Persikas Subang bukan sekadar klub sepak bola. Ia adalah simbol harapan, identitas, dan kebanggaan masyarakat Kabupaten Subang. Setelah bertahun-tahun berkutat di level bawah, mereka akhirnya berhasil menembus Liga 2, sebuah pencapaian yang tak hanya lahir dari kerja keras manajemen dan pelatih, tetapi juga dari semangat dan loyalitas tanpa henti para pendukungnya, Super Sub.
Namun euforia itu tak bertahan lama. Kabar mengejutkan datang: lisensi keikutsertaan Persikas di Liga 2 resmi diakuisisi oleh klub baru bernama Sumsel United, yang akan bermarkas di Palembang. Praktis, Persikas kini terdegradasi secara administratif dan harus kembali memulai dari bawah.
Dari Kebangkitan ke Kejatuhan
Kebangkitan Persikas sebenarnya sangat inspiratif. Di bawah kepemimpinan Ahmad Buhori dan manajer H. Oom Abdurohman, ditambah racikan pelatih Dindin Wahyudin, klub ini berhasil mengubah diri dari “pemasok pemain” menjadi tim yang kompetitif. Stadion yang sebelumnya sepi, kini kembali menggema oleh sorakan Super Sub. Mimpi untuk naik kasta terasa semakin nyata — dan akhirnya benar-benar tercapai.
Namun Liga 2 bukan hanya soal skill dan semangat. Ia adalah kompetisi yang menuntut stabilitas finansial, infrastruktur, dan manajemen yang matang. Dan di titik inilah mimpi Persikas mulai retak. Biaya operasional yang menembus angka Rp15-20 miliar per musim jelas terlalu berat ditanggung sendirian. Realitas berbicara: klub harus memilih antara bertahan dalam kepayahan atau menyerahkan lisensinya demi keberlangsungan.
Yang menyakitkan bukan semata karena lisensi berpindah tangan, tetapi karena rasa ditinggalkan. Suporter dan pengurus telah berupaya menjalin komunikasi dengan pemerintah dan pelaku usaha lokal. Namun sayang, respons yang diharapkan tak kunjung datang.
Bagaimana mungkin klub sebesar Persikas, yang membawa nama Kabupaten Subang di kancah nasional, tak mampu menarik perhatian Pemkab maupun Pemprov? Bahkan saat Gubernur Jawa Barat adalah putra daerah Subang, harapan itu tetap bertepuk sebelah tangan.
Sementara di daerah lain, sinergi antara klub, pemerintah, dan pengusaha lokal melahirkan klub-klub kuat, Subang justru harus menyaksikan klub kebanggaannya ‘hijrah’ ke provinsi lain.
Lisensi Hilang, Tapi Jiwa Persikas Masih Ada
Meski lisensi Liga 2 kini dimiliki Sumsel United, manajemen menegaskan bahwa Persikas tidak bubar. Klub akan tetap eksis, meski harus memulai lagi dari kasta bawah.
Dan di sinilah letak harapan yang harus dijaga: bahwa Persikas bukan sekadar soal lisensi atau kasta liga. Ia adalah semangat, warisan, dan identitas Subang. Selama ada anak-anak muda yang masih bermimpi mengenakan jersey biru, selama Super Sub masih bersuara di tribun, maka Persikas belum mati.
Catatan untuk Masa Depan
Ada banyak pelajaran dari episode ini. Bahwa kebangkitan klub sepak bola bukan hanya soal prestasi di lapangan, tapi juga tentang keberanian sistemik: profesionalisme manajemen, keberpihakan pemerintah, dan kolaborasi publik-swasta.
Kita tak bisa membangun klub profesional hanya dengan semangat, butuh dukungan nyata. Jika tidak, Persikas hanyalah satu dari banyak kisah tentang mimpi besar yang harus menyerah pada realitas.
Namun harapan belum padam. Seperti kata Coach Gultom, “Kami ikhlas, tapi bukan kami menyerah.” Kalimat ini bukan hanya pesan perpisahan, tapi deklarasi bahwa Persikas, dalam bentuk apa pun, akan terus hidup.
Dan tugas kita semua, warga Subang, adalah memastikan nyala itu tak pernah padam.
Annas Nashrullah, Jurnalis di Warung Kopi





