FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Mumpung Zona Hijau, Perlukah Subang Lock Down Lokal?

Kian hari, jumlah pasien positif corona kian bertambah. Bahkan sejumlah daerah di Indonsesia ditetapkan sebagai zona merah covid-19.

Tidak itu saja, Kota Tegal dan Papua sudah mengambil langkah berani datau berlawanan dengan pemerintah pusat. Kedua daerah itu mengambil keputusan untuk lockdown. Ini dilakukan guna memutus mata rantai penyebaran virus corona di daerah tersebut

Di Subang hingga Jumat (27/3/2020), belum terdapat satu pasien yang dinyatakan positif corona. Namun orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) mengalami peningkatan. Artinya Subang masih dalam zona hijau corona.

Kendati begitu, Pemerintah dengan menggandeng institusi lain seperti Polres dan Kodim berupaya keras untuk mencegah terjadinya penyebaran virus corona secara massif. Sejumlah upaya sudah dilakukan mereka.

Keputusan pertama, Pemerintah menerbitkan Surat Edaran diantaranya terkait libur sekolah, bekerja dari rumah bagi ASN, penutupan obyek wisata, dan surat himbauan untuk perusahaan.

Belum tuntas sampai di sana, Pemkab menggandeng Polres dan Kodim untuk melakukan sosialisasi gerakan Diam di Rumah Saja hingga tingkat desa. Bahkan, mereka melakukan patroli malam dan membubarkan kumpulan warga.

Bukan saja meliburkan dan diam di rumah, upaya lain yang dilakukan Pemkab adalah dengan melakukan penyemprotan cairan disinfektan di Jalanan Protokol Subang Kota. Penyemprotan ini secara bertahap dilakukan ke tingkat kecamatan bahkan desa-desa.

Terbaru, DKM Masjid Agung Al-Musabaqah menutup smeentara akvititas shoolat Jumat nagi jamaah. Sekali lagi, ini semata-mata ikhtiar dalam rangka memangkas mata rantai penyebaran virus corona.

Sekali lagi, Subang masih zona hijau corona. Ikhtiar yang dilakukan Pemkab patut diapreisasi, sebagai upaya untuk tidak sampai pada titik zona merah corona. Kalau kata orang sunda, kagok edan kadung geus ngajedog di imah muncul wacana di social media, permintaan Pemkab mengambil sikap lebih tegas lagi, dengan melakukan lock down lokal. Ya mumpung di Subang belum ada positif

Wacana itu bukan semata-mata latah atau ikut-ikutan. Apalagi, Presiden sudah memutuskan tidak ada lock down di Indonesia. Namun begitu, secara geograpis Subang bersebalahan dengan Karawang dan Kabupaten Bandung yang sudah dinyatakan zona merah.
 
Selain alasan itu, alasan lock down perlu diterapkan, mengingat, tidak sedikit warga Subang yang bekerja di daerah-daerah yang diantaranya merupakan daerah zona merah, seperti Bekasi, Depok, Bogor dan Jakarta serta Tangerang. Bahkan, banyak warga Subang yang menjadi TKI di laur negeri

Dalam logika sederhana, ketika upaya pemerintah setempat dengan beberapa ikhtiar pencegahan virus corona seperti di atas tadi, namun di satu pihak, Subang masih well come menjadi daerah hilir mudik atau keluar masuk warga dari luar daerah.

Bukan untuk menjustifikasi, mereka yang masuk ke Subang adalah terpapar covid-19, namun dalam rangka antisipasi, dikhawatirkan mereka yang datang atau masuk ke Subang justru malah membawa atau menjadi agen penyebaran virus corona.

Jika demikian, upaya pemerintah, atau warga yang dengan kebosanannya harus bertahan di rumah saja, akan menjadi sia-sia. Saat kita serius menghindari penyebaran virus corona, namun di satu sisi kita memberi ruang untuk mereka datang ke Subang, yang belum tentu mereka terbebas dari virus corona

Lock Down, memang bukan permasalahn sederhana. Namun membuka 'pintu seluas-luasnya' bagi mereka yang masuk ke Subang dikhawatirkan akan membuka permasalahan serius. Tentu saja, dengan kebijakan lock down akan ada konsekwensi tersendiri, terlebih di bidang ekonomi, yang harus dihitung.

Lalu, apakah Subang perlu dilakukan lock down? saya hanya akan mengatakan, sepenuhnya mendukung kebijakan pemerintah untuk melindungi warganya dari ancaman virus corona yang datang dari berbagai penjuru dan lini

Sebagai kalimat penutup, meminjam kalimat Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono yang memutuskan untuk menutup akses masuk ke Tegal mulai 30 Maret sampai 30 Juli 2020: "Warga harus bisa memahami kebijakan yang saya ambil. Kalau saya bisa memilih, lebih baik saya dibenci warga daripada maut menjemput mereka,"

Wallahu alam bishawab

Tepar Ngopi di tengah waspada diri



FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

TRENDING TOPIC

TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Update Covid-19 di Majalengka: Tambah Satu Orang, Tiga Orang Dinyatakan Sembuh https://t.co/xo1bBpscvg
Siap-siap! 30 September Ada Pemadaman Listrik di Subang, Cek Lokasinya https://t.co/15RIuilMa1
Bupati Subang Usulkan Rp3 Juta Pertahun Juta untuk Ketua RT https://t.co/paPjn3E1OT
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter