Megapolitan

BMKG Sebut Dua Segmen Sesar Lembang Masih Aktif, Warga Diminta Tingkatkan Kesiapsiagaan

×

BMKG Sebut Dua Segmen Sesar Lembang Masih Aktif, Warga Diminta Tingkatkan Kesiapsiagaan

Sebarkan artikel ini

BANDUNG, TINTAHIJAU.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan aktivitas Sesar Lembang masih menunjukkan tanda pergerakan, terutama pada segmen Cimeta dan Cipogor. Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Teguh Rahayu, menyebutkan kedua segmen tersebut memiliki panjang sekitar 10 kilometer dan berpotensi menimbulkan gempa dengan magnitudo maksimum 5,5.

“Dari skenario peta guncangan magnitudo 5,5, wilayah Kabupaten Bandung Barat berpotensi mengalami dampak guncangan dengan skala V–VI MMI (62–120 gal), yang dapat menyebabkan kerusakan ringan,” ujar Rahayu dalam keterangannya, Kamis (28/8/2025). Ia menambahkan, getaran pada skala tersebut umumnya dirasakan semua penduduk, menyebabkan kepanikan, plester dinding rontok, hingga kerusakan pada cerobong asap bangunan.

BMKG mencatat sejak 25 Juli hingga 20 Agustus 2025 terjadi enam aktivitas kegempaan di segmen Cimeta, dengan magnitudo 1,7 hingga 2,3 dan intensitas terbesar mencapai II–III MMI. Aktivitas ini dipantau melalui jaringan sensor Indonesia Tsunami Early Warning System (INATEWS) dan Lembang Framework.

Kesiapsiagaan Jadi Prioritas

Rahayu, yang akrab disapa Ayu, menekankan pentingnya langkah kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa. Menurutnya, masyarakat perlu memastikan bangunan rumah aman dan tahan gempa, menyiapkan rambu evakuasi di lingkungan keluarga maupun publik, serta melakukan latihan perlindungan diri dengan teori Drop-Cover-Hold On.

“Selain itu, warga juga perlu memiliki tas siaga bencana yang berisi peralatan darurat agar bisa bertindak cepat saat gempa terjadi,” ujarnya. Ia juga mendorong adanya edukasi masif terkait mitigasi gempa, baik melalui penguatan struktur bangunan maupun pemahaman budaya kesiapsiagaan.

Peringatan dari BRIN

Peneliti Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Mudrik Rahmawan Daryono, menambahkan hasil riset paleoseismologi di Batu Lonceng, Kecamatan Cimenyan, menunjukkan gempa besar terakhir di Sesar Lembang terjadi pada abad ke-15. Dengan demikian, wilayah ini sudah memasuki siklus ulang gempa.

“Gempa kecil yang terjadi belakangan ini bisa menjadi peringatan dini, meski tidak selalu diikuti gempa besar. Ada yang berhenti, tapi ada juga yang berlanjut ke gempa besar. Hal ini harus direspons sebagai kewaspadaan, bukan kepanikan,” katanya.

Mudrik menegaskan, hingga kini tidak ada justifikasi pasti kapan gempa besar akan terjadi. Namun ia mengingatkan, kewaspadaan masyarakat merupakan langkah paling penting untuk meminimalisasi risiko.