Pemerintahan

  1. Eksekutif
  2. Legislatif
  3. Politik
  4. Subang Jawara

Menurut data terakhir tentang jamaah haji dan calon jamaah haji terjadi peningkatan signifikan haji dan calon jamaah haji yang berasal dari guru dan dosen. Hal ini disinyalir dari meningkatnya jumlah guru dan dosen sertifikasi, sehingga secara berkelakar haji yang guru ini disebut “haji sertifikasi”.

Istilah ini menyusul istilah yang lebih dulu mapan seperti ”haji abidin” (atas biaya dinas) ”haji mansur” (halaman digusur, berangkat haji dengan biaya dari uang hasil tanah halaman rumah yang gusur karena terkena proyek pelebaran jalan, perluasan sungai dll), “haji wahyu” (sawahe payu/sawahnya laku, yang berangkat haji dengan menjual sawah) “haji padoli” (apa-apa didoli, berangkat haji dari menjual hasil bumi seperti pohon dll) dan terakhir “haji tower” (biaya haji  karena tanahnya disewa untuk tower sebuah perusahaan telepon seluler).

Apapun semoga semua menjadi haji mabrur, haji yang balasannya tidak lain kecuali surga, karena perubahaan sang haji menjadi lebih baik setelah melaksanakan haji.

Tapi makalah ini tidak dalam kapasitas membicarakan haji tetapi pada figur pendidik yaitu gurudandosentermasukdidalamnya tutordansebutan-sebutanlainnya.

Data diatas hanya untuk menyampaikan bahwa terjadi perubahan yang signifikan mengenai kesejahteraan guru, sehingga kedepan  tidak ada lagi profil guru dandosensebagaimana yang dinyanyikan Iwan Fals “Oemar Bakri”, dalam kontek yang lebih luas, dalam berbangsa dan bernegara hal ini menunjukan  peningkatan perhatian dari pemerintah kepada pendidikan, dalam menjalankan Undang-undang untuk memenuhi anggaran pendidikan sebesar 20%.

Dari sisi etimologis guru yang sering dianggap merupakan kependekan dari “seseorang yang layak digugu dan ditiru”, ini tercermin dari gagasan Ki Hajar Dewantara, Bapak pendidikan Indonesia dalam kata mutiara yang sering beliau ungkapakan “Ing ngarso sung tulado, ing madyo mangun karso tut wuri handayani” bahkan kalimat terakhir yaitu Tut wuri handayani menjadi “tag line” dari Kementrian Pendidikan Nasional.

Dari persefektif agama guru juga memiliki posisi yang sangat baik, seperti terkandung dalam firman Allah QS Al Mujadilah: 11 “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman dan berilmu diantara kalian beberapa derajat”, dalam sebuah hadits juga disebutkan “Bahwa seseorang akan terputus semua amalnya ketiaka ia mati, kecuali tiga hal, salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat”, Imam Ali Karomallahu wajhah pernah menyatakan “saya bersedia menjadi budak seseorang yang memberikan kepada saya ilmu walaupun hanya satu huruf”.

Dari sisi historis, dikisahkan bahwa ketika Hirosima dan Nagasaki dihancur leburkan oleh bom atom Amerika Serikat. Kedua kota tersebut dan Jepang secara umum merasakan kehancuran yang luar biasa.

Salah seorang pemimpin yang ada di tengah ribuan korban yang mengungsi bertanya masih adakah diantara kalian yang berprofesi sebagai guru? beberapa orang mengangkat tangan, maka ditengah kegetiran akibat kalah perang dia tersenyum dengan optimis mengatakan:

“Saya masih melihat masa depan yang cemerlang karena masih banyak diantara kita para guru yang akan mendidik anak-anak bangsa kita, saya yakin tidak harus menunggu lama kita akan bangkit dan kembali menjadi negara yang disegani di dunia!”

Terbukti Jepang merupakan negara kecil yang maju, yang  salah satu rahasianya ternyata adalah karena mereka sangat memperhatikan pendidikan sekaligus tenaga pendidiknya!

Dari perspektif manajemen, seorang ahli manajemen menyatakan “Jika anda menginginkan satu tahun kesejahteraan, maka tanamlah biji-bijian!Jika anda ingin 10 tahun kesejahteraan, tanamlah pohon!dan...jika anda ingin kesejahteraan 100 tahun, “tanamlah” manusia!(artinya perhatikan pendidikan manusia).

Kaoro Ishikawa, seorang pakar kualitas dari Jepang menyatakan bahwa “Kualitas seseorang bermula dan berakhir pada pendidikan”.

Secara sederhana dapat diartikan bahwa pendidikan bukan segalanya tapi segalanya bermula dari pendidikan! Anda jadi presiden, menteri, gubernur, bupati, camat, lurah atau apapun itu adalah jasa pendidikan dalam hal ini adalah guru!,

Bahkan Prof Dr Fuad Hasan menyatakan “di dunia ini hanya ada dua profesi yaitu guru dan bukan guru” siapapun ia selama mengajarkan, membimbing, mengarahkan kepada kebaikan dan perbaikan maka dia adalah seorang guru!.

Ibarat jalan, maka menjadi guru adalah jalan tol menuju surga, tapi perlu diingat kecelakaan justru banyak terjadi di jalan tol, karena jalan yang halus, mulus dan lurus sehingga terlena, terbuai!

Begitu juga dengan guru dalam kehidupan nyata, kalau tidak hati-hati maka guru akan jatuh ke lubang kehinaan, karena bisa berucap tapi tidak bisa menjalankan, dalam hal ini Allah secara lugas memperingatkan “Kalian perintahkan manusia berbuat baik, sementara kalian melupakan diri sendiri, apakah kalian tidak berpikir?”,

Kalau ini yang terjadi maka guru seperti calo, bahkan calo sungguhan ( calo tiket misalnya) lebih baik karena mendapatkan dari dari yang mereka kerjakan, tetapi guru yang “jarkoni” adalah “calo surga”. Karena mengarahkan, mendorong bahkan menyorong anak didiknya menuju surga sementara dirinya cukup hanya sebatas calo surga! Dan rela menghuni jahanam. Naudzubillahi min dzalik.

Dalam ayat yang lain Allah lebih tegas lagi dengan firmanNya : “Allah sangat murka kepada orang yang mengatakan tetapi dia sendiri tidak melakukan.Semoga kita bukan termasuk tipe pendidik dan pengajar yang mendapat teguran di atas.

Bahwa menjadi guru dan doesn karena sebagai sumber penghidupan untuk menafkahi keluarga, bukan merupakan suatu kesalahan tapi jangan berhenti di sini, dan jangan hanya bernuara sebatas urusan perut (ekonomi).

Imam Ali pernah menyatakan dengan sangat lantang “siapa yang hidupnya hanya memikirkan masalah perut maka dia tidak lebih baik dari apa yang keluar dari perut!,

Karena itu perlu juga diniatkan kita menjadi guru demi untuk kebaikan dan perbaikan diri sendiri, sebelum perbaikan anak didik dan pada akhirnya anak bangsa dalam arti yang lebih luas, ingat ketika kita menunjuk, maka jari yang mengarah keluar hanya satu jari tapi empat jari menunjuk ke kita. Maka sejatinya kita dahulu yang harus baik dan diperbaiki terus-menerus seperti pepatah arab “ibda bi nafsik! (mulailah dari diri sendiri).

Sebagai guru dan dosen jangan hanya berfungsi sebagi pengajar yang sering dimaknai hanya mentrasfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) tapi meningkat menjadi pendidik, yaitu mentransfer nilai (transfer of value).

Sebagai contoh ketika mengajarkan berhitung (matematika) jangan hanya bertujuan anak didik bisa berhitung tapi selain bisa berhitung(cerdas, pintar, jenius) juga bertujuan anak didik menjadi anak yang jujur (beretika, bermoral, berakhlak dan berkarakter).

Ketika menyampaikan satu tambah satu adalah dua, maka perlu diajarkaan tentang nilai, dengan menyatakan bahwa sejak hari ini (ketika anak didik belajar) bahwa satu tambah satu adalah dua, katakan sampai kapanpun dan dalam kondisi apapun satu tambah satu adalah dua, karena banyak kasus dari SD sampai Kuliah, seorang pelajar meyakini satu tambah satu dua, tapi setelah menjadi pejabat tidak demikian, satu tambah satu bisa sepuluh, sejuta, semilyar bahkan satu trilyun juga bisa.

Akhirnya. Semoga tulisanini ini memberikan sumbangsih untuk dunia pendidikan khususnya para guru dan dosen, agar tidak hanya jadi pengajar tetapi juga harus jadi pendidik, karena seperti ungkapan at-thoriqah ahammu minal maddah, wal mudarris ahammu minal manatthariqah, Waruhul mudarris ahammu minal mudarris nafsihi!

Metode lebih penting dari materi belajar namun guru lebi hpenting dari metode dan “jiwa guru” lebih penting dari guru itusendiri!.

Wallahu A’lam Bissawab

H. NASRUDIN SPdI, SE, MSI,  Dosen UniversitasMuhammadiyah Purworejo


FOLLOW SOCMED:
FB & IG: TINTAHIJAUcom
YT & Twitter: TINTAHIJAUcomop