MAKASSAR, TINTAHIJAU.com — Perwakilan lima keluarga korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, dijadwalkan menjalani pengambilan sampel untuk tes DNA di Biddokkes Polda Sulsel, Senin (19/1/2026). Proses ini merupakan bagian dari tahapan identifikasi korban kecelakaan pesawat nahas tersebut.
Pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan itu mengangkut 10 orang, terdiri atas tujuh kru dan tiga penumpang atau persons on board (POB). Tiga penumpang diketahui merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), masing-masing Ferry Irawan, Deden Mulyana, dan Yoga Naufal.
Sementara itu, tujuh kru pesawat terdiri atas pilot Captain Andi Dahananto, copilot Muhammad Farhan Gunawan, serta kru Hariadi, Restu Adi, Dwi Murdiono, Florencia Lolita, dan Esther Aprilita.
Berdasarkan laporan tim jurnalis KompasTV, Linda Wirawan dan Arief Tirtana, dalam program Breaking News Senin, perwakilan keluarga yang akan menjalani pengambilan sampel DNA hari ini meliputi keluarga Deden Mulyana; kakak dan tiga anak Ferry Irawan; istri Yoga Naufal; istri dan anak Captain Andi Dahananto; serta keluarga Restu Adi. Meski demikian, pihak berwenang belum memastikan jam kedatangan masing-masing perwakilan keluarga tersebut.
Sebelumnya, pada Minggu (18/1) malam, sejumlah keluarga korban telah lebih dulu mendatangi posko ante mortem Biddokkes Polda Sulsel. Mereka antara lain orang tua Esther Aprilita, keluarga Florencia Lolita, keluarga Dwi Murdiono, serta adik kandung copilot Muhammad Farhan Gunawan.
Dengan kedatangan keluarga hari ini, total perwakilan keluarga korban yang telah dan akan menjalani proses ante mortem di Biddokkes Polda Sulsel mencapai sembilan perwakilan. Sementara itu, satu keluarga korban lainnya belum diketahui waktu kedatangannya.
Kepala Biddokkes Polda Sulsel, Kombes Pol Muhammad Haris, sebelumnya mengungkapkan bahwa keluarga Muhammad Farhan Gunawan telah menjalani pengambilan sampel DNA di Posko Ante Mortem. Sampel tersebut diambil dari Haerul Gunawan, adik kandung korban.
“Hari ini ada satu orang yang secara aktif mendatangi posko DVI Biddokkes dengan memberikan keterangan tentang hubungannya dengan bersangkutan, termasuk diambil sampel DNA-nya,” ujar Muhammad Haris kepada wartawan di Makassar, Minggu (18/1).
Proses identifikasi melalui tes DNA diharapkan dapat mempercepat kepastian identitas para korban, sekaligus membantu keluarga memperoleh kejelasan atas musibah yang terjadi.




