SUBANG, TINTAHIJAU.com – Ahli Gizi Masyarakat, Dokter Tan Shot Yen, mengungkap fakta mengejutkan terkait produk makanan dan minuman yang berlabel “NO SUGAR”.
Dalam sebuah diskusi kesehatan yang diadakan melalui akun resmi Kementerian Kesehatan, Dokter Tan menjelaskan bahwa produk dengan label tersebut justru bisa lebih berbahaya daripada yang mengandung gula.
Fenomena ini tentu menimbulkan pertanyaan: bagaimana hal itu bisa terjadi?
Menurut Dokter Tan, label “no sugar” atau “zero sugar” seringkali menimbulkan kesalahpahaman. Meskipun terdengar sebagai alternatif yang sehat, sebenarnya produk tersebut mengandung pemanis buatan seperti aspartam, xylitol, malitol, dan sorbitol.
Kesalahpahaman inilah yang dapat memicu konsumsi berlebihan, karena orang cenderung menganggap produk tersebut aman. Dampak psikologisnya pun tak kalah penting; konsumen cenderung kehilangan kewaspadaan karena mengira produk “tanpa gula” adalah pilihan yang bebas dari risiko.
Dalam konteks kesehatan, Dokter Tan juga memperingatkan tentang risiko penggunaan aspartam, salah satu pemanis buatan yang sering digunakan. Menurutnya, aspartam dapat meningkatkan risiko kanker, sehingga konsumen perlu berhati-hati dalam memilih makanan yang mengandung bahan tersebut.
Tidak hanya itu, Dokter Tan juga menyoroti kebiasaan memberikan hadiah berupa makanan dan minuman manis kepada anak-anak.
Menurutnya, hal ini dapat memicu kecanduan pada rasa manis, karena otak akan merespon dengan meningkatkan produksi hormon dopamin dan serotonin, yang pada akhirnya dapat menimbulkan kecanduan.
Oleh karena itu, penting bagi para orang tua untuk memperhatikan pola makan anak-anak mereka sejak dini, serta meningkatkan kesadaran akan makna sebenarnya di balik label “no sugar”.
Selain itu, konsumen pun perlu lebih cermat dalam memilih produk makanan dan minuman, dengan membaca komposisi dan memahami potensi risiko kesehatan yang terkait.
Dengan demikian, informasi yang disampaikan oleh Dokter Tan menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap produk yang diklaim “tanpa gula”, serta untuk lebih memahami dampak kesehatan yang mungkin terjadi akibat konsumsi berlebihan pemanis buatan.
Sumber: KOMPAS.tv





