FOLLOW SOCMED:

           

@TINTAHIJAUcom

Antara Linieritas, Kreativitas, dan Produktivitas

Kisah seorang montir tamatan Sekolah Dasar (SD) yang berhasil merakit sebuah pesawat terbang  menggunakan bahan baku seadanya menjadi salah satu berita paling menghebohkan di tanah air.

Kegigihan serta kreativitasnya dalam menciptakan kendaraan impian yang bisa membawa dirinya berjalan – jalan di atas awan nyatanya membuahkan hasil dan menginspirasi banyak orang. Hal ini sekaligus merupakan tamparan bagi mereka yang mengaku berpendidikan tinggi dengan sederet titel namun miskin akan karya.

Fenomena tersebut menunjukkan, dalam kehidupan yang sedang kita jalani saat ini, kompetensi serta kreativitas jauh lebih menentukan kesuksesan seseorang dibandingkan dengan gelar pendidikan. Gelar atau titel hanya sekedar tanda bahwa seseorang pernah mengikuti proses pendidikan di lembaga pendidikan formal.

Adapun kompetensi hanya dapat diperoleh dengan cara terus belajar dan latihan secara konsisten. Demikian pula dengan kreativitas yang hanya dimiliki orang – orang dengan keinginan kuat untuk mencapai tujuannya.

Dalam konteks peningkatan kompetensi guru, aspek linieritas sebagai salah satu persyaratan untuk mengikuti program Pendidikan Profesi Guru (PPG) nampaknya menjadi tidak relevan lagi.

Kenyataan menunjukkan, tidak sedikit guru yang berlatarbelakang non kependidikan mampu bekerja secara profesional dan sangat produktif dalam menghasilkan karya – karya pembelajaran.

Sebaliknya, kita juga sering menyaksikan ada sebagian guru yang memiliki kesesuaian ijazah dengan mata pelajaran yang diampu (linier) namun tidak mampu menunjukkan performa yang menggembirakan. Selain dikarenakan faktor usia, kurangnya motivasi untuk terus belajar juga menjadi penyebab rendahnya produktivitas guru.

Di sisi lain, tingginya tuntutan kepada guru untuk terus meningkatkan kompetensinya seyogyanya dijawab pemerintah dengan memberikan berbagai kemudahan. Pemerintah tidak selayaknya memberlakukan berbagai aturan yang menyulitkan para guru untuk meningkatkan kompetensinya.

Pemerintah hendaknya fokus pada substansi dalam melakukan seleksi peserta PPG. Artinya, guru – guru yang telah menunjukkan performa terbaiknya sebaiknya lebih diutamakan daripada mereka yang bekerja seadanya sekalipun ijazahnya linier.

Adapun supervisi secara berkala yang dilakukan oleh kepala sekolah dapat dijadikan salah satu acuan oleh pemerintah dalam menentukan calon peserta PPG. Supervisi yang dilakukan secara objektif dan transparan akan mampu menggambarkan kinerja guru yang sesungguhnya.

Selain itu produktivitas guru pun hendaknya benar – benar diperhatikan dalam proses seleksi calon peserta. Produktivitas tersebut setidaknya tercermin dari kehadiran serta berbagai jenis media pembelajaran yang dibuat dan digunakan oleh guru di dalam kelas. Selain itu Penelitian Tindakan Kelas (PTK) serta tulisan para guru yang dimuat di media massa pun dapat dijadikan indikator bahwa guru tersebut benar – benar produktif.


Untuk meningkatkan mutu pendidikan di tanah air, pemerintah hendaknya mampu mengeluarkan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Memberikan kesempatan seluas –luasnya kepada mereka yang memiliki keinginan kuat untuk meningkatkan kompetensinya tanpa harus terganjal aspek linieritas mutlak dilakukan. Dengan demikian, harapan akan lahirnya generasi unggul berkarakter pun dapat benar – benar terwujud.
 

Ramdan Hamdani, Praktisi Pendidikan


TRENDING TOPIC

Banner Kanan 1
TINTAHIJAU CHANNEL

Twitter Update

Hal yang Perlu Dihindari Saat Pertama Kali Ketemuan Dengan Calon Mertua https://t.co/7kPIY1B1f8
Ternyata Ini yang Bisa Bikin Kulit Lebih Glowing Tanpa Makeup https://t.co/TGSBf4sjNl
Ini Dia Profile dan Photo Pedangdut Cantik Wika Salim https://t.co/8qGeb1HO5J
Follow TINTAHIJAU.com on Twitter

Facebook Page