Profil

Emmy Darmo Suwito: Suara yang Menyapa dari Ufuk Timur

×

Emmy Darmo Suwito: Suara yang Menyapa dari Ufuk Timur

Sebarkan artikel ini

SUBANG, TINTAHIJAU.com – Saat sebagian orang masih terpejam di balik hangat selimut pagi, ketika matahari belum sepenuhnya menyingkap sinarnya di cakrawala, sebuah suara hangat telah hadir lebih dulu. Suara itu menyusuri udara, menembus tembok rumah-rumah kayu pesisir, mengalun lembut di antara deru ombak Tolitoli, Buol, Parigi Moutong. Itulah suara Emmy Darmo Suwito—sapaan merdu yang telah lebih dari dua puluh tahun menjadi teman setia bagi mereka yang memulai hari dengan kerja, harap, dan ketulusan.

Emmy mungkin tidak terlahir sebagai penyiar. Ia tumbuh dari perjalanan panjang seorang anak perempuan yang lahir di Semarang pada 20 Juni 1976, anak kedua dari empat bersaudara, yang menaruh perhatian besar pada kehidupan di sekitarnya. Kisah-kisah tentang orang pesisir, tentang budaya yang kerap terlupakan, dan tentang suara masyarakat kecil yang jarang didengar, membuatnya jatuh cinta pada radio—medium yang menurutnya ‘mampu menjangkau hati tanpa harus terlihat.’

Menapaki Gelombang, Setapak Demi Setapak

Selepas SMA, tanpa ijazah penyiaran, Emmy memberanikan diri melangkah ke dunia yang ia cintai namun selanjutnya ia belajar kepenyiaran sambil terus belajar dari ruang siaran itu sendiri—dari mikrofon pertama yang ia pegang, dari para senior, dari kesalahan-kesalahan kecil yang membentuk ketegasan dan kelembutannya.

Radio swasta adalah rumah pertamanya. Di Tolitoli, ia bersiaran di Radio Magaga dan Radio Bittara, memakai nama udara Indivara Mutia, nama yang kelak ia abadikan untuk putrinya tercinta. Setelah kedua radio itu berhenti mengudara, pengalaman tersebut tidak ikut padam. Justru menjadi bekal yang menuntunnya bergabung dengan Radio Republik Indonesia Tolitoli pada tahun 2002—tempat ia mengabdi hingga kini.

Suara yang Menyentuh Tanpa Sorotan

Di RRI Tolitoli, Emmy tumbuh menjadi penyiar yang identik dengan pagi: dengan petani yang berjalan ke sawah sambil mendengar kabar terbaru, nelayan yang menurunkan perahu penuh harapan, pedagang yang membuka lapak, jemputan pegawai yang melaju sebelum matahari naik, hingga ibu rumah tangga yang menyiapkan sarapan dengan secangkir kopi dan suaranya sebagai teman.

Bagi Emmy, seorang penyiar bukan pembaca naskah. Ia adalah jembatan—antara masyarakat dan informasi yang mereka perlukan. Ia percaya:

Suara sejati tidak diukur dari seberapa keras terdengar,
tetapi dari seberapa dalam ia menyentuh orang lain.”

Karena itu, setiap kata yang ia ucapkan lahir dari ketulusan. Ia sadar, di balik gelombang udara itu, ada pendengar yang mempercayakan paginya pada dirinya.

Dalam langkah panjangnya, Emmy setia pada sebuah prinsip sederhana:

Yang penting tetap membawa manfaat.”

Kalimat itu menjadi fondasi dari setiap program yang ia pandu—Halo RRI, Pro Dangdut, Zona Musik Indonesia, Karaoke di Udara, hingga berbagai segmen layanan masyarakat. Emmy tidak mengejar popularitas. Yang ia kejar adalah makna: menjadi penghubung, menyampaikan yang perlu disampaikan, hadir bagi pendengar yang membutuhkan.

Dan tentu, perjalanan itu tidak selalu mulus. Ada masa ketika kesunyian menjadi teman, ketika keraguan datang mengetuk tanpa diminta, ketika ia harus berdiri tegak meski tak banyak yang menyaksikan. Dari proses itulah ia memahami: bahwa setiap orang punya cara sendiri untuk tetap bersinar—bukan dengan gemerlap, tetapi dengan kejujuran.

Di Luar Studio, Tetap Menyapa

Di luar ruang siaran, Emmy bukan hanya penyiar. Istri dari H Agusti Hi Tinggi yang juga merupakan ibu dari tiga anaknya yakni Rizky Baskara Putra (2005), Reza Dwi Putra (2007), dan Indivara R. Mutiara (2010)—tiga nama yang jika disatukan membentuk akronim ‘RRI’, tempat ia menaruh pengabdian.

Ia juga kreator konten Facebook Pro, aktif menyapa masyarakat lewat media sosial. Selain itu, ia mengelola rumah kos dengan ketelitian yang tak jauh berbeda dari ketika ia mengatur alur siaran di balik mikrofon.

Di penghujung hari, Emmy kerap merenung dalam kesederhanaan: bukan seberapa jauh ia melangkah, tetapi seberapa besar arti yang ia tinggalkan. Bahwa suara yang lahir dari hati akan selalu menemukan pendengarnya—entah di gelombang udara, atau di ruang batin seseorang.

Suara yang Akan Selalu Ada

Hari ini, Emmy Darmo Suwito telah menjadi bagian dari identitas RRI Tolitoli. Suaranya bukan hanya menyapa pagi tetapi juga menghangatkan, menguatkan, dan menyambungkan hati-hati yang tersebar di pesisir Sulawesi Tengah.

Ia membuktikan satu hal sederhana namun agung:

Bahwa manusia tidak harus terlihat untuk berarti.
Kadang, suara yang tulus saja sudah cukup untuk mengubah hari seseorang.

Dan dari ufuk timur, setiap pagi, suara itu masih terdengar—tenang, lembut, dan setia—sebuah pengabdian yang terus hidup, bahkan ketika tidak semua orang menyadarinya.

Penulis: Kin Sanubary | Editor: Oki Rosgani