BANDUNG, TINTAHIJAU.com — Kota Bandung kembali menegaskan diri sebagai pusat kreativitas dengan menjadi salah satu tuan rumah Soundrenaline 2025. Tahun ini, festival musik dan seni tersebut hadir dengan format Sana-Sini atau multilokasi, yang menyebar ke enam titik ikonik di pusat kota.
Hotel Savoy Homann, De Majestic, Kimaya Braga, Filosofi Kopi, Landmark Braga, dan Le Braga Coffee & Kitchen menjadi venue rangkaian program musik, seni visual, hingga berbagai aktivitas kreatif lainnya. Dengan tiga pilar utama—The Stage, The Space, dan The Lab—Bandung menjadi ruang festival yang dinamis, mendorong pengunjung berpindah dari satu titik ke titik lain untuk merasakan keseluruhan pengalaman.
Panggung Tersebar di Enam Lokasi
Format The Stage menghadirkan deretan musisi lintas genre di panggung-panggung kecil dan menengah yang tersebar. Efek Rumah Kaca, Mocca, Pusakata, Bilal Indrajaya, White Shoes and The Couples Company, Endah N Rhesa, hingga kolaborasi 510 x Svarawestjava Orchestra tampil bergantian. Musisi muda dan talenta baru juga diberi ruang menampilkan karya mereka di beberapa venue.
Grup band Mocca menilai konsep panggung tersebar seperti ini efektif dan memberi ruang lebih luas bagi musisi baru. Mereka menyebut format ini mengingatkan pada festival South by Southwest (SXSW) di luar negeri.
“Penyebaran band-nya jadi lebih merata, dan ini memberi kesempatan untuk band-band muda tampil,” kata salah satu personel Mocca.
Antusiasme Pengunjung
Konsep multilokasi mendapatkan sambutan positif dari pengunjung. Rana Ismael (23), pengunjung asal Jatinangor, menilai format ini memberikan pengalaman festival yang berbeda.
“Keren soalnya baru pertama datang ke konser yang pakai konsep gini. Stage-nya di kafe-kafe tapi masih di satu kawasan, jadi enggak terlalu crowded,” ujarnya. Rana bahkan berharap panitia menghadirkan musisi internasional pada penyelenggaraan tahun depan.
Yulia (24), yang mengikuti penampilan Efek Rumah Kaca di Savoy Homann, juga mengaku terkesima. “Keren, baru pertama kali nonton Soundrenaline,” ucapnya singkat.
Ruang Kreatif dan Ekonomi Lokal Bergerak
Selain musik, Soundrenaline 2025 juga menghadirkan The Space yang menjadi pusat kegiatan komunitas kreatif, pasar pop-up, seni visual, hingga suvenir resmi. Beragam aktivitas berlangsung di area ini, mulai dari sablon langsung hingga barista takeover.
Faisal alias Tinteen, seniman tufting dari Hip Huru Hara, menyebut kegiatan kreatif ini turut memperkenalkan seni visual kepada lebih banyak orang. “Aktivitasnya beragam, ada sablon, barista takeover, dan saya melakukan tufting bareng Endah N Rhesa. Jadi lebih menyenangkan,” katanya.
Sementara itu, pilar ketiga, The Lab, menghadirkan sesi diskusi, lokakarya, serta pertukaran pengetahuan yang melibatkan musisi, seniman visual, hingga pelaku industri kreatif lain.
Penyelenggara menyebut format multilokasi ini tak hanya menawarkan pengalaman baru, tetapi juga membawa dampak ekonomi bagi pelaku usaha di sekitar venue dan komunitas kreatif yang terlibat.
Rangkaian Festival Berlanjut
Setelah Bandung, Soundrenaline 2025 akan melanjutkan rangkaian festival ke Palembang pada 6 Desember, sebelum ditutup di Jakarta pada 18–21 Desember mendatang. Sebelumnya, festival ini telah digelar di Makassar dan Medan.
Dengan konsep Sana-Sini yang memecah panggung ke berbagai ruang publik, Soundrenaline 2025 berupaya menghidupkan kota melalui perpaduan musik, seni visual, dan kreativitas komunitas. Sebuah formula baru yang disambut hangat oleh publik Kota Kembang.





