PANGANDARAN, TINTAHIJAU.com — Pola konsumsi masyarakat Kabupaten Pangandaran menunjukkan kecenderungan yang kontras dengan prinsip gizi seimbang. Data statistik terbaru mencatat alokasi belanja rokok dan tembakau justru lebih besar dibandingkan pengeluaran untuk sumber pangan bergizi seperti ikan, telur, dan daging.
Dikutip dari laman detikJabar, Berdasarkan laporan Kabupaten Pangandaran dalam Angka 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), rokok dan minuman beralkohol masih dimasukkan ke dalam kelompok pengeluaran makanan. Pada 2024, porsi belanja rokok dan tembakau mencapai 9,20 persen dari total konsumsi makanan, lebih tinggi dibandingkan pengeluaran untuk ikan, daging, telur, dan susu yang berada di angka 8,76 persen. Angka ini juga meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 8,81 persen.
Secara umum, rata-rata pengeluaran per kapita penduduk Pangandaran pada 2024 mencapai Rp1.367.729 per bulan. Dari jumlah tersebut, 59,22 persen atau sekitar Rp809.992 digunakan untuk konsumsi makanan, sementara sisanya 40,78 persen dialokasikan untuk kebutuhan non-makanan.
Proporsi belanja makanan ini mengalami kenaikan dibandingkan 2023 yang berada di level 55,72 persen. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa sebagian besar pendapatan masyarakat masih terserap untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Pada kelompok makanan, pengeluaran terbesar diarahkan pada makanan dan minuman jadi sebesar 15,56 persen. Disusul kelompok kacang-kacangan, buah, dan sayuran sebesar 10,51 persen, serta padi-padian dan umbi-umbian 9,59 persen. Sementara itu, pengeluaran untuk protein hewani masih tertinggal di bawah belanja rokok.
Untuk kelompok non-makanan, belanja terbesar masyarakat Pangandaran dialokasikan pada kebutuhan perumahan, bahan bakar, penerangan, dan air yang mencapai 21,45 persen. Sebaliknya, pengeluaran untuk keperluan pesta dan upacara adat menjadi yang terendah dengan kontribusi 1,13 persen.
BPS menilai tingginya porsi pengeluaran makanan menandakan tingkat kesejahteraan masyarakat yang masih relatif rendah. Namun, pada kelompok 20 persen penduduk dengan pengeluaran tertinggi, pola konsumsi mulai bergeser. Pada kelompok ini, belanja non-makanan cenderung lebih dominan, yang menunjukkan peningkatan taraf hidup serta diversifikasi kebutuhan.
Sumber: detikJabar





