SUKABUMI, TINTAHIJAU.com — Seorang bocah laki-laki berusia 9 tahun diduga menjadi korban keracunan makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. Korban terpaksa dirujuk ke RSUD Palabuhanratu setelah mengalami gejala serius usai menyantap menu MBG yang diduga mengandung tahu berjamur.
Dokter Puskesmas Simpenan, Egi, menyebut hingga Rabu (28/1/2026) malam tercatat 19 orang mengalami gejala keracunan, terdiri dari siswa dan guru. Sebagian pasien telah diperbolehkan pulang, sementara satu anak harus dirujuk ke rumah sakit rujukan.
“Update terkini jumlah pasien ada 19 orang. Yang sudah pulang ada tiga, hari ini ada satu yang dirujuk. Yang dirujuk itu pasien dengan indikasi thalasemia,” ujar Egi seperti yang dikutip dari laman detikJabar, Kamis (29/1/2026).
Pasien rujukan berinisial L kini menjalani perawatan lanjutan di RSUD Palabuhanratu. “Satu orang dirujuk ke rumah sakit Palabuhanratu. Yang masih ditangani di sini ada 15 pasien,” katanya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Masykur Alawi, menegaskan fokus utama adalah penanganan cepat terhadap korban. “Prinsipnya ketika ada kejadian keracunan makanan seperti ini, tugas kami melalui puskesmas adalah penanganan pasien. Ada tahapan-tahapan yang dilakukan,” ujarnya. Ia menjelaskan seluruh pasien langsung menjalani triase. “Pasien datang ke faskes, kemudian dilakukan triase, dipilah-pilih sesuai kondisi. Prinsip utama kami adalah life saving atau penyelamatan nyawa,” tegas Masykur.
Menurutnya, rujukan dilakukan bila pasien membutuhkan penanganan lanjutan. “Kalau menurut dokter perlu dirujuk, maka dirujuk. Saya sudah koordinasi dengan faskes tingkat rujukan di Palabuhanratu, saya sudah kontak direkturnya dan mereka siap siaga,” ungkapnya. Meski korban bertambah, status kejadian luar biasa belum ditetapkan. “Kita belum bicara dulu KLB atau bukan. Intinya kesehatan ditangani secepatnya,” katanya.
Terkait pengawasan MBG, Masykur menegaskan monitoring menjadi kewajiban dinas kesehatan setelah dapur mendapat rekomendasi laik sehat. “Prosedurnya, ketika MBG sudah mendapatkan SLHS, itu otomatis menjadi kewajiban Dinas Kesehatan untuk melakukan monitoring dan evaluasi,” jelasnya. Diagnosis sementara pasien adalah gangguan pencernaan. “Diagnosanya kemungkinan muntaber, gastritis atau enteritis akut. Jadi dari lambungnya juga, diduga akibat keracunan,” katanya. Adapun penyebab utama masih ditelusuri. “Untuk penyebab utama belum bisa dipastikan. Dugaan sementara memang dari makanan,” tutupnya.
Sebelumnya, keluarga korban menyebut menu MBG terdiri dari nugget, jeruk, sayur wortel, dan tahu yang diduga tak layak konsumsi. “Pagi tadi langsung dibawa ke puskesmas karena sudah muntah sampai enam kali,” kata Agus. Guru SD, Rahayu, mengaku menemukan tahu berjamur dan benda asing. “Pas dicek ompreng berikutnya, tahunya sudah berjamur. Saya buka lagi satu, selain berjamur, ada hekter (staples)-nya,” ujarnya.
Inspeksi mendadak juga dilakukan pihak kecamatan. Kasi Trantib Simpenan, Jamjuri, memastikan temuan bahan pangan tak higienis. “Memang benar ada tahu yang sudah berjamur. Saya langsung minta agar makanan itu tidak disalurkan karena tidak layak dikonsumsi,” katanya.





