SUBANG, TINTAHIJAU.com – Dalam Kingdom of the Planet of the Apes, masa kejayaan Caesar sebagai pemimpin yang telah kita kenal dalam tiga film sebelumnya telah berlalu. Kini, manusia menghadapi kehancuran yang mendekati akhir.
Virus yang semula memberikan kecerdasan kepada para kera, kini berdampak sebaliknya pada manusia. Kota-kota yang dahulu megah kini menjadi puing-puing yang ditumbuhi oleh berbagai jenis tanaman liar.
Para kera, yang sebelumnya dikenal sebagai makhluk yang sangat cerdas, kini terlihat lebih sederhana. Itulah yang disajikan kepada penonton melalui kisah Klan Elang.
Dalam kisah ini, kita diajak untuk menyaksikan bagaimana suku kera ini menggunakan burung sebagai alat bertahan hidup dan keamanan.
Namun, ketika tiga kera remaja—Noa, Soona, dan Anaya—berusaha mencari telur burung elang untuk sebuah upacara, mereka terganggu oleh kehadiran sosok misterius yang mereka sebut sebagai Echo, yang merupakan sebutan mereka untuk manusia.
Namun, kehadiran Echo hanyalah awal dari permasalahan yang lebih besar. Noa menemukan dirinya dalam situasi yang mencekam ketika suku kera lain menyerang dan menculik keluarganya. Untuk melawan, satu-satunya cara adalah dengan mencari tahu siapa yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Namun, yang ia temui bukanlah jawaban yang ia harapkan.
Dalam ulasan ini, kita akan melihat bagaimana Kingdom of the Planet of the Apes, sebuah film yang merupakan bagian dari reboot serial Planet of the Apes, tidak hanya menjadi sekadar upaya untuk meraup keuntungan semata.
Dengan ditulis oleh Josh Friedman, yang sebelumnya menggarap War of the Worlds versi Spielberg, film ini menegaskan bahwa eksplorasi tema kemanusiaan tidak akan pernah lekang oleh waktu.
Melalui perjuangan karakter-karakternya, film ini memberikan refleksi yang tajam tentang sifat manusia dan keinginan mereka untuk bertahan hidup. Namun, apakah harmoni dapat dicapai ketika setiap makhluk memiliki agenda masing-masing?
Salah satu hal yang menarik dari Kingdom of the Planet of the Apes adalah penggunaannya yang bijak terhadap durasi film. Meskipun durasinya cukup panjang, Wes Ball, sang sutradara, tidak terburu-buru untuk mengisi film dengan adegan-adegan aksi. Sebaliknya, ia menggunakan waktu yang ada untuk memperkenalkan karakter-karakter utama secara mendalam kepada penonton.
Tidak seperti trilogi sebelumnya yang mengandalkan nama besar untuk menarik penonton, film ini memilih aktor-aktor yang tepat untuk memerankan karakter-karakternya. Owen Teague, yang berperan sebagai Noa, mampu membawa karakternya dengan penuh emosi, bahkan dalam bentuk kera.
Dengan klimaks yang memukau, Kingdom of the Planet of the Apes membuktikan bahwa tidak semua blockbuster Hollywood hanya ingin menghibur secara pasif. Film ini mengajak penonton untuk merenungkan pesan yang disampaikannya.
Apakah kesimpulan dari film ini optimis atau pesimis, itu tergantung pada pandangan masing-masing. Yang pasti, film ini meninggalkan kesan yang mendalam dan membuat penonton menantikan kelanjutan petualangan Noa yang berikutnya.





