JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Jakarta akan menjadi titik temu penting bagi komunitas Internet dunia pada Februari 2026. Ratusan pengambil kebijakan, pelaku industri, dan pakar teknologi jaringan dari berbagai negara dijadwalkan hadir dalam Asia Pacific Regional Internet Conference on Operational Technologies (APRICOT) 2026 yang digelar oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Senin (9/2/2026).
Konferensi berskala internasional ini akan menghadirkan lebih dari 900 peserta dari lebih 50 negara. Mereka berasal dari beragam latar belakang, mulai dari operator jaringan nasional hingga perusahaan teknologi global seperti Google, Amazon, dan Meta. Forum ini menjadi wadah pembahasan perkembangan terbaru teknologi jaringan Internet serta arah pertumbuhan ekosistem digital dunia.
Ketua Umum APJII, Muhammad Arif, menyampaikan bahwa keterlibatan APJII sebagai tuan rumah mencerminkan peran aktif Indonesia dalam penguatan infrastruktur dan tata kelola Internet nasional. Menurutnya, APJII secara konsisten berada di garis depan dalam mendorong transformasi digital di Tanah Air.
“Penyelenggaraan APRICOT di Indonesia menunjukkan kemajuan bersama serta kontribusi lebih dari 1.400 penyelenggara jasa Internet dalam membangun fondasi Internet yang semakin kuat dan andal,” ujar Arif dalam keterangan tertulis, Sabtu (7/2/2026).
Sejumlah tokoh ternama dijadwalkan menjadi pembicara utama, antara lain pakar keamanan siber Indonesia Budi Rahardjo, sejarawan perkembangan Internet dari Universitas Harvard Jim Cowie, serta Network Engineer Google, Jen Linkova. Kehadiran mereka menegaskan posisi APRICOT sebagai forum strategis lintas negara yang mempertemukan diskursus kebijakan, inovasi teknologi, dan praktik terbaik pengelolaan jaringan.
Direktur Eksekutif Asia Pacific Network Operators Group (APNOG) yang juga menjadi penyelenggara APRICOT, Philip Smith, menilai interaksi langsung antaroperator memiliki dampak besar bagi ketahanan Internet global.
“Forum tatap muka seperti APRICOT memperkuat hubungan antaroperator, yang pada akhirnya membuat jaringan Internet global menjadi lebih stabil dan tangguh,” kata Smith.
Pandangan senada disampaikan Direktur Jenderal APNIC, Jia Rong Low. Ia menekankan bahwa konferensi ini berperan penting dalam mendukung pengoperasian jaringan Internet yang aman dan dapat diandalkan di kawasan Asia Pasifik.
Low juga menyoroti pesatnya perkembangan Internet di Indonesia. Dalam satu dekade terakhir, jumlah pengguna Internet di Tanah Air meningkat lebih dari dua kali lipat hingga menembus angka 229 juta pengguna. Menurutnya, kepercayaan menjadi tuan rumah APRICOT mencerminkan kepemimpinan Indonesia dalam mendorong Internet yang aman dan berdaya tahan tinggi.
Dalam APRICOT 2026, peserta akan mendalami berbagai isu krusial seputar operasional jaringan Internet. Topik yang dibahas meliputi pengelolaan alamat Internet IPv4 dan IPv6, termasuk tantangan dan strategi transisi menuju sistem alamat yang lebih berkelanjutan.
Aspek keamanan routing juga menjadi perhatian utama, dengan pembahasan mengenai penerapan Resource Public Key Infrastructure (RPKI) dan Mutually Agreed Norms for Routing Security (MANRS) guna menjaga integritas jalur pertukaran data Internet.
Selain itu, konferensi ini mengulas pengelolaan tulang punggung Internet, praktik peering dan interkoneksi antaroperator, peran Internet Exchange Point (IXP), desain pusat data, hingga strategi peningkatan kapasitas jaringan. Teknologi jaringan distribusi konten, virtualisasi, otomatisasi jaringan, serta perlindungan infrastruktur digital turut masuk dalam agenda.
Sebagai bagian dari peningkatan kapasitas teknis, APRICOT 2026 juga menghadirkan tiga program MasterClass intensif, yaitu Advanced BGP, Practical Virtualization with Hybrid Strategies, serta Practical Cybersecurity for Internet Operators. Setiap kelas berlangsung selama tiga hari dengan jumlah peserta terbatas agar proses pembelajaran berjalan lebih mendalam dan interaktif.
Melalui penyelenggaraan APRICOT 2026, Indonesia tidak hanya menjadi tuan rumah pertemuan global, tetapi juga menegaskan perannya dalam membangun masa depan Internet yang aman, inklusif, dan berkelanjutan di kawasan Asia Pasifik.
Sumber: detikINET