JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Lebih dari setengah abad berlalu sejak The Rolling Stones dengan percaya diri menyematkan julukan The World’s Greatest Rock & Roll Band pada diri mereka. Namun jauh sebelum slogan itu digaungkan pada akhir 1960-an, band asal Inggris ini sudah lebih dulu membangun fondasi reputasi sebagai kekuatan utama rock dunia—liar, berbahaya, dan tak pernah sepenuhnya jinak.
Berangkat dari skena blues Inggris, The Rolling Stones tampil sebagai antitesis Merseybeat yang ceria. Musik mereka lebih kotor, lebih keras, dan sarat akar blues Amerika. Di garis depan, sang vokalis utama menjelma ikon frontman rock dengan aura maskulin, sinis, sekaligus ironis. Sementara itu, permainan gitar saling mengunci yang dirintis bersama Brian Jones menjadi cetak biru bagi hard rock modern, ditopang seksi ritme yang solid namun tetap berayun.
Popularitas Stones kini menjangkau lintas benua. Basis pendengar mereka tersebar luas, dengan kota-kota seperti Mexico City (567.301 pendengar), London (494.618), Sydney (372.761), São Paulo (366.798), dan Melbourne (323.935) menjadi pusat perhatian global—sebuah bukti daya hidup band yang melampaui generasi.

Dari Blues Club hingga Panggung Dunia
Kisah Stones berakar dari pertemuan masa kecil dua sosok sentral band yang kembali bersua pada awal 1960-an dan menyatukan kecintaan pada blues. Formasi awal mereka ditempa di klub-klub kecil London, sebelum akhirnya menemukan identitas sebagai The Rolling Stones—nama yang dipinjam dari lagu blues klasik.
Penampilan perdana mereka di Marquee Club pada Juli 1962 menjadi titik awal perjalanan panjang. Tak lama kemudian, residensi di Crawdaddy Club melambungkan nama mereka dan menarik perhatian manajer visioner yang membentuk citra Stones sebagai “anak nakal” British Invasion, kontras dengan rival mereka yang lebih rapi dan manis.
Kesuksesan demi kesuksesan pun mengalir. Dari single awal yang masih berupa lagu cover, Stones mulai didorong menulis materi sendiri. Ledakan sesungguhnya terjadi pada 1965 lewat “(I Can’t Get No) Satisfaction”—lagu dengan riff fuzz ikonis yang mengukuhkan mereka sebagai superstar global dan penulis lagu kelas dunia.

Eksperimen, Skandal, dan Era Keemasan
Tak puas berdiam di satu formula, The Rolling Stones menjelajah berbagai warna musik: pop, psikedelia, hingga nuansa Timur. Album Aftermath dan Between the Buttons menandai fase eksperimental, sementara Their Satanic Majesties Request menjadi respons mereka terhadap tren psikedelia kala itu.
Namun perjalanan ini juga dibayangi tragedi. Penangkapan narkoba, konflik internal, hingga kepergian dan kematian Brian Jones pada 1969 menjadi luka mendalam. Di tahun yang sama, insiden kelam di konser Altamont menandai runtuhnya mimpi hippie Amerika.
Meski demikian, Stones bangkit dengan deretan album monumental seperti Beggar’s Banquet, Let It Bleed, Sticky Fingers, dan mahakarya yang awalnya diremehkan, Exile on Main St.—kini dianggap salah satu album rock terbaik sepanjang masa.
Bertahan Melintasi Zaman
Memasuki 1970-an hingga 1980-an, Stones tetap relevan meski diterpa perubahan tren, konflik internal, dan proyek solo para personelnya. Album Some Girls membuktikan kemampuan mereka merespons punk dan disko, sementara Tattoo You kembali menguasai tangga lagu lewat “Start Me Up”.
Era 1990-an hingga 2000-an ditandai tur raksasa, album yang disambut positif, serta pengakuan industri, termasuk Grammy untuk Voodoo Lounge. Dokumenter, rilisan arsip, dan konser ikonik—dari Havana hingga Hyde Park—mengukuhkan status mereka sebagai band hidup paling berpengaruh.
Warisan yang Terus Berdenyut
Kepergian drummer legendaris pada 2021 menjadi pukulan berat, namun Stones memilih terus berjalan. Album Hackney Diamonds (2023) menjadi bukti bahwa kreativitas mereka belum padam. Album ini bukan hanya sukses komersial, tetapi juga menyabet Best Rock Album di Grammy 2025—prestasi luar biasa bagi band yang lahir lebih dari 60 tahun lalu.
The Rolling Stones bukan sekadar band. Mereka adalah institusi budaya, penggerak estetika, dan sumber inspirasi lintas generasi. Dari blues club sempit di London hingga stadion raksasa dunia, denyut rock & roll mereka masih terasa—keras, berani, dan tak tergantikan.
Sumber: Spotify.com





