JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, umat Islam di Indonesia mulai bersiap menyambut ibadah puasa. Sejumlah lembaga keagamaan telah merilis perkiraan awal Ramadan 2026, meski penetapan resminya masih menunggu hasil sidang isbat pemerintah.
Perbedaan penentuan awal puasa kembali muncul antara Muhammadiyah, pemerintah melalui Kementerian Agama, dan Nahdlatul Ulama (NU). Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh metode yang digunakan masing-masing institusi, baik hisab maupun rukyatul hilal.
Pemerintah dijadwalkan menggelar sidang isbat pada 29 Syakban 1447 H atau bertepatan dengan 17 Februari 2026. Sidang ini akan menggabungkan hasil perhitungan astronomi dan pengamatan hilal di berbagai titik pemantauan sebelum menetapkan awal Ramadan secara resmi. Sementara itu, pemerintah telah menetapkan libur nasional Idul Fitri 1447 H pada 21–22 Maret 2026 berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri Nomor 1497, 2, dan 5 Tahun 2025.
Hingga kini, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama belum mengumumkan secara resmi awal puasa Ramadan 2026. NU menggunakan metode Hisab Imkanur Rukyah Nahdlatul Ulama (IRNU), yakni perpaduan perhitungan astronomi dan rukyatul hilal dengan kriteria visibilitas global. Seperti pemerintah, NU akan melakukan rukyatul hilal pada 29 Syakban 1447 H. Secara umum, keputusan NU kerap sejalan dengan pemerintah karena sama-sama merujuk pada kriteria MABIMS.
Sementara itu, Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan awal Ramadan. Berdasarkan Maklumat Majelis Tarjih dan Tajdid Nomor 2/MLM/I.0/E/2025, 1 Ramadan 1447 H ditetapkan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini menggunakan metode Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang berbasis hisab hakiki tanpa menunggu pengamatan hilal.
Muhammadiyah menyebutkan, ijtimak terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12.01.09 UTC, dengan parameter visibilitas hilal global telah terpenuhi. Dengan perhitungan tersebut, puasa Ramadan berlangsung selama 30 hari dan berakhir pada Kamis, 19 Maret 2026. Idul Fitri atau 1 Syawal 1447 H menurut Muhammadiyah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Adapun pemerintah melalui Kementerian Agama memperkirakan awal puasa Ramadan 2026 jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Perkiraan ini mengacu pada Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang menggunakan kriteria MABIMS, yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
Perbedaan penetapan awal Ramadan tersebut mencerminkan keragaman metode penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia. Sambil menunggu keputusan sidang isbat, umat Islam diimbau mempersiapkan diri secara lahir dan batin untuk menyambut bulan suci Ramadan, dengan tetap menjaga persatuan dan saling menghormati perbedaan.
Sumber: Okezone



