FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Menengok Jembatan Goyang di Kecamatan Ciasem





Jipah (60), seorang nenek renta penjaga pintu jembatan gantung menuturkan jembatan ini dibangun oleh mertuanya pada tahun 1965 dengan modal sendiri dari hasil menjual kerbau. Saat itu, mertua Jipah menghabiskan dana Rp200 ribu.

"Jembatan ini dibangun oleh mertua saya pada tahun 1965 dengan modal Rp200 ribu dari hasil menjual kerbau. Saya dan suami saya (Darman) telah puluhan tahun mengelola jembatan ini sebagai mata pencarian," tutur Jipah pada TINTAHIJAU.com Kamis (9/1/2014).

Setiap hari Jipah dan Darman menjaga pintu jembatan secara bergantian. Masyarakat yang menafaatkan akses jalan penghubung itu membayar secara sukarela kepada Jipah atau Darman. Dalam sehari, kata Jipah, dirinya mendapatkan sekitar Rp70 ribu.

Setiap hari jembatan ini ramai dilalui pengendara sepeda motor yang berjualan ke Tanjung tiga, anak-anak sekolah dan masyarakat sekitar yang bertani di Desa Muara. Sayangnya kondisi jembatan kayu itu saat ini sudah memprihatinkan. Selain usianya yang cukup tua, saat hujan tutun, jembatan itu licin.

Minimnya pendapatan dari hasil menjaga pintu jembatan, Darman kesulitan untuk memperbaiki. "Jembatan ini sudah sering diperbaiki, tahun 2004 Seling baja diganti. Selama ini saya mengunakan uang pribadi untuk biaya memperbaiki, dari pemerintah Desa belum mendapat bantuan," terang Darman.

Darman berharap, kendati belum terjadi kecelakaan, pihak pemerintah segera melakukan tindakan perbaikan. Darman khawatir, kondisi jembatan
yang tidak memprihatinkan itu akan mengakibatkan fatal bagi masyarakat. [jody winata]

 

Berita Selengkapnya Klik di Sini

Berita lain terkait klik di sini



TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Kenali Mitos-Mitos Seputar Kontrasepsi yang Tidak Boleh Anda Percaya https://t.co/ipPKujbNKu
Tiga Pejabat Posisi Vital di Lingkungan Pemkab Subang Pensiun https://t.co/4I5brX59KS
Jose Mourinho Kritik Kinerja Wasit Saat Roma Takluk dari Lazio https://t.co/P45dzDT5d6
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter