FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Gaduh Mudik 2021, Memilih Pelaksanaan Kata Perpisahan

Indeks Artikel



Waktu Jalan Tol Cipali belum ada, ribuan bahkan jutaan pemudik menyemut di jalur Pantura dan atau lewat jalur Cikamurang yang mengubungkan Sadang Purwakarta menuju Palimanan Cirebon.

Biasanya, di H-5 sampai H-3 Lebaran jalanan Pantura dan Cikamurang padat merayap, efek dari peningkatan gila-gilaan volume kendaraan. Kalau sudah begini, petugas, baik Polisi, Satpol PP atau Dishub suka mengalihkan rute jalan.

Naluriyah lah ya, kalau saya sempat ngenes liat pemudik yang diover jalur, dan dialihkan jalur mudik yang mereka sendiri seperti pasrah, malah sampe masuk jalanan kampung.

Saya termasuk pemudik yang harus diover jalur ke jalan kampung, menyusuri rumah-rumah warga dengan kondisi jalan yang sing penting ada dan bisa dilewati. Efeknya, Subang-Majalengka dengan melewati daerah Indramayu, dan Sumedang yang biasa 2 jam sudah sampai rumah, harus ditempuh dengan jam berlipat lipat ganda

Ya, satu waktu, setelah sampailah di kampung halaman di daerah Majalengka, menyaksikan ratusan kendaraan yang didominasi motor itu melintas di jalan depan rumah tepat di malam takbiran.

Sumpah ini ngenes banget dan bikin nyesek. Apalagi liat pemudik motor yang bonceng anak-anak. Terpikir waktu itu, capek, lelah ngantuk gak lagi jadi penghalang demi pertemuan dengan keluarga di kampung halaman.

Nah beberapa tahun ini, sudah ada Tol Cipali. Dua jalur primadona mudik itu sepi. Kendaraan memilih Tol Cipali kecuali motor. Meskipun jalan kadang tersendat karena padat merayap, tapi dengan adanya tol, pemudik gak diputer-puterin.

Semacam ada euporia bagi pemudik saat melintas di jalan tol Cipali. Maklum saja, Tol Cipali terbilang masih baru lah. Celakanya, euporia mudik lewat tol, dua tahun terakhir ini Pemerintah mengeluakan kebijakan soal mudik lebaran

Lebaran saat ini, lebaran kedua era Pandemi, secara jelas dan tegas pemerintah melarang untuk mudik lebaran, khawatir jadi Boomerang dan bom waktu dengan penyebaran Covid-19. Apalagi, sebelumnya ramai berita kejadian mengerikan di India

Mudik dan Covid....





Meskipun Pemerintah sudah mengancam banyak sanksi, dari sanksi rupiah sampai putar balik, tapi udah jutaan warga yang diem diem udah tinggalin ibu kota

Beberapa diantara mereka bilang: aman aman kok, gak ada Penyekatan atau razia. Iya, ini sebenarnya nasib nasiban, bukan kesimpulan. Ya kalo nasib mujur, bisa sampai kampung halaman. Lah yang lagi gak mujur? Dalam beberapa media online, mengangkat berita pemudik menangis karena diputar balik petugas.

Sakit gak, sakit gak, sakit gak? Pasti sakit lah, malah campur kecewa. Wajar ketika mau mudik semua udah dipersiapkan, malah udah pamit ke tetangga kanan kiri, udah telpon orang di kampung, suasana mental udah di kampung dengan sejuta rencana

Dan belum juga sampai, petugas melaksanakan tugas. Periksa surat kendaraan, periksa antigen, izin keluar daerah. Gak ada salah satunya, resiko terburuknya adalah putar balik saat mental udah di kampung halaman...

Siapa yang salah? Gak ada yang harus disalahkan, karena yang satu bicara rindu dan rasa yang satu bicara tugas dan perintah.

Tapi ada benang merah yang dari sisi lain bisa diambil kesimpulan. Percaya dulu adanya Covid yang misterius, yang jadi biang kerok dari semuanya.

Karena jangan kan kita terkonfirmasi Covid, diputar balik pas mudik itu, sakitnya gak cuma di sini di sini, tapi dimamana

Saya percaya Covid? Iya, meskipun seperti halu, tapi saya gak mau membuktikannya sendiri. Ogah percaya Covid, setelah kita bener bener kena Covid

Justru saya termauk yang psikosomatik. Kata google, gangguan psikosomatik adalah keluhan fisik yang timbul atau dipengaruhi oleh pikiran atau emosi, bukannya oleh alasan fisik yang jelas, seperti luka atau infeksi.

Jadi, setiap kali ngobrol bahas covid-19 atau sempat berada di kerumunan yang berpotensi, fisik saya langsung merespon, semua jadi seolah-olah. Dan ini gak enak banget, sumpah.

Saya Mudik? Engga! Saya cukup telpon ke ortu, kondisi yang memaksa kita untuk berpisah saat lebaran. Tapi ini jadi pilihan terbaik, daripada harus ada kata perpisahan untuk selamanya.

Soal kangen dengan keluarga, jangan ditanya kagi. Secuek-cueknya orang, seperti saya ini, dia pintar menyimpan sejuta rindu untuk keluarga.

Umur di tangan Tuhan, itu benar. Tapi siapa yang tahu, diantara kita; kami atau keluarga, atau juga tetangga, yang terkonfirmasi Covid dan jadi washilah untuk perpisahan selamanya?

Wallahu alam


Annas Nashrullah


FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.



TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Jadwal Sholat Fardhu untuk Wilayah Majalengka Pada 23 Oktober 2021 https://t.co/TcVFRJoKHB
Jadwal Sholat Fardhu untuk Wilayah Subang Pada 23 Oktober 2021 https://t.co/q7oFJkFzbo
Jawaban Menohok Wanita Indonesia yang Menikah dengan Pria Asing Saat Netizen Bilang Tak Pantas https://t.co/Wu24Eg5UJO
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter