Megapolitan

Antrean Panjang di Pelabuhan Gilimanuk, Pemudik Terjebak Macet hingga 14 Jam

×

Antrean Panjang di Pelabuhan Gilimanuk, Pemudik Terjebak Macet hingga 14 Jam

Sebarkan artikel ini
Antrean kendaraan pemudik menuju Pelabuhan Gilimanuk di Bali (dok. Polda Bali)

JEMBRANA, TINTAHIJAU.com — Arus mudik Lebaran di Pelabuhan Gilimanuk, Bali, dikeluhkan para pemudik setelah antrean kendaraan mengular hingga berjam-jam. Sejumlah penumpang bahkan harus menjalani sahur dan berbuka puasa di dalam mobil akibat kemacetan panjang.

Puncak kepadatan terjadi pada Minggu (15/3), saat ribuan kendaraan yang hendak menyeberang ke Pulau Jawa terjebak antrean hingga sekitar 14 jam. Kondisi tersebut disebut sebagai salah satu yang terparah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Di lapangan, area parkir kargo yang difungsikan sebagai buffer zone terlihat penuh oleh kendaraan. Antrean juga memanjang di jalur utama Denpasar–Gilimanuk hingga mencapai Kota Negara, sekitar 32 kilometer dari pelabuhan.

Untuk mengurangi kepadatan di jalur utama, petugas mengalihkan arus kendaraan ke gang-gang permukiman warga. Sebagian besar pemudik yang terjebak antrean diketahui sudah mulai mengantre sejak dini hari.

Salah seorang pemudik asal Banyuwangi, Siti (46), mengaku kelelahan menghadapi kemacetan panjang saat perjalanan pulang kampung tahun ini. Ia berangkat dari Denpasar bersama suaminya menggunakan mobil pribadi setelah berbuka puasa pada Sabtu (14/3).

“Saya berangkat dari Denpasar setelah buka puasa kemarin. Dan terjebak macet di sejumlah lokasi sepanjang jalur Denpasar-Gilimanuk. Dari Badung hingga Tabanan itu sudah macet,” kata Iis saat ditemui di area pelabuhan, Minggu sore sepertiyang dilansir dari laman detikTravel, Senin (16/3/2026).

Ia menceritakan baru mencapai wilayah Hutan Cekik sekitar pukul 02.00 Wita, namun laju kendaraan sangat lambat. Iis baru masuk ke kawasan perkampungan sekitar pukul 12.00 Wita dan tiba di area pelabuhan pada pukul 17.30 Wita.

“Baru tadi pukul 17.30 Wita masuk wilayah Pelabuhan Gilimanuk, di sini antre lagi mau masuk kapal. Saya sampai sahur dan buka puasa di dalam mobil. Suami karena kelelahan jadi tidak puasa. Kesulitan sekali hanya untuk cari toilet di jalur macet,” keluhnya.

Menurutnya, kemacetan kali ini merupakan pengalaman mudik paling berat yang pernah ia rasakan. Pada tahun-tahun sebelumnya, ia biasanya sudah tiba di rumah di Banyuwangi sekitar pukul 02.00 dini hari setelah berangkat usai berbuka puasa.

Hal serupa dialami Bogie (27), pengemudi freelance di Kuta yang hendak mudik ke Jember. Ia sempat mencoba jalur alternatif melalui Pupuan, Buleleng, namun tetap terjebak kemacetan di titik pertemuan arus kendaraan.

“Berangkat kemarin jam 7 malam, mutar lewat Pupuan Buleleng dan kena macet di pertigaan Cekik Gilimanuk sekitar jam 10 pagi tadi,” ujar Bogie.

Bogie yang menggunakan jasa travel untuk mudik mengaku mengalami kerugian waktu dan biaya. Uang yang dibawanya banyak terpakai untuk membeli makanan dan minuman selama menunggu antrean kendaraan bergerak.

“Uang habis hanya untuk beli makan minum selama macet saja ini. Ini saja (pukul 18.00 Wita) belum juga masuk kapal,” pungkas dia.