CIREBON, TINTAHIJAU.com — Rencana Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk mengatur ulang jadwal masuk sekolah menjadi pukul 06.00 WIB menuai respons beragam dari masyarakat. Kebijakan ini rencananya berlaku untuk seluruh jenjang pendidikan, dari SD hingga SMA/SMK, dan diterapkan lima hari dalam sepekan, Senin hingga Jumat.
Sejumlah warga Kota Cirebon menyambut positif. Wulan, orang tua siswa SD, menyebut kebijakan ini dapat menumbuhkan kedisiplinan. “Anak jadi bangun lebih pagi, lebih disiplin,” ujarnya, Selasa (3/6).
Hal senada disampaikan Haryadi, orang tua siswa SMP. Meski harus berangkat lebih pagi, ia menilai kebijakan ini baik untuk pembentukan karakter anak.
Namun, tidak semua setuju. Wawan, warga Cirebon lainnya, menyebut jam masuk lebih pagi akan menyulitkan keluarga, terutama yang memiliki anak balita. “Kami harus berbagi waktu mengurus anak kecil juga,” tuturnya.
Dari pihak sekolah, Kepala SMPN 1 Cirebon, Lilik Agus Darmawan, menyatakan kesiapan mengikuti kebijakan tersebut. Ia menilai siswa di kawasan perkotaan lebih mudah menyesuaikan karena jarak tempuh ke sekolah relatif dekat. Meski demikian, ia menekankan pentingnya sosialisasi kepada orang tua dan siswa.
Sementara itu, Neni, guru SMPN 16 Cirebon, juga menyatakan dukungannya. Ia mengusulkan agar akhir pekan digunakan untuk kegiatan pengembangan keterampilan hidup. “Anak bisa belajar dari aktivitas orang tua, seperti berdagang atau bertani,” katanya.
Kebijakan ini masih menunggu penerapan resmi, namun diskusi publik terus bergulir seiring munculnya suara pro dan kontra dari masyarakat dan tenaga pendidik.