Parno Lihat Orang Lain Bersin Karena Takut Virus Corona?



Ketika Anda melihat orang bersin-bersin membuat parno (paranoid) bahwa itu virus corona? Sebelum parno duluan, Anda harus tahu kalau bersin bukanlah gejala umum Covid-19.

Gejala umum Covid-19 adalah demam dan batuk kering disertai kelelahan, mual, sakit badan, napas pendek hingga malasah saluran pencernaan. Melansir dari Business Insider melalui berbagai organisasi kesehatan resmi, gejala bersin lebih umum terjadi pada orang yang menderita flu biasa dan alergi.

BACA JUGA:
Susu Jahe Jawara Penangkal Virus Corona dari Subang
Ramadan Segera Datang, Netizen Berharap Corona Segera Berlalu


Kemudian, gejala hidung berair juga terjadi pada penderita flu biasa dan alergi, ini jarang terjadi pada penderita Covid-19.
Bagi beberapa orang, perubahan cuaca bisa memicu reaksi alergi dan gejala alergi musiman antara lain bersin, hidung tersumbat, dan mata gatal.

Subinoy Das, kepala petugas medis di Tivic Health, mengatakan flu biasa jarang menyebabkan sesak napas setelah demam berkembang.

"Influenza meniru COVID-19 dengan sangat erat, tetapi sesak napas biasanya tidak separah COVID-19," kata Das.

COVID-19 ditandai sesak napas sering terjadi 5 sampai 10 hari setelah tanda pertama demam, tambah Das.

"Dalam sebuah laporan dari China lebih dari 1.000 pasien, hidung tersumbat hanya terlihat pada satu dari setiap 20 pasien," Dr. Kristine S. Arthur, ahli penyakit dalam di MemorialCare Medical Group di Laguna Woods, California.

Alergi, di sisi lain, biasanya muncul dengan gejala ada-tidak selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun, kata Dr. David M. Cutler, dokter keluarga di Pusat Kesehatan Saint John di Santa Monica, California.

"Alergi seharusnya tidak menyebabkan demam atau sakit tubuh," kata Arthur.

"Secara umum, tidak ada batuk kecuali kita memiliki banyak drainase hidung." tambah Arthur.

Alergi juga dapat menyebabkan mengi (napas berbunyi), tambahnya, terutama pada penderita asma.

"Gejala alergi cenderung bervariasi dengan lingkungan: memburuk dengan paparan debu, serbuk sari, atau bulu binatang, sedangkan gejala dingin cenderung bertahan terlepas dari waktu, cuaca, lokasi, atau faktor lingkungan lainnya," kata Cutler.

Juga, seperti halnya COVID-19, "Pilek lebih cenderung memiliki gejala umum seperti demam, sakit kepala, dan nyeri tubuh, sedangkan alergi biasanya hanya memengaruhi saluran pernapasan," kata Cutler.

“Gejala alergi cenderung membaik dengan antihistamin dan obat khusus alergi lainnya. Pilek lebih cenderung merespons dekongestan, asetaminofen, cairan, dan istirahat." tutupnya.

Sumber: nakita | Foto: Pexels

FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
IG & YT: TINTAHIJAUcom
E-Mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.


Twitter Update

Waspada Modus Baru Peretasan WhatsApp, Jangan Sampai Anda Terkecoh https://t.co/vk0t2Z1qJ6
Pemdes Cihambulu Gelontorkan Rp64.2 Juta untuk Bantu Warga Terdampak Covid-19 https://t.co/omVIQVzG2S
Bulan Juni Ini Akan Ada 14 Fenomena Alam Langka, Catat Tanggalnya https://t.co/9rdosQCNEh
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter