BANDUNG, TINTAHIJAU.com — Manajemen KAI Services menyampaikan permohonan maaf kepada publik menyusul dugaan penyalahgunaan data pribadi penumpang oleh oknum karyawan. Kasus tersebut mencuat setelah viral di media sosial X, terkait keluhan seorang penumpang perempuan yang dihubungi pria tak dikenal melalui nomor telepon pribadinya.
Korban menduga nomor telepon yang terhubung dengan akun WhatsApp miliknya diperoleh secara tidak sah. Pasalnya, ia mengaku tidak pernah membagikan nomor tersebut kepada pihak lain selain keluarga. Dugaan penyalahgunaan data pribadi itu memicu perhatian publik dan memunculkan kekhawatiran terkait keamanan data penumpang kereta api.
Menanggapi peristiwa tersebut, Manager Corporate Communication KAI Services, Nyoman Suardhita, menegaskan bahwa tindakan mengakses dan menyalahgunakan data pribadi penumpang merupakan pelanggaran berat terhadap kode etik perusahaan.
“Kami meminta maaf atas kejadian ini yang tidak mencerminkan nilai-nilai perusahaan dan merupakan pelanggaran privasi yang tidak dapat kami toleransi,” ujar Nyoman, Jumat, 9 Januari 2026, seperti dikutip dari laman resmi KAI Services.
Sebagai bentuk tanggung jawab dan komitmen menjaga kepercayaan pelanggan, KAI Services mengambil empat langkah tegas. Pertama, memanggil oknum karyawan yang diduga terlibat untuk menjalani pemeriksaan intensif serta menjatuhkan sanksi disiplin sesuai ketentuan perusahaan. Langkah ini diambil guna memberikan efek jera.
Kedua, manajemen melakukan komunikasi langsung dengan korban untuk menyampaikan permohonan maaf secara personal. Pertemuan tersebut turut dihadiri Direktur Utama KAI Services Ririn Widi Astutik beserta jajaran, serta Vice President Customer Care PT KAI (Persero) Dian Angraeni, sekaligus membahas langkah penyelesaian yang diperlukan.
Ketiga, KAI Services melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem akses data operasional. Keempat, perusahaan memberikan edukasi ulang kepada seluruh petugas frontliner terkait penerapan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP).
Nyoman menegaskan, perlindungan data pribadi pelanggan menjadi prioritas utama perusahaan. Ia memastikan pengawasan di lapangan akan diperketat untuk mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari.
“Kami berterima kasih kepada masyarakat yang telah memberikan kritik dan masukan demi perbaikan layanan kami,” tuturnya.
Sebelumnya, seorang wanita mengungkapkan pengalaman tidak menyenangkan tersebut melalui akun X @olivehateem_ pada Rabu, 6 Januari 2026. Ia mengaku insiden bermula saat melakukan perjalanan kereta api seorang diri pada akhir Desember 2025. Korban merasa terganggu oleh penumpang pria di sebelahnya yang terus mengajak berbincang.
Kecurigaan muncul ketika pria tersebut tiba-tiba menyebut nama depan korban dan menanyakan usia secara spesifik, padahal korban tidak pernah menyebutkan identitas pribadi selama percakapan berlangsung. Korban kemudian menduga pria tersebut memiliki akses terhadap data pribadinya sebagai penumpang kereta api dan langsung menegur tindakan tersebut.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya perlindungan data pribadi serta pengawasan ketat terhadap akses informasi pelanggan, khususnya di sektor layanan publik.




