Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan pendidikan bagi jiwa. Di dalamnya, Allah menguji hati manusia, termasuk penyakit yang sering tidak disadari: kesombongan.
Kesombongan adalah salah satu penyakit hati yang paling berbahaya. Ia tidak selalu terlihat dalam sikap yang kasar atau angkuh. Kadang ia bersembunyi dalam rasa merasa lebih baik dari orang lain, merasa lebih suci, lebih kaya, lebih berilmu, atau lebih berkuasa.
Padahal dalam pandangan Allah, kesombongan adalah sifat yang sangat dibenci. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.
Ramadan datang untuk menggugurkan kesombongan itu.
Ketika seorang manusia yang biasanya hidup berkecukupan harus menahan lapar dan haus sepanjang hari, ia mulai menyadari bahwa dirinya sebenarnya tidak sekuat yang ia bayangkan.
Tubuh yang biasanya penuh tenaga bisa menjadi lemah hanya karena tidak makan dan minum beberapa jam.
Di saat itulah kesadaran muncul: bahwa manusia hanyalah makhluk yang sangat bergantung pada nikmat Allah.
Ramadan juga mengajarkan bahwa semua manusia sejatinya sama di hadapan Allah. Orang kaya dan orang miskin sama-sama menahan lapar. Pejabat dan rakyat biasa sama-sama berpuasa.
Tidak ada keistimewaan duniawi yang membuat seseorang terbebas dari kewajiban itu.
Semua berdiri sebagai hamba di hadapan Tuhannya.
Di masjid-masjid saat salat tarawih, barisan jamaah berdiri sejajar. Tidak ada kursi khusus bagi yang kaya atau yang berkuasa. Semua tunduk dalam ruku dan sujud kepada Allah.
Momen seperti ini mengingatkan bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari status dunia, tetapi dari ketakwaannya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa yang paling mulia di sisi-Nya adalah orang yang paling bertakwa.
Ramadan juga menguji kesombongan melalui amal ibadah. Ketika seseorang rajin membaca Al-Qur’an, rajin salat malam, atau banyak bersedekah, ada godaan halus yang sering datang: rasa bangga pada diri sendiri.
Jika tidak hati-hati, ibadah yang seharusnya mendekatkan kepada Allah justru berubah menjadi jalan menuju kesombongan spiritual.
Karena itu para ulama selalu mengingatkan bahwa amal yang paling berharga bukan hanya yang banyak, tetapi yang paling ikhlas.
Ramadan mengajarkan kita untuk memperbanyak ibadah sambil tetap menjaga kerendahan hati. Kita berpuasa bukan karena kita lebih saleh dari orang lain, tetapi karena kita adalah hamba yang penuh dosa dan berharap ampunan dari Allah.
Di bulan ini, seharusnya kita lebih mudah menangis dalam doa, lebih mudah meminta maaf, dan lebih mudah merendahkan diri di hadapan Allah.
Karena semakin seseorang mengenal Tuhannya, semakin ia menyadari betapa kecil dirinya.
Pada akhirnya, Ramadan adalah bulan yang menundukkan ego manusia. Ia mengikis kesombongan sedikit demi sedikit, melalui lapar, melalui ibadah, dan melalui kesadaran bahwa semua nikmat berasal dari Allah.
Dan ketika kesombongan itu runtuh, barulah hati menjadi tempat yang layak bagi ketakwaan.
Sebab di hadapan Allah, bukan orang yang paling tinggi kedudukannya yang dimuliakan, tetapi orang yang paling rendah hatinya.
Annas Nashrullah, Penulis adalah Jurnalis di Kabupaten Subang





