sibuk mengeluarkan barang dagangan dan membongkar bangunan sendiri demi menyelamatkan material yang masih layak. Warga berharap pemerintah mencari solusi yang lebih manusiawi dan memberikan kepastian nasib mereka di tengah ketidakpastian yang menyelimuti.