Meskipun pada awalnya banyak komentar miring, namun dengan penjelasan yang tepat, penggemar setia dan para mantan wartawan Tabloid Monitor mulai meresapi dan menerima kembali kehadiran “M” dalam hidup mereka.
Tidak hanya para penggemar, sahabat, kerabat, wartawan, dan artis yang pernah berhubungan dengan Tabloid Monitor juga memberikan perhatian dan komentar positif. Bahkan beberapa mantan wartawan dan redaktur yang pernah bekerja di bawah komando Mas Arswendo turut serta dalam diskusi dan nostalgia mengenang masa-masa kejayaan Tabloid Monitor.
Tabloid Monitor, dengan sejarahnya yang gemilang, tidak hanya menjadi bagian dari era 80-90an tetapi juga meninggalkan jejak yang tak terlupakan dalam dunia media cetak Indonesia. Setiap mengunggah sampul muka Monitor, penulis berhasil membuka pintu nostalgia bagi pembaca, dan yang tak kalah menarik, mendapatkan ulasan khusus dari para mantan awak Monitor yang turut meramaikan perbincangan.
Mas Gunawan Wibisono, ketika itu salah seorang fotografer muda yang terlibat dalam “M” sebelumnya di tabloid “Senang” dan majalah iptek “Angkasa”, memberikan sorotan khusus terhadap foto-foto yang menghiasi Monitor. Keahlian fotografi Mas Gunawan menjadi salah satu elemen penting dalam membawa nuansa hidup pada setiap sampul Tabloid Monitor.
Tak kalah menarik, karikatur “Moni” dan Telop dengan sketsa yang menghibur merupakan karya dari Uda Aries Tanjung, sang komandan artistik. Kreativitasnya berhasil menghadirkan nuansa ringan dan lucu, memberikan kesan yang tak terlupakan pada setiap edisi Monitor.

Banyak jurnalis muda lainnya yang bergabung dengan Tabloid Monitor seperti Butet Kertarejasa, Wedha Abdul Rasyid yang terkenal illustrasi WPAP-nya, Ramadhan Syukur, Ramlan Noerokim, Yanto Bhokek, Mayong Suryo Laksono, Erwin Arnada, Syamsuddin Ch Haesy, Ricke Senduk, Widiati Kamil, Yustina Danujaya, Turluki Taningdyah, Christine Ermin, Shinta K Sari, Tammy Yonosoepoetro, Nana S Pertiwi,Yenny Wiryadi dan sederet nama lainnya. Selanjutnya ada nama Tavip Riyanto, Tavip Pancoro, Jodhi Yudono, Benny N Joewono, Ludi Hasibuan, Fathan Rangkuti, Marcel Hartawan, Arno Santosa, Atok Sugiarto, Rachmat Riyadi, Satmowi, Bujel, Harry Tjahjono dan Adrian Herlambang turut membesarkan Tabloid Monitor.
Namun, kita juga tidak bisa melupakan para tokoh yang telah meninggalkan jejaknya dalam perjalanan Monitor. Almarhum Mas Syamsudin Noer Moenadi (Alm Mas Snm), Alm Veven Sp Wardhana, dan Alm Bang Hans Miller Banurea, Alm Mas Bambang Isworo, alm Simon Pudji Widodo,Alm Djoko S dan Alm Mas Bujang Pratiko adalah beberapa di antara mereka yang dengan penuh apresiasi dan tanggapan khusus, mengenang masa-masa indah bersama Monitor.
Empat tahun yang lalu, sebelum bayangan kesehatan Mas Arswendo Atmowiloto merosot, Kin menerima pesan dari jurnalis senior, Mbak Ricke Senduk, pimpinan Tabloid Bintang dan sahabat dekat Mas Wendo. Pesannya adalah undangan untuk hadir di acara ulang tahun Mas Wendo. Namun, takdir berkata lain, karena pada hari yang sama, tepat tanggal 19 Juli, dua tahun lalu, Mas Wendo dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Pertemuan Penulis dengan Mas Wendo dimulai sejak era 80-an, melalui tulisan-tulisan inspiratifnya di Majalah Hai dan kemudian di Tabloid Monitor. Karyanya merambah ke berbagai bidang, mengulas dunia pertelevisian, radio, film, musik, dan hiburan. Melalui TVRI, serial fenomenal “Aku Cinta Indonesia” lahir, meninggalkan jejak yang abadi di hati pemirsa.





